
Manik cokelat itu perlahan membuka matanya rasa sakit masih menghiasi tubuhnya, terlebih hatinya. Setelah mendengar kenyataan tentang kematian kedua orang tuanya Arumi hampir tidak bisa memejamkan mata, dia terus saja memaksa dirinya untuk menrima semuanya dengan ikhlas. Namun, ternyata cukup sulit untuknya mendapati kenyataan bahwa Evanya adalah penyebab kematian kedua orang tuanya dan pria yang sangat dia cintai terlibat dalam kejadian itu.
Entah siapa yang harus dia benci, dan kenapa tidak dari awal kenyataan ini di ungkapkan. Apakah karena Randika adalah anak sahabat mendiang ayahnya? atau kah karena tidak ingin Arumi membenci anak dari sahabat ayahnya, atau kah? Ah sudahlah, keadaan ini semakin membuat rumit hati gadis pemilik manik cokelat itu.
Dari rasa benci menjadi cinta, kemudian berubah menjadi canggung. Sunggu kehidupan ini sangat tidak adil di rasanya. Namun, tetap harus dia lalui.
Arumi berusaha untuk duduk, menatap jam yang menunjukan pukul 4 dini hari. Matanya beralih pada sosok pria yang meringkuk kedinginan di sofa, memaksanya untuk melangkah tertatih menuju sosok itu untuk di selimuti.
Arumi menahan rasa sakit di kakinya, dia terus melangkah hingga terhenti mendapati sosok tujuan-nya itu terbangun. Selama bebera menit manik cokelat itu terus menatap, melihat melihat kegelisahan itu di sana hingga bibir pria itu bergumam.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau berjalan dari tempat tidurmu?"
"A-aku."
Randika menoleh pada selimut yang di dekap erat tubuh kekasihnya, lalu tersenyum dengan lembut. "Aku tidak kedingian, kembali ke kasurmu. Kaki mu belum kuat untuk menapak, jika kau terus berdiri seperti itu, kau akan kesakitan."
Arumi tidak menjawab, dan tetap diam. Tangannya memberi isyarat kepada pria yang memiliki manillk hitam itu untuk mengambil selimut yang dia pegangi. Randika yang mengerti, lalu beranjak untuk mendekat.
"Apa kau tidak bisa tidur?"
Arumi menggeleng pelan, sepertinya dia lebih nayaman berkomunikasi dengan gerak tubuh.
"Lalu kenapa kau masih terbangun?"
"Aku terbangun karena memimpikan ibuku."
"Kau merindukan mereka?"
Arumi mengangguk. "Dan kenapa kau tidur dengan gelisah, apa asa sesuatu yang mengganggumu?"
__ADS_1
"Sofa itu tidak begitu nyaman untuk ku."
"Kau bisa kembali ke Mansion jika tidurmu terganggu, kenapa kau bertahan dengan kegelisahan."
"Aku ingin menemanimu meski sedikit tersiksa."
"Kalimat itu terdengar menyedihkan," ujarnya kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang di sediakan pada klinik Aurela. Kamar yang di tempati Arumi adalah ruangan di mana Aurela akan beristirahat setelah seharian bekerja. Ini adalah ruangan khusus yang dia buat hanya untuk di tempati oleh sang pemilik gedung. Namun, Arumi menempatinya karena permintaan Brian. Tentu saja dia menggunakan nama Rilan untuk bisa meyakinkan dokter hewan itu.
"Jika kakimu sudah membaik kita bisa ke Gros Morne, aku akan menemanimu tanpa meminta untuk cepat kembali."
"Aku tidak ingin ke sana."
"Whay?"
"Tempat itu akan mengingatkanmu tentang perpisahan bukan, dan aku tidak suka ingatanku ada wanita yang aku benci."
Randika terdiam, tapi tersenyum puas di dalam hati karena Arumi yang sepertinya sedang cemburu.
"Boleh aku bertanya Ran?"
"Tantu saja, katakan."
"Dulu, kau membenciku karena merasa bersalah. Apa sekarang kau mencintaiku juga karena kasihan?"
Pertanyaan Arumi membuat Randika menatap tidak percaya, dia mendekat ke tepi ranjang dan mencium puncak kepala milik kekasihnya. Arumi menerima perlakuan itu dengan tenang, dan tidak menampilkan emosi apapun. Dia biarkan Randika membelai rambutnya, berharap tidak ada jawaban yang akan menyakitinya.
"Aku mencintaimu karena hatiku memang tertarik dengan mu, aku ingin memilikimu lebih dari sekadar seorang saudara. Hanya ada rasa cinta dan ketertarikan antara pria dan wanita, tidak dengan rasa kasihan atau kebencian."
"Begitukah?"
__ADS_1
Randika mengangguk dengan cepat. "Apa perlu aku membuktikannya?"
"Aku selalu menantikannya."
"Kalau begitu, maukah kau menikah denganku Nona Arumi Chaska?"
Arumi tersenyum tepat di bibir Randika, pria itu menciumnya setelah menyatakan keseriusannya. Arumi mendorong pelan tubuh Randika agar memberi jarak antara keduanya. Namun pria itu malah merebahkan diri di samping Arumi dan menarik perempuan itu ke dalam pelukan-nya.
Arumi mendesah tidak nyaman, apalagi tubuh Randika yang begitu kekar membuat tempat tidurnya bergoyang. Dia menatap Randika dengan mengipit agar pria itu segera turun.
"Apa yang kau lakukan?" Arumi memukul dada Randika berulang kali.
"Biarkan aku memelukmu."
"Non."
"Sebentar saja, aku ingin tidur seperti ini sebentar saja."
Arumi terkekeh, kepalanya jatuh pada dada kekar Randika, menenggelamknnya di sana sembari menghirum dalam-dalam aroma maskulin milik tunangannya. Benar-benar membuat ketagihan. Lama mendekap di sana membuat wanita itu kembali menutup matanya karena mengantuk.
Randika mencoba menahan kesadaran Arumi dengan menangkup wajahnya, membuat perempuan itu menengadah menatap dengan mata mengantuk.
Pria itu berbisik. "Katakan, apa yang ada di dalam pikiranmu."
"Kau pria mesum."
Randika tertawa dengan keras, hingga membuat gadis pemilik rambut panjang itu mengerutkan kening. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, bahkan hidung mancung Randika hampir beradu dengan hidung munggil milik Arumi.
"Kau pernah menghancurkanku sekali, aku tidak ingin hal itu terjadi lagi."
__ADS_1
Kini Randika terdiam, tidak ada kata ataupun gerakan yang di tunjukan sebagai ungkapan perasaan itu. Manik hitamnya menatap Arumi yang terpejam, lalu kembali memeluknya hingga ikut terlelap.