Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 64


__ADS_3

"Arumi?"


"Ran."


Perempuan yang sedang mencicipi teh herbal itu menengok, menatap kekasihnya yang baru saja datang. "Dari mana saja kau?"


"Olahraga, aku berlari di sekitaran Mansion untuk mendapatkan sedikit keringat."


"Apa tanganmu sudah membaik?"


"Tentu saja, berkat ciuman mu, ini sembuh dengan cepat."


Randika meraih kursi dan duduk di samping Arumi, pria bermanik hitam itu menatap lamat wajah tunangannya hingga akhirnya memberi satu kecupan pada pipinya yang sedikit terasa dingin karena hembusan angin musim gugur.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Minum teh."


"Itu saja?"


"Aku sedang mendengar burung-burung kecil itu bernyanyi. Suaranya cukup bising, tapi aku menikmatinya."


"Kau ingin aku menangkap mereka untukmu?"


"No! Biarkan mereka hidup bebas, mereka akan tersiksa di sangkar jika tertangkap."

__ADS_1


"Baiklah."


Randika menengok menatap Arumi yang sedang asyik melihat burung-burung yang beterbangan mengitari beberapa pohon mapel yang tumbuh di halaman belakang. Hatinya bertanya-tanya, bisakah gadis bermanik cokelat ini tetap berada di sampingnya jika tahu apa yang terjadi? dia butuh kasih sayang, dekapan juga kehangatan. Kehilangan sosok terpenting memang sangat menyakitkan.


Dalam hatinya dia berjanji, setelah semua ini selesai, dia akan benar-benar menebus dosanya dan tetap berada di samping Arumi. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.


"Ran, aku harus mandi."


"Baiklah, setelah itu kita sarapan bersama."


Jawaban Randika tidak membuat wanita itu langsung beranjak pergi, dia melangkah dan memberi pelukan untuk Randika. Pria itu peka apa yang terjadi pada Arumi. "Aku tidak pernah menginginkan hubungan kita akan seperti ini."


"Di peluk oleh ku?"


Pria bertubuh semampai itu mengusap punggung tangan Arumi, memberi kehangatan pada ujung jemarinya yang terasa sedikit dingin. Suhu saat musim gugur cenderung ke dingin, karena sinar matahari tidak berlangsung lama dan cuaca cenderung gelap.


Di kanada, jika musim gugur berlangsung sering terjadi hujan namun, tidak lebat. Dan saat ini masih awal musim gugur, banyak kabut yang muncul di pagi hari.


"Ada apa, kau terlihat bingung."


"Rumi, aku ...."


Raut wajah Randika membuat Arumi kembali menggigit bibir bawahnya, dia menarik napas dalam. "Kenapa? kau tidak berencana kembali lagi bersama Evanya bukan?"


Nama yang ingin sekali Randika lupakan saat ini. Fakta bahwa dulu dia mengatakan memiliki ruang khusus di hatinya untuk Evanya dan Arumi, kenyataannya kini hanya ada Arumi di sana. Bagaimana perempuan itu mengisi seluruh jiwanya.

__ADS_1


"Apa kau akan mengijinkannya?"


Arumi berhenti memandangi tajam wajah Randika. "Kau benar-benar akan kembali padanya? lalu bagaimana dengan ku, apa kau akan membuang ku setelah kekasihmu kembali?... begitukah!"


"Rumi."


"No, jangan menyentuh ku."


"Rumi!"


"Kau menyakitiku!"


"Rumi, s'il vous plait je vous en prie, ce n'est pas ce que vous pensez. (tolong aku mohon, ini tidak seperti yang kau bayangkan.)"


"Non, ne me touche pas. (Tidak, jangan menyentuhku.)


"Dengarkan penjelasanku Arumi, aku mohon."


"Tidak perlu." Arumi berjalan mendahului Randika.


"Arumi!" Randika berteriak sekerasnya, berharap Arumi akan berbalik dan mendengarkan penjelasannya. Namun, wanita bermanik cokelat itu mengabaikan suara tunangannya. Dia berjalan menyusuri lorong belakang melewati dinding kaca yang berjejer panjang dengan kesakitan di dalam hatinya.


Arumi membuka pintu kaca yang menghubungkan ruang utama dengan halaman belakang lalu berlari manaiki tangga. Tepat setelah dia menutup pintu kamar, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dia menangis dalam diam, duduk bersimpuh di balik pintu memeluk kedua kakinya.


Saat ini dia berharap Rilan dan Brian ada di sini, merentangkan tangan untuk memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2