Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 67


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan." ucap Grassy saat mendapati kedua pria tampan yang sedang berpelukan di hadapannya.


"Diam kau, katakan ada apa kau mandatangi kamarku."


"Nona Arumi tidak berada di kamarnya Tuan."


"Apa maksudmu tidak ada di kamarnya."


"Ini sudah jam makan siang, aku pikir karena Nona tidak sarapan aku berniat membawakan makan siang untuknya, tapi saat membuka pintu aku tidak menemukan Nona di mana-mana. "


Randika terlihat panik begitupun dengan Rilan. Kedua pria tampan itu berjalan tergesah-gesah menuju kamar Arumi untuk memastikan. Sambil berjalan Randika memberikan beberapa pertanyaan yang langsung di jawab oleh Grassy.


"Apa kau sudah mencarinya ke kamar mandi?"


"Sudah Tuan, tapi Nona tidak ada."


"Apa Claudia ada."


"Nona Clau sedang mengunjungi Toronto.."


"What? untuk apa dia ke sana."


"Nyona Jenny menyuruhnya untuk menjengguk sahabat lamanya yang sedang sakit Tuan."


Randika dan Rilan termasuk Grassy sampai pada kamar Arumi, memeriksa ke segala sisi kamar untuk mencari. Namun, wanita bermanik cokelat itu tidak terlihat sama sekali. Randika memijat keninggnya, pria bermanik hitam itu bergumam pelan saat mentap Rilan.


"Satu masalah belum selesai, satu masalah lagi sudah muncul."

__ADS_1


"Panggil Minora!" pinta Rilan memanggil pelayan kepercayaan Arumi, Rilan berfikir mungkin dia tahu sesuatu.


"Biena Tuan."


Grassy berlari cepat menuju dapur untuk menyeretnya ikut bergabung. "Grassy ada apa?"


"Tuan Rilan memanggilmu, cepat ini sangat darurat." pelayan dengan postur tubuh munggil itu akhirnya mau di nawah Grassy.


"Tuan memanggilku?"


"Apa kau melihat Arumi?"


"Bukankah Nona Arumi berada di halaman belakang?"


"Ayo Rilan."


"Grassy!!"


"Biena Tuan."


"atamu Arumi ada di sini, lalu sekarang mana.mana dia."


"Aku tidak tahu tuan. Tadi pagi aku melihat Nona Arumi menangis di bawa pohon itu." Grassy menunjuk pada pohon mapel yang rindang, tempat itu terlihat ada tumpukan daun mapel yang berguguran menunjukan kalau arumi memang sempat duduk di sana.


Kecemasan dan emosi Randika kini sama-sama memuncak, para pelyan yang tidak bersakah itupun mendapat cacian yang tia henti dari Tuannya. Dan Rilan tahu, itu tidak main-main. Kemampuannya membaca dari raut wajah seseorang membuat Randika selalu mengandalkannya dalam keadaan apapun.


"Aku akan memghubungi Brian, kita akan mencarinya bersama-sama."

__ADS_1


"Brian?" Nada suara Randika sedikit tidak enak.


"Maksudku jika kita bertiga, itu akan mempermudah pencarian. Lebih banyak orang lebih baik bukan." Rilan hampir saja keceplosan untuk mengatakan maksudnya memanggil Brian.


"Benar juga hubungi dia."


Dan ketika keduanya keluar dari kamar Randika berhenti. "Tunggu, apa jangan-jangan Arumi ke !Apartemen?"


"Kenapa kita melupakan itu, baiklah kita ke sana sekarang."


*


*


*


Arumi tidak bisa merasakan apa-apa, tapi dia sadar seseorang tengah mengangkat tubuhnya membantunya menaiki mobil. Beberapa kali kelopak matanya mencoba terbuka menatap dirinya yang di angkat dua orang masuk ke dalam ruangan serba putih.


Arumi masih sadar saat dirinya di baringkan di tempat tidur, sampai dia kehilangan kesadaran tatkala cairan yang mengantung di sampingnya mulai masuk menembus kulitnya.


"Dia sangat lemas, cairan itu akan membuat dia tertidur," ucap seseorang yang membantu mengangkat Arumi tadi. Dia menjelaskan untuk pengendara mobil yang membawa Arumi tadi.


"Apa dia akan baik-baik saja?"


"Dia baik, biarkan obatnya bekerja."


"Kapan dia akan sadar?"

__ADS_1


"Sampai malam nanti, kurasa."


__ADS_2