
Sepanjang perjalanan Randika terlihat diam, begitupun dengan Arumi, dan Rilan. Ketiga orang itu terlihat canggung, bahkan Randika sesekali memandang nyalang pada Rilan. Dia masih marah dengan apa yang telah Rilan lakukan padanya di kafe.
"Bisakah seseorang memancing pembicaraan. Ini menegangkan, leherku sampai sakit jika tidak bergerak," keluh Arumi di dalam hati.
"Tuan."
Arumi menoleh seketika, saat Rilan bersuara. Dia seerti mendaoatkan udian yang sangat di nantikan. Wanita bermanik cokelat menatap Rilan dengan mengembangkan senyum tipis.
"Apa!"
"Apa hari ini anda akan ke kantor? ada berkas yang harus diperiksa." ucap Rilan mulai santai.
"Entahlah, jika pembahasan di rumah baik maka kita akan kekantor. Jika tidak, kau selesaikan seperti biasa, dan laporkan kembali padaku," ujar Randika melirik pada spion mobil yang menampilkan bayangan Arumi.
Gadis itu sepertinya sedamg memikirkan hal yang baik, itu terlihat dari rona wajahnya yang berseri-seri. Kesal dengan pemandangan itu, Pria bermanik hