
"Bicara dengan siapa tadi, sepertinya serius?"
"Tidak! hanya salah satu pelangganku. Dia ingin memesan tempat untuk berpesta," ujar Brian berbohong.
"Wow ... jadi kita akan berpesta gratis di sini."
"Dasar!"
"Ah yah, kita sambung lagi nanti ada hal penting yang harus aku bahas dengan sahabatku. Sampai nanti," ujar Brian untuk seseorang di seberang teleponnya.
"Jangan matikan teleponnya Brian. biarkan saja. aku mohon, sebentar saja. Aku hanya ingin mendengar suaranya. Letakkan ponselmu dengan hati-hati agar dia tidak tahu," pinta Evanya.
"Ada apa? kau terlihat aneh sejak aku datang. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku," tanya Randika dengan raut wajah penasaran.
"T-tidak, tidak ada apa-apa," jawab Brian cepat. Dia benar-benar gugup sekarang. Evanya membuat dia harus berbohong lagi kepada Randika. "Dan sendiri, Sedang apa di jam seperti ini datang ke tempatku," tanya Brian mengalihkan pembicaraan.
"Suasana hatiku sedang baik, jadi Aku datang untuk mengajakmu minum," jawab Randika dengan tersenyum.
"Baiklah, tapi di mana pengawal berwajah datar mu itu," tanya Brian lagi.
"Jangan membahasnya," sela Randika bermasam ria.
"Apa kalian bertengkar lagi," ujar Brian setengah tersenyum.
"Entahlah, aku hanya sedang jengkel padanya."
"Tidak baik berlama-lama marah, itu akan merusak saraf wajahmu," ucapnya
"Pffff. Brian ... Brian .... apa kau Gila, mana ada bertengkar dengan teman bisa merusak saraf wajah." Evanya terkekeh dengan tangan menutup mulut takut suaranya akan terdengar oleh Randika.
__ADS_1
"Saraf wajah?"
"Iya .... Saraf wajah. kau akan terlihat jelek kawan."
"Kau sedang membodohiku," ujarnya dengan melotot.
Brian terkekeh melihat ekspresi Randika yang kebingungan dan merajuk membuat dia geli. "Kau punya otak yang lamban rupanya," lanjut Brian masih terkekeh.
"Ah sudalah. berhenti mengatakan hal bodoh. Aku ingin mendengar pendapatmu tentang ini," balasnya.
"Apa?"
"Apa artinya jika seseorang marah tanpa alasan."
"Maksudmu kau sedang marah sekarang! pada siapa? Rilan Atau Arumi," tanya Brian dengan menyondongkan badannya ke depan.
"Dua-duanya," jawab Randika dengan memalingkan wajah.
"Kau sedang cemburu?" tanya Brian dengan perangai menggoda.
Dahi Randika langsung berkerut. "Apa terlihat?"
"Baiklah. ini kesempatanku untuk membuat Evanya menyerah. Semoga saja dengan ini dia tidak akan datang ke Kanada dan mengganggu hubungan Randika dan Arumi. aku tidak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya." gumam Brian di dalam hati.
"Sangat terlihat jelas di sana jika kau cemburu kawan. Tapi kenapa kau harus marah pada Rilan? apa Arumi--"
"Tidak benar!" sanggah Rilan yang tiba-tiba saja muncul.
"Rilan!" pekik Brian kaget.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini," keluh Randika dengan ekspresi masam.
"Kau mau memecatku lagi, atau mau mengusirku dari sini?" tanya Rilan setengah tersenyum.
"Jika kau bukanlah sahabatku sudah aku pecat kau dari dulu," teriak Randika kesal.
"Dari dulu atau dari saat cinta itu tumbuh," ejek Rilan
"Apa maksudmu?" sahut Randika.
"Kau yang sudah Jatuh cinta kepada Arumi Ran, bukan Aku. Dan Aku, tidak akan pernah merebut cinta sahabatku. Tidak akan pernah. Jadi buanglah rasa penasaran dan cemburu mu itu," ujar Rilan.
"Jangan konyol Rilan, Aku tahu kau menyukai Arumi. Sorot matamu padanya itu berbeda," sela Randika.
"Berbeda apanya! Aku menganggap Arumi sebagai adikku, jelas tatapanku berbeda dengan kau yang memandangnya sinis," ketus Rilan.
"Sinis! maksudmu aku sinis?" ha yang benar saja. Semua orang selalu terpesona dengan tatapanku, kenapa kau malah mengatakan aku sinis," teriaknya mulai kesal.
"Sudahla Ran, berdebat denganmu akan selalu berakhir kalah," ujar Rilan menyerah.
"Heii ... jaga gaya bicaramu."
"Ada apa dengan gaya bicaraku, apa kau ingin berkelahi."
"Ada apa dengan kalian, seperti anak kecil saja. Bertengkar mulu bocah."
"Diam Kau!" seru keduanya.
"Ha! Kenapa aku merasa diriku yang paling sial di sini. Tidak ada satu pun yang mau berdebat untuk ku," ujarnya dengan memutar bola mata. " Evanya ... apa dia masih di sana?"
__ADS_1