Aku Candumu

Aku Candumu
Ektra bab.


__ADS_3

Randika mengerutkan keningnya melihat tingkah Arumi yang sedari tadi terus gelisah. "Nikmati sarapanmu dengan benar kenapa kau terus bergerak. Apa kursinya tidak nyaman."


"Ti-tidak!"


"Lalu?"


Randika mendorong pelan kursinya mendekat pada Arumi yang sepertinya tidak nyaman dengan dudukannya. "Ada apa Sayang? Apa tempat dudukmu tidak nyaman?"


"I-itu. Aku ...."


Randika mengerutkan dahinya mencoba mengerti dengan ucapan istrinya. Sedangkan Amirta dan Jenny hanya tersenyum kecil melihat bagaimana Arumi malu-malu mengatakan akibat dari ulah anaknya. Untuk itu dia mengambil inisiatif untuk menyudahinya, agar Randika tidak terus bertanya dan membuat Arumi terus merasa malu.

__ADS_1


"Sayang, istrimu hanya merasa tidak nyaman karena ulahmu semalam. Nukan begitu Sayang." Jenny menatap ke arah Arumi yang mulai tertunduk malu.


"Maksud mommy aku?" Randika menunjuk dirinya sendiri dengan ragu-ragu. Dia belum mengerti betul dengan apa yang di katakan ibunya. Dan itu membuat tawa Amirta dan Jenny langsung pecah.


"Mom--!" Randika menahan kalimatnya saat menyadari jika wajah istrinya yang mulai memerah karena tersipu malu. Matanya membulat saat menyadari jika Arumi merasa tidak nyaman memang karena perbuatannya. Semalam, mereka melakukannya berulang kali. Bahkan hingga pagi, Randika masih terus memintanya.


"Oh ****." Pria bermanik hitam itu mengumpati dirinya di dalam hati. Arumi semakin merasa malu. "Mom. Hentikan!"


Randika melirik tajam kepada ibunya. Dia terus memberi kode agar ibunya mau berhenti tertawa. "Maaf, aku sudah selesai. Sayang, bisa bantu aku mengambil tas ku di kamar?" Randika akhirnya mendapat alasan agar Arumi bisa keluar dari ejekan kedua orang tuanya.


Arumi langsung mengangkat wajah, keringat bercucuran karena sedari tadi ia menunduk gugup dan juga malu. "I-iya Sayang. Aku segera mengambilnya," ujarnya bergegas dari tempat duduknya dan melangkah cepat naik ke lantai dua di mana kamar Randika ada di sana.

__ADS_1


"Sayang hati-hati, jangan terburu-buru. Kau bisa jatuh," ujar Jenny masih dengan tawa kecilnya.


Arumi yang mendengar itu lebih mempercepat langkahnya. Sungguh, baginya pagi ini adalah hari penuh rasa malu.


"Mom! Sudahlah, kau membuat istriku semakin malu. Lihatlah, dia bisa terjatuh jika melangkah secepat itu."


Suara tawa Jenny semakin besar ketika Arumi sudah tidak terlihat. Dan Randika pun semakin di buat kesal karena tawa ibunya itu. Amirta yang sedari tadi hanya senyum-senyum langsung menegur istrinya.


"Ma, sudahlah. Mereka masih mudah masih kuat, untuk apa kau menertawakan mereka. Lebih baik kita pikirkan bagaimana cara agar Arumi cepat hamil. Aku sudah sangat ingin menimang cucu."


"Kau tenang saja. Aku sudah menyediakan banyak tonik dan obat herbal untuk pengantin baru ini, mereka harus mulai meminumnya besok," ujar Jenny dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Mom! Jangan aneh-aneh. Aku harus bertanya kepada istriku apakah dia bersedia apa tidak. Aku mohon jangan memaksa kali ini," ujar Randika sedikit memberi pengertian kepada kedua orang tuanya. Ini masih terlalu cepat bagi mereka untuk memiliki anak. Randika tahu jika umur kedua orang tuanya sudah tidak lagi mudah, mereka sangat mendambakan bermain dengan cucu di hari tua mereka. Namun, bagaimanapun ia harus meminta ijin kepada Arumi. Memiliki anak adalah impian semua orang tua, tetapi jika memintanya dengan sedikit paksaan seperti ini Randika takut Arumi akan merasa tertekan juga terbebani.


__ADS_2