Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 26


__ADS_3

Bintang sudah menampakan dirinya dengan sangat banyak saat Arumi dan Randika memutuskan untuk kembali


"Hari sudah mulai gelap sebaiknya kita kembali," ujar Arumi canggung.


Randika berdecak kesal saat Arumi beranjak dan menuruni bukit tanpa menunggunya. "Apa pernyataan cintaku tadi di tolak?"


"Arumi kau menolak ku?"


"Aku tidak mengerti apa maksudmu Randika."


"What?"


Pemilik manik hitam itu menyapu rambutnya dengan kasar, dia sangat kesal juga malu karena perasannya di abaikan oleh wanita itu. Untuk mengatakannya saja dia butuh keberanian yng cukup tapi wanita itu.


"Argghhh."


*


*


*


Mustang hitam itu berhenti tepat di depan Mansion yang megah. Keduanya tiba di Mansion dengan kebisuan. Pembahasan tentang menikah pun hilang begitu saja karena sepanjang perjalanan kembali, Arumi sama sekali tidak mengeluarkan sepata katapun. Dia bahkan pura-pura tertidur untuk menghindari percakapan, padahal Randika sudah menyiapkan kata-kata yang begitu manis untuk dia ungkapkan.


"Bienvenue jeune maître, mademoiselle," sambut Claudia.


"Claudia, siapkan aku makanan aku sangat lapar."

__ADS_1


"Oui Monsieur," ucapnya sedikit merunduk. "Apa Nona juga mau aku siapkan Air hangat?"


"Tidak, merci."


"Bien, Madame."


Arumi pun bergegas menuju kamar untuk beristirahat, perjalann yang jauh tadi membuatnya sedikit pusing, ditambah sepanjang perjalanan pulang dia banyak memikirkan tentang sikap Randika yang tiba-tiba saja berubah sangat manis.


Randika selesai dengan Ritual mandinya. Dia berniat turun untuk menyantap makan malamnya bersama Arumi, perjalanan yang memakan satu hari membuat perutnya sangat kosong. Namun saat makan malam sudah siap, wanita pemilik wajah imut itu belum juga nampak.


"Apa dia tidak lapar?"


"Apa anda menunggu Madame Arumi?"


"Ya, panggkan dia. Aku ingin kita makan bersama malam ini."


"Pusing? kenapa tiba-tiba, bukankah tadi baik-baik saja," ujar Randika bingung.


"Saya tidak tahu Monsieur."


"Baiklah biarkan dia istirahat."


"Apa dia sengaja menghindari ku?"


Randika melanjutkan makan malamnya tanpa Arumi, dia beranjak memuju kamar Arumi setelah selesai dengan makanan-nya. Lampu kamarnya masih menyala tapi, wanita itu tidak terlihat di kasurnya.


Mata Randika berputar mencari sosok gadis pembangkang itu hingga matanya berhenti pada sudut ruang dimana sebuah sofa diletakan. Arumi tertidur di sana dengan sangat pulas.

__ADS_1


"Apa kau kelelahan? tidurmu sangat pulas."


Randika mengelus lembut pada pipi Arumi, hingga membuatnya sedikit bergeliat. Ada rasa hangat yang muncul di ujung hatinya, entah kenapa tiba-tiba dia seperti terhipnotis dengan Arumi. Wajah polos wanita berambut ikal itu sangat cantik saat tidur membuatnya sekali lagi ingin merasakan bibirnya.


"Apa kau tahu kalau aku serius mengataknnya tadi? kenapa kau mengabaikan ku."


Randika mengambil selimut untuk menutupi wanita itu, dia ingin sekali membawa Arumi ke dalam pelukannya tapi, jika dia terbangun maka perang akan di mulai. Bisa jadi semua barang di kamar ini menempel pada tubuhnya karena di lempari Arumi. Dia terkekeh membayangkan semua itu.


*


*


Mansion begitu hening suara langkah kakinya Randika menggema dengan keras. Dia melangkah kembali ke kamarnya, merebahkan diri di atas kasur empuk miliknya. Selama dua minggu ini banyak sekali yang mengganggu pikirannya. Dan ini adalah kali pertama dia merasakan hal yang berbeda ketika mendekati wanita.


Apakah benar keputusannya menerima perjodohan ini adalah yang terbaik, ataukah salah. Randika mengambil secarik kertas yang di atasnya tertulis beberapa syarat yang dia ajukan pada Arumi. Aksa-nya membancang kalbu untuk tidak bersendu.


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini," ujar Randika menekuk dahi.


Randika mengambil ponsel yang sengaja dia simpan di nakas sebelum tidur semalam. Sorot matanya menyipit saat melihat banyak panggilan tidak terjawab, dan beberapa pesan yang masuk pada layar berukuran enam inci itu. Dahinya kembali berkerut saat melihat ada lima belas panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal.


"Siapa yang tidak punya kerjaan menelepon sebanyak ini?"


Semalam, saat acara pertukaran cicin akan dimulai, Randika sengaja memberi mode diam pada ponsel nya, agar tidak terganggu. Makanya pesan serta panggilan misterius itu tidak dia ketahui sama sekali. Randika kemudian mengotak-atik angka pada layar ponsel nya dan menghubungi seseorang di luar sana.


"Cari tahu siapa orang dibalik nomor yang baru saja aku kirimkan untukmu," kata Randika.


"Baik Tuan," jawab seseorang di seberang sana.

__ADS_1


__ADS_2