Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 52


__ADS_3

"Rumi," sapa Randika canggung.


"Aku akan ke dapur."


"Rumi dengarkan aku." Randika menahan tangan Arumi menatap sesaat kedua sahabatnya yang terlihat pura-pura sibuk berbincang.


"Ada yang ingin kau katakan?"


"Aku minta maaf," ucapnya tulus.


Arumi menatap datar meski sebenarnya dia tahu kalau Randika sudah sangat menyesal dengan kejadian tadi malam, hanya saja, adegan ciuman antara Randika dan Evanya yang ada di dalam ingatannya masih terlalu jelas. Itu alasan kenapa dia begitu marah dan memilih bersikap diam.


"Apa kau tidak lelah terus meminta maaf seperti ini."


Randika menggelengkan kepalanya. "Tidak sampai aku mendapatkan maaf darimu."


"Kalau begitu tinggalkan Evanya."


"Aku tidak bisa melakukannya sekarang."


"Whay?"


"Kau tahu, aku mencari Evanya selama beberapa tahun ini. Ada banyak hal yang harus aku pastikan dengannya. Aku janji, setelah itu selesai aku tidak akan menemuinya lagi."


Randika terus memohon untuk meminta persetujuan Arumi. Tentu saja itu berat bagi Arumi. Dia harus merelakan separuh waktu Randika untuk Evanya. Namun egois rasanya jika dia tidak mengiyakan. Dia datang dalam hidup Randika sementara pria itu sedang tersesat oleh cintanya kepadanya wanita jepang itu.


"Beri aku waktu."


"Kau tidak mempercayaiku?"


"Aku percaya, hanya saja-"

__ADS_1


"Hanya saja apa?"


"Keluarlah, Brian dan kak Rilan menunggumu."


"Arumi!"


"Aku mohon, beri aku waktu. Ini tidak mudah."


Randika tersenyum tipis lalu melangkah maju memeluk kekasihnya dengan erat "Apa kau takut aku akan meninggalkanmu?"


"Wanita akan selalu merasa seperti itu jika kekasihnya pergi menemui wanita lain."


****


"Bagaimana keadaan Tuan Amir, Apa mereka sudah sampai di Prancis?"


"Nyonya Jenny memilih jalan terbaik untuk kesembuhan Tuan Amir."


"Apa maksudmu kesembuhan?"


"Ran!"


"Katakan apa yang tidak aku ketahui." Randika berteriak dengan nada tinggi.


"Aku ... aku tidak bisa."


"Apa maksudmu tidak bisa, kalian baru saja membicarakan keadaan Dady." Pemilik mata hitam itu menatap Rilan dengan begitu datar. "Katakan!"


"Maaf Ran tapi aku tidak bisa."


"What!"

__ADS_1


"Sebenarnya kau kerja untuk siapa?"


"Untuk mu."


"Kalau begitu katakan! Ini perintah."


"Tadi malam saat di acara reuni, aku mendapatkan telelpon dari Nyonya Jenny untuk menjemput mereka di bandara. Tuan Amir mengalami gagal jantung dan harus segera di bawah ke Prancis."


"What!"


"Aku tidak sempat memberitahumu karena Nyonya menyuruhku untuk segera datang. Aku mengantarkan mereka ke Mansion dan kembali ke pesta untuk memberi tahumu tapi ketika aku sampai, pestanya sudah selesai. Lalu aku menemukan Arumi di taman."


"Dan kau lupa untuk menghubungiku."


"Aku sudah mencoba tapi tidak ada jawaban."


"Aku kembali ke Mansion Rilan kau bisa mengatakan saat itu!"


"Ran, saat kau datang kita malah bertengkar, dan Arumi aku tidak fokus karena Arumi dalam keadaan tidak baik. kau tahu penyebabnya apa. Dan Sebelum berangkat kembali ke bandara. Kami sudah mencoba mengbubungimu berkali-kali. Tapi ponselmu tidak aktif."


"Lalu sekarang, alasan apa lagi. Dady separah itu dan kalian menyembunyikannya dariku."


"Aku yang meminta kak Rilan untuk merahasiakannya."


"Kau!"


Randika menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Kau tahu semua ini?"


"Ran Jangan memarahinya dia hanya mengikuti permintaan Nyonya Jenny."


"Panggil aku Tuan."

__ADS_1


Tiga kata itu mampu membuat Rilan mengerti dan memilih diam. Dari sorot matanya dia dapat melihat bahwa sahabatnya itu sangat terpukul dan kecewa akan sikapnya.


Begitupun dengan Brian yang terlihat diam tidak mampu berkata. Sejujurnya dia ikut datang bersama Rilan untuk memastikan Randika tetap ada bersama Arumi. Namun keadaan berbalik dengan cepat.


__ADS_2