Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 27


__ADS_3

Pagi ini, Randika bangun lebih awal. Rasa penasaran akan siapa orang yang sudah mengusiknya membuat dia tidak bisa tidur. Dia menatap sekeliling sebelum melakukan panggilan dengan benda pipih miliknya.


"Hallo?"


"Apa kau sudah tahu pemilik nomor itu?"


"Maaf Monsieur, aku baru saja akan melakukannya."


"What? Apa kau sedang mengurusi kekasih mu?" hardik Randika dengan kesal.


"Kekasih? apa anda bercanda Tuan, bagaimana bisa aku punya kekasih, jika tiap waktu aku bersamamu."


"Kau benar, dengan wajah dinginmu mana mungkin ada wanita yang berani mendekatimu."


Wajah Rilan terlihat kesal. "Aku masih di sini Tuan."


Randika terkekeh, rasanya senang jika berhasil menjaili sahabatnya. "Apa ada yang penting hari ini di kantor?"


"Non monsieur, hanya ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan anda.


"Bawa itu ke Mansion."


"Tapi Tu--"


Belum sempat Rilan menyelesaikan ucapannya, Randika sudah mengakhiri sambungannya.


"Dasar Robot."


Beberapa menit berlalu Rilan pun tiba di Mansion dengan beberapa berkas di tangannya. Namun karena keadaan Mansion yang hening dengan Arumi yang seperti menghindar membuat Randika memutuskan untuk ke kantor. Dan Rilan yang tampak bingung menatap langkah kaki Randika yang berlalu melewati Arumi tanpa berkata apapun.


"Ada apa dengan mereka?"


"Kak Rilan, ayo sarapan."


"Ak--"


"Cepat Rilan kita akan terlambat."


"Maaf Rumi lain kali saja."


Rilan berlari mendekati Randika dengan kebingungan. Padahal sarapan memmang sedang dia butuhkan saat ini, namun melihat tatapan datar Randika membuat pria ber jas itu menahan hati.


"Apa kau sedang tidak bertugas Minora?"


"Tidak Madame, apa anda butuh sesuatu?"


"Bantu akan menyelesaikan tugas ini." Arumi memperlihatkan secarik kertas dengan beberapa tulisan tangan di sana, membuat Minora menatap dengan memainkan mata karena tidak percaya.


"Bukankah ini tugas Claudia dan Grassy?"


"Itu tugasku sekarang Minora."


"Kasihan kau Nona, apa harus memanggil Claudia dan Grassy untuk membantu kita, aku tidak cukup mahir untuk semua menua makanan ini."


"Ide mu cukup bagus."


****


Arumi bersama para staf koki keluarga Garrett terlihat sedang sibuk. Biasanya memang selalu seperti itu setiap pagi. Karena Arumi selalu merecoki dapur dengan segala kejailan-nya. Namun, kali ini sedikit berbeda. Para staf koki dan beberapa pelayan sedang sibuk mengajarinya bagaimana cara memasak dan menyajikan makanan.


Sejujurnya Ilini bukan kemauan gadis dengan rambut ikal itu, melainkan tugas yang diberikan Tuan muda Randika kepada Nona muda keluarga Garrret, yang di mulai dari jam enam pagi tadi. Randika memberi tugas agar Arumi menyiapkan Semua sarapan dan makan malam nanti, karena makan siang akan Randika lalukan di kantor bersama Rilan.


"Bisakah kita istirahat, aku sangat lelah," ujar Arumi meringkuk dan itu membuat Claudia tersenyum melihatnya.


"Maaf Nona, tapi Tuan berpesan akan makan malam di Mansion bersama Anda, dan ...."


"Dan Apa?" tanya Arumi cepat.

__ADS_1


"Dan Tuan mengatakan semua menu makan malam hari ini, harus dibuatkan oleh Nona."


"What? aku pikir hanya bertugas menyajikannya saja saat dia kembali."


"Pas manquer, anda juga harus memasaknya."


"Aku tidak bisa Claudia, kau saja yang melakukannya."


"Maafkan aku Nona, tapi kami diperintahkan oleh Tuan Muda. Jika kami tidak mematuhi, anda pasti tahu akibat yang akan kami terima," ujar Grassy membungkuk.


