Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 54


__ADS_3

"Quebec, Kanada.


.


.


Brian yang berada di sekitar kafe miliknya memutuskan untuk melihat keadaan pria itu. Dia cukup tahu ke mana tempat yang akan di datangi sahabatnya jika sedang ada masalah. Di dalam hati dia berharap tidak menemukan-nya sedang berduaan dengan Evanya.


"Ran?"


Pria itu memanggil-manggil mengingat tempat ini privasi dan hanya ada dua orang bartender yang selalu berjaga.


"Apa Randika kemari?"


"Di sana."


Brian melangkah menuju arah yang di tunjuk salah saru bartender. Dia mencari di balik kursi-kursi yang tersusun rapih, hingga matanya melihat pria yang sedang merokok di lantai dengan botol alkohol yang berhamburan di mana-mana.


"Kau minum sebanyak ini?"


"Sedang apa kau di sini."


"Mungkin kau butuh teman."


"Aku tidak butuh!"


"Kau tahu, Rilan dan Arumi hanya menuruti perintah Jenny."


Randika tertawa hambar mendengar penjelasan Brian. Dia mengambil botol alkohol yang masih penuh dan meneguknya sampai habis.


"Pulanglah, dia mengkhawatirkanmu."


"Jika begitu, harusnya dia tidak merahasiakan-nya dari ku."

__ADS_1


"Kau akan membuatnya semakin merasa bersalah jika melihatmu seperti ini."


"Aku tahu."


Brian tersenyum miring, merasa legah karena dia masih memikirkan Arumi. "Aku pikir kau menemui wanita gila itu untuk melepas amarahmu."


"Berhenti membicarakan-nya dan temani aku minum."


****


Sementara itu di Mansion, Arumi sedang menunggu Randika kembali, tubuh mungilnya meringkuk di sofa membiarkan Angin musim gugur menyapunya. Hingga dia terbangun di tengah malam dia masih belum mendapati sosok Randika, hanya ada Minora yang datang membawa selimut tebal untuknya.


"Maaf menganggu tidurmu Nona."


"Merci. (Terima kasih.)" Arumi menutupi dirinya dengan selimut yang di berikan pelayan-nya. "Apa Randika sudah kembali?"


"Tuan muda belum kembali Nona."


Evanya mendesah. Dan itu semakin membuat Minora khawatir. Sudah pukul empat dan Nona mudanya masih setia menunggu kedatangan Kekasihnya. Dia merapikan selimut agar Arumi bisa lebih nyaman dan tidak kedinginan.


"Tidak."


"Apa anda butuh teman bicara?"


Arumi tersenyum. "Lanjutkan saja tidurmu Minora. Aku baik-baik saja."


"Aku rasa lebih baik anda kembali ke kamar Nona, di sini sangat dingin."


Arumi menarik napas dan kembali mendesah. "Apa aku terlihat menyedihkan?"


"Maaf bukan maksudku, aku hanya ...."


"Jangan katakan kau kasihan padaku."

__ADS_1


Minora menunduk pelan takut Arumi akan memarahinya. "Aku hanya tidak ingin anda terluka Nona."


Arumi terkekeh, lalu mendekap selimutnya. Angin yang semakin bertiup kencang membuat wanita cantik itu sedikit menggigil. "Kau wanita baik hati."


"Kau majikanku, sudah sepantasnya aku peduli padamu."


"Istirahlah Nona."


"Pergilah, bukankah besok kau harus bekerja lagi? Claudia akan marah jika kau terlambat bangun."


"Aku berada di kamarku jika anda membutuhkan sesuatu Nona."


"Baiklah."


Arumi terdiam di tempatnya saat Minora pergi. Wanita dengan manik cokelat itu memandangi Minora yang semakin menjauh darinya, hingga punggung wanita itu menghilang di balik dinding. Wanita itu membatin dengan air mata yang terus jatuh.


"Apa yang harus aku lakukan Minora, semua ini membuat ku lelah."


Arumi pun terlelap dengan di temani angin musim gugur dan gelapnya malam Kota Quebec. Kehilangan komunikasi dengan Randika memang membuatnya lemah, dia tidak ingin semuanya berakhir. Terlepas dari semua salah paham ini, dia ingin hubungan-nya dengan Randika baik-baik saja.


Matahari mulai masuk dari sela-sela jendela dan jatuh tepat pada wajah cantik gadis berusia 23 tahun itu. Waktu menunjukan jam enam pagi. Arumi membuka matanya dia mantap Randika yang tidur di sampingnya tanpa baju, membuat Arumi bisa melihat jelas otot tubuh pria yang menjadi kekasihnya.


Dia berada di tempat tidur dan Randika berada di sampingnya. Itu artinya Randika memindahkan-nya. Tangan Arumi terangkat hendak menyentuh pipi kekasihnya. Namun, Randika lebih dulu membuka mata membuat dia mengurungkan niatnya.


"Kau sudah bangun?"


"Apa kau yang memindahkan ku ke kamar?"


"Hmmm."


Pria itu bangkit, memakai bajunya dan berlalu begitu saja. Namun sebelum melewati pintu langkah kakinya terhenti.


"Lain kali jangan menunggu ku."

__ADS_1


"Aku mengerti."


__ADS_2