
Mobil yang di tumpangi Arumi dan Brian sudah melaju berjam-jam namun Arumi masih belum mengatakan berhenti.
"Rumi, apa kita tidak salah jalan?"
"Tidak jalurnya benar."
"Bukankah di sekitar sini tidak ada bukit?."
"Jalan saja. Sebentar lagi kita akan sampai"
"Sebenarnya kita akan ke bukit mana?"
"Gros morne."
"What?"
Apa kau gila. butuh 1 hari perjalanan untuk sampai di sana Arumi. Aku tidak mau kita terlambat kembali. Randika dan Rilan bisa membunuhku."
"Kau cukup mengantar, kedua pria itu biar aku yang urus."
"Wanita keras kepala. memangnya untuk apa kita ke sana," teriaknya dengan wajah kesal.
Arumi memilih diam sejenak, lalu menarik dalam-dalam napasnya dan mulai berkata.
"Itu adalah tempat di mana kedua orang tuaku mengalami kecelakaan. aku tidak tahu persis di jalanan mana mereka meregang nyawa. Jalanan Gros morne cukup panjang jadi aku memilih bukit untuk melepaskan rasa rinduku.
Brian hampir menabrak pengendara lain saat Arumi mengatakan Gros morne ada tempat meninggal kedua orang tuanya. Bukan karena kaget wanita di sampingnya sudah yatim piatu, tapi pria bermanik biru itu tersentak karena Gros morne adalah tempat di mana terjadinya kecelakaan maut yang di sebabkan oleh seseorang yang dia kenal.
"Kapan itu terjadi?"
"3 tahun yang lalu."
Tubuh Brian menegang. Pria latin itu menelan ludah kasar. Dalam hatinya dia berdoa semoga semua perkiraannya itu salah. Mungkin tempat yang sama dalam kurun waktu yang berbeda.
"Apa kau tahu orang yang menabrak orang tuamu?
__ADS_1
"Kata Dady, pelakunya adalah seorang pengendara yang sedang mabuk berat. Aku berada di montreal ketika kejadian itu jadi tidak tahu dengan pelakunya. Semua itu di urus oleh Orang tua Randika.
Kelegaan tercipta di wajah Brian "Aku akan menghubungi Rilan sebelum kita ke sana.
"Baiklah."
Brian lalu menghubungi Rilan untuk memberi kabar, sayangnya ponsel Rilan sibuk. Sudah beberapa kali pria itu melakukan panggilan. Namun nomor Rilan masih saja sibuk. "Mungkin dia sedang melakukan panggilan lain. Nomornya tidak bisa di hubungi."
Dia terlihat sedikit kesal saat Rilan tidak menjawab panggilan terakhirnya. Sampai akhirnya wajah itu berubah datar saat dia mendapatkan panggilan.
'Hallo."
'Hallo Brian, kau di mana?'
'Aku sedang ada urusan di Toronto.'
Toronto? lalu kapan kau kembali?'
'Mungkin besok.'
"Teman," jawabnya datar. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa yang menelponnya adalah Evanya.
'Brian, apa kau sedang bersama seorang wanita di sana? hei kau punya kekasih ternyata'
'Bukan urusanmu.'
'Terserah kau bodoh, dan cepatlah kembali aku membutuhkanmu.'
'Untuk apa,' tanya Brian.
"Randika, dia sepertinya sedang menjauhiku."
Brian berdecak. 'Sudah ku katakan. usahamu akan sia-sia.'
'Aku tidak memiliki teman selain dirimu Brian aku mohon, bantu aku sekali lagi.'
__ADS_1
'Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal Ev----" Brian menatap Arumi dengan ekspresi aneh. Dia hampir saja keceplosan menyebut nama Evanya. 'Aku tutup dulu. Sampai jumpa'
'Brian!'
'Hallo Brian!, arghh dasar penghianat. Aku belum selesai bicara.'
"Kekasihmu?" tanya Arumi saat Brian sudah mengakhiri panggilannya.
"Tidak."
"Aku mendengar suara wanita di sana."
"Hanya teman. Apa kita akan ke sana?"
"Kemana?"
"Arumi!"
Wanita itu tertawa keras melihat ekspresi Brian yang kesal. "Kau Pria yang baik."
"What?"
Arumi kembali terkekeh. "Maaf, menepilah."
"Tapi ini masih di Parc du Bastian de la Reine."
"Di depan mu adalah Gros morne Versiku. seperti katamu kita akan butuh waktu sehari kesana. Dan butuh 2 hari untuk bisa kembali lagi ke Quebec."
"Jadi kau membodohi ku dari tadi?"
"Maafkan Aku," ujarnya tanpa berhenti tertawa.
Brian ingin marah. Namun melihat senyum dan suara tawa Arumi membuatnya mengurungkan niat. Entah perasaan seperti apa yang tiba-tiba datang menghampirinya hingga tidak sadar Pria bermanik biru itu membalas tawa Arumi dengan senyuman.
Parc du Bastian de la Reine
__ADS_1