"Tapi apa yang harus aku lakukan."


Arumi memandang dengan wajah memelas ke arah Minora, berharap pelayannya itu akan membantu.


"Maaf Nona, tapi aku tidak bisa membantumu."


Minora Dan Grassy begitu kasihan melihat Nona mudanya. Dia pasti akan kelelahan, apalagi menu yang di minta Tuan-nya begitu susah untuk dia selesaikan sendiri. Namun, apalah daya, Tuan Randika sudah memberikan pesan, bahwa tidak ada yang boleh membantu Arumi sekecil apapun itu. Jika ada yang berani maka resikonya mereka akan dipecat dan di asingkan ke tempat terbuang.


Ketiga pelayan itu begitu khawatir, bagaimana jika Arumi tidak bisa menyelesaikannya.


"Apa Nona akan sanggup?"


"Entahlah Grassy."


"Aku sangat ingin membantu Minora."


"Nona Claudia tidak akan membiarkanmu."


3 jam berlalu. Namun, Arumi belum menyelesaikan apapun, dia selalu gagal dan gagal lagi. Minora dan Grassy selalu mendampinginya untuk melihat jangan sampai ada bahan yang salah dia masukan. Apalagi makanan yang harus dia masak adalah Menu khas Prancis, itu adalah keahlian Claudia. Namun, kepala pelayan itu enggan membantu walau sekedar memberikan beberapa tips pun dia tidak berani.


"Ooh, anda terlihat sangat lelah Nona."


"Aku menyerah Minora, ini sangat susah."


"Tapi Nona, sebentar lagi Tuan Muda akan kembali, jika semua ini belum selesai, aku takut dia akan memarahimu lagi." ujar Minora dengan bibir yang bergetar.


"Tidak! aku menyerah Mino, biarkan Claudia yang membereskan semua ini, aku ingin mandi, mungkin itu bisa sedikit membuatku bersemangat kembali."


"Selamat Malam Tuan Muda," sapa Claudia di ikuti Minora dari belakang.


"Dimana Arumi, apakah dia sudah mengerjakan semua yang aku perintahkan," tanya Randika dengan pandangan yang tidak terlepas ke arah dapur.


"I-itu ... Nona ...."


"Ada apa, kenapa Kau sepertinya gugup Minora."


"Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan, bahkan Nona sudah menyerah untuk menyelesaikan semunya tugasnya," batin Minora.


"Baiklah, Karena tidak ada yang mau menjawabku, maka aku yang akan mencari tahu sendiri."


"Maaf Tuan," sela Rilan tiba-tiba.


"Apa!"


"Apa ada sesuatu yang Aku lewatkan?" tanya Rilan ragu.


Dia tahu persis jika para pelayan sudah tidak berkutik, artinya ada hal besar yang sedang terjadi di Mansion. Namun kenapa Randika tidak memberitahukannya. Bukankah biasanya semua hal yang berhubungan dengan Tuan Muda Garret selalu dia yang mengurusi, lalu kenapa kali ini tidak.


"Apa semua hal harus Aku laporkan padamu?" ujar Randika mengernyitkan alis.


"Tentu saja tidak Tuan, Aku hanya sedikit penasaran," jawab Rilan membungkuk.


Randika berdecak dan segera melanjutkan langkahnya menuju dapur, perasaannya kini campur aduk. Dia seperti merasa senang namun enggan memperlihatkannya.


"Ada apa denganku, bukankah Aku melakukan ini untuk mengerjai gadis aneh itu, kenapa Aku malah merasa seperti sedang menanti saat-saat mendebarkan. Kendalikan dirimu Randika," batinnya pelan.


Randika mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai. Namun saat memasuki pintu dapur dia kaget melihat Nona Muda keluarga Garret sedang merapikan makanan-makanan yang sudah siap untuk disajikan. Semua menu tersusun rapi di atas meja. Dia tidak menyangkah bahwa Arumi bisa menyelesaikan semua tugas yang dia berikan tepat pada waktunya.

__ADS_1


"Kenapa Arumi yang membereskan semua makanan ini? apa bajingan tengik ini yang menyuruhnya, dasar Robot, pantas saja Kau melewatiku, ternyata ini tugasnya. Benar-benar kau bajingan tengik," batin Rilan kesal.


"Arumi, sedang apa Kau di sini," tanya Rilan terkesiap.


"Kak Rilan, kalian sudah sampai Grassy ... siapkan mejanya dan letakkan semua makanan ini di sana."


"Baik Nona."


Dia pun segera bergegas mempersiapkan meja serta peralatan makan dan menyajikan semua makanan yang dengan susah payah Nona mudanya kerjakan dari tadi. Sungguh Grassy sangat frustasi, takut jika semuanya tidak bisa selesai tepat waktu.


Syukurlah semua selesai dengan baik. Dia sangat memuji keahlian Nona Arumi yang dengan cekatan mengikuti instruksi Claudia dan menyelesaikan tugasnya di dapur. Berbeda halnya dengan Minora. Dia tampak bingung mendapati semua menu yang sudah siap di santap ini.


"Bukankah tadi Nona sudah menyerah, lalu ini," gumam Minora pelan.


Arumi yang menyadari kebingungan Minora pun hanya mengedipkan mata dengan tersenyum tipis.


"Apa semua ini kau yang memasaknya?" tanya Randika dengan menyepitkan mata tidak percaya.


"Tentu saja, kau meremehkanku Tuan Robot," jawab Arumi menaikan dagu.


"Apa Tuan yang meminta Nona melakukan semua ini?" keluh Rilan menatap tajam.


"Memangnya kenapa. Apa Aku tidak boleh meminta tunanganku memasak makanan untukku?" tanya Randika kesal.


"Tentu saja boleh Tuan, tapi bukankah ini keterlaluan."


"Keterlaluan? Apa maksudmu haa," sarkas Randika.


"Arumi tidak bisa memasak, dan Anda sendiri pun tahu, dia berada di dapur hanya untuk mengusili Minora dan Grassy," ujar Rilan tidak kalah emosi.


Arumi melongo, dia tidak tau jika Rilan begitu memperhatikannya.


"Kenapa jadi Kau yang terlihat emosi, apa sekarang Kau sedang mengajariku cara memahami tunanganku," bentak Randika.


"Ya, Aku sedang mengajarimu, Aku tidak suka Cara Tuan memperlakukan Arumi," ucap Rilan mengepalkan tangan.


"Hei, hentikan kenapa kalian jadi beradu mulut, ayo kita makan saja," lerai Arumi.


"Apa Kau menyukai Arumi?" tanya Randika dengan tatapan Dingin.


Rilan terdiam, ucapan Randika seakan membungkam seluruh emosinya.


"Katakan, apa Kau menyukainya, sikapmu sudah melebihi batas seorang teman."


"Ran, hentikan! pertanyaan macam apa itu."


"Katakan!"


"A-aku ...."


"Hentikan! Kau membuat Kak Rilan tidak nyaman."


"Lihatlah, Kau bahkan memanggil dia dengan kakak, tapi tidak bisa seperti itu padaku."


"Kenapa pembahasannya harus kesitu," lirih Arumi.


"Karena Aku adalah tunanganmu dan dia adalah sahabtmu," seru Randika dengan tangan mengepal.


"Tapi ...."


"Mulai sekarang Kau harus mengganti panggilanmu padaku. Dan Kau, panggil dia dengan sebutan Nona Muda," tekan Randika.


"Apa-apan ni, bukan kah Kau sudah mengijinkan dia memanggil Ku seperti biasa, tidak! Aku tidak mau mengubah panggilanku entah itu padamu atau dari Kak Rilan," tolak Arumi berang.


"Kau berada dipihak mana? Aku atau Rilan."


"Jangan membuat pilihan seperti itu padaku," sanggah Arumi dengan napas yang menggebu.

__ADS_1


Randika berdengus. Tetap saja pilihanmu adalah Rilan bukan. Kau tidak pernah memperlakukanku sama seperti Dia. Kau bahkan mengacuhkan perasaanku," sela Randika dengan napas berat.


...♡♡♡♡♡♡...


__ADS_2