Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 122.


__ADS_3

Malam itu berakhir dengan Arumi yang kembali tertidur setelah makan. Keduanya menghabiskan waktu menonton drama televisi hingga akhirnya mata Arumi lelah dan terlelap di pelukan kekasihnya.


Randika memperbaiki posisi tudur kekasihnya lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. Yang terakhir, dan selalu tidak terlewatkan. Pria dengan manik hitam itu memberikan kecupan pada bibir kekasihnya, cukup lama hingga membuat Arumi melenguh lalu bertukar posisi membelakangi Randika.


"Kita akan melewati sepanjang malam bersama saat sudah menikah nanti. Tetapi, lihatlah. Kau bahkan sudah membelakangiku sekarang. Aaaah, kau sangat tidak Romantis." Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya.


Randika menahan napas sesaat ketika menutup pintu, dia takut suara pintu yang dia tutup terdengar oleh Arumi. Berhasil menutup pintu tanpa suara, Randika malah di kagetkan dengan suara yang tiba-tiba muncul.


"Aku pikir kau akan keluar setelah matahari terbit."


Randika tersentak kaget saat tangannya menutup pintu kamar. "Mom?" Dia menyipitkan mata untuk mencari. "Apa yang kau lakukan di dalam kegelapan itu?"


"Aku sedang memperhatikan bagaimana putraku begitu menyayangi calon menantuku. Dia bahkan rela membuatkan makanan di tengah malam untuknya." Nada suara Jenny terdengar sedikit cemburu.


"Mom melihatnya?"


"Kau tidak pernah melakukan itu saat ibu mogok makan," ucap Jenny menyilangkan kedua tangan di dada dengan raut wajah cemberut.


Randika terkekeh melihat itu. "Apa yang kau katakan Mom, Aku akan membangunkan semua orang jika itu terjadi padamu."


"Dasar pembohong!"


Tentu saja Randika semakin di buat tertawa karenanya, mengingat wajah ibunya sangat lucu saat merajuk. Apalagi umurnya sudah sangat tua untuk melakuka hal seperti itu. Bagi Randika, Jenny adalah sosok ibu yang penyayang, juga perhatian. Penuh dengan kelembutan dan cinta.

__ADS_1


Dia tidak pernah mengeluh untuk semua hal yang terjadi, entah itu dalam keadaan bahagia atau zlsedang bersedih. Dia selalu tersenyum meski beban yang dia pikul cukup berat. Sejak dulu, dia mengurus keluarganya dengan sangat baik, dan sekarang meski harus sibuk mengurus suaminya dia masih menyempatkan diri untuk memperhatikan anak-anaknya.


"Apa semua persiapan sudah selesai?"


Randika mengangguk pelan. "Kami hanya perlu memilih cincin."


"Hari ini kau melewatkan janji untuk menemaninya melihat gaun." Mata Jenny memincing tajam.


Randika mengangguk, berdehem menetralkan suaranya. "Aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan di kantor Mom, karrna setelah menikah aku akan mengambil cuti panjang."


"Kau sudah membicarakannya dengan Daddy?"


"Oui, papa est d'accord."


"Kemana kalian akan pergi berbulan madu?"


"Kuba, Arumi ingin ke sana."


Jenny menyungingkan senyum. "Wow, itu temoat yang luar biasa."


"Droit"


"Apa kau akan membawa pria lajang itu juga?"

__ADS_1


"Berhenti menggodanya Mom, dia sudah punya kekasih."


"Benarkah? Aku pikir dia tidak menyukai wanita."


"Mom!"


Perempuan yang memakai baju tidur berwarna bitu navi itu terkekeh. "Kau harus benar-benar menjaga Arumi, Randika. Mom tidak akan membiarkanmu menyakitinya, apalagi sampai air matanya jatuh."


"Itu adalah janjiku. Dia akan selalu bahagaia."


"Mom, menaru kepercayaan besar padamu Mon fils."


"Aku meincintaimu Mom." Randika merentangkan tangannya yang mana hanya membuat Jenny terdiam dengan alis yang terangkat.


"Kau sepertinya butuh istirahat, Sayang," ujarnya berlalu meninggalkan putranya yang sudah siap untuk memeluknya.


Mata hitamnya itu kembali menatap Jenny. "Mom, bagaimana dengan pelukan ini?"


"Simpan saja untuk istrimu nanti sayang."


Randika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti dengan kalian para wanita," ucapnya berlalu pergi. Sesaat dia berfikir, jika dia dan Arumi sudah memiliki anak, apakah dia akan bersikap arogan sepertinya ataukah bijaksaan dan lembut seperti Arumi.


"Semoga tidurmu menyenangkan, Mom," ucap pria berambut hitam itu membalikan badan dan ikut berlalu pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2