Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 42


__ADS_3

Arumi memandang pantulan dirinya dalam cermin besar setinggi ukuran tubuhnya. Gaun berwarna biru gelap menempel dengan pas pada tubuhnya. rambut cokelat panjangnya di biarkan tergerai begitu saja. Tak lupa poni sebatas kening yang selalu membuat tampilannya terlihat seperti remaja yang baru saja masuk ke sekolah menengah atas.


Gadis cantik milik Tuan muda dari keluarga Garret itu memang sangat menyukai dandanan ala korea yang terkesan Natural. Di tambah lagi dengan bibir tipisnya yang berbalut lipstik ombre membuat dia lebih percya diri untuk berada di samping Randika. Pemilik manik cokelat itu keluar dari kamarnya dan langsung di sambut seruan pujian dari Minora dan Grassy.


"Wow ... Nona, anda terlihat sangat cantik," puji Minora.


"Benar, malam ini anda sungguh berbinar," sambung Grassy.


Arumi memberikan senyum tipis kepada kedua pelayannya lalu mendekati Randika yang sedari tadi sudah menunggu. "Apa aku terlalu lama?"


"Ti-tidak," jawabnya gugup.


"Shit, dia sangat cantik," gumam Randika dalam hati.


Senyum Arumi mengembang. "Kau gugup."


Randika berdiri dari duduknya, menyentuh rambut panjang Arumi yang tergerai dengan jemarinya. "Itu karena kau yang terlalu cantik."


"Apa kita akan semalaman di sini," ujarnya memberi kode agar segera berangkat.


Randika terkekeh dia menggenggam tangan Arumi dan menciumnya "Kecantikanmu mengalihkan pikiranku. Ayo kita berangkat."


"Bukankah kita harus menunggu kak Rilan dulu?"


Randika menggeleng "Rilan akan berangkat terpisah. Malam ini dia akan hadir sebagai sahabatku."


"Begitukah."


Randika merentangkan tangan kanannya meraih jemari Arumi kembali. "Ayo Sayang, jangan sampai kita terlambat."


Arumi tersenyum. "Tentu saja."

__ADS_1


Malam hari ini sangat spesial bagi Arumi. Ini adalah hari dimana pembuktian cinta Randika padanya. Dia akan memperkenalkannya pada semua orang di pesta itu, tentu saja satu kebanggaan untuk gadis berponi itu.


Butuh 30 menit untuk bisa sampai pada tempat yang dimaksud. Pria berjas itu turun dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Kerlab-kerlib lampu dan banyaknya mobil yang berjejer dengan orang-orang asing menyambut penglihatannya.


Ternyata pesta reuni itu di adakan di tempat Brian. Arumi sedikit menggigil mengingat ada kenangan yang sulit dia lupakan terjadi di tempat ini. Gadis itu menggenggam erat lengan kekasihnya seakan tidak ingin dia menjauh.


"Kau baik-baik saja?" tanya Randika saat merasakan jemari Arumi bergetar.


"Aku sedikit gelisah. Bisakah aku menunggumu di mobil saja."


"Mana mungkin Sayang. Acaranya akan berlangsung lama dan tidak mungkin aku meninggalkan mu sendirian di sini."


"Biarkan aku menghirup sedikit udara," pinta Arumi.


"Ran?"


"Rilan."


Sahabat karibnya itu sudah tiba sedari tadi. Dia menjabat tangan dan memeluk erat tubuh Randika memberikan salam persahabatan yang biasa mereka lakukan dulu. Setelah sekian lama ini adalah hal yang jarang terjadi.


"Dia sedikit tegang."


"Apa kau masih mengingat kejadian itu Rumi," ujarnya mengelus lembut puncak kembali adik perempuannya.


Arumi mengangguk pelan. "Aku sedikit takut."


"Tentang?"


"Kehadiranku akan mengganggu beberapa mata di dalam sana."


"Itu hanya perasaanmu saja," ujar Randika melangkah dari samping sahabatnya.

__ADS_1


"Kau dengar. Kekasihmu ada di sini. Tidak akan ada yang bisa mengganggumu."


Wanita itu terdiam cukup lama. Tidak terpikirkan dia akan kembali pagi ke tempat ini. Mungkin tidak sopan jika dia meminta untuk kembali. Akhirnya dia putuskan untuk tetap ikut masuk bersama kedua pria yang sangat di kaguminya itu.


"Apa kita harus kembali," tanya Randika.


Arumi menggeleng raut wajahnya kembali ceria. Dia bergegas meraih tangan kedua pria itu dan mengajak mereka untuk masuk.


"Kau tidak perlu menggandengnya Sayang, cukup aku saja," ujarnya cemburu.


Rilan berdecak kesal "Yah, genggam erat tangannya, jangan biarkan siapa pun mendekatinya."


"Tentu saja."


"Tetap di dekatnya, apapun yang terjadi jangan pernah menjauh dari sisinya," bisik Rilan pada Arumi saat ketiganya akan melangkah.


Arumi yang melihat perubahan wajah Rilan setelah berbisik membuatnya sedikit menegang. Raut wajah Rilan seakan menahan ketakutan. Gadis itu mencoba bertanya dengan menggunakan bahasa tubuh, tapi Rilan malah menjawabnya dengan bisikan yang membuatnya semakin bingung.


"Ikuti semua yang ku katakan. Kau mengerti."


"Whay?"


Rilan mengangkat bahu kemudian berbisik lagi "Karena seperti itu aturannya."


Tubuh Arumi menegang dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya kemudian berubah menjadi senyuman kaku saat punggungnya di sentuh oleh pria yang dia cintai.


"Dia sedikit aneh," gumamnya pelan.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan vote kalian like dan komentar yah gays. itu akan membuat aku semakin semangat untuk up. 💜😋


__ADS_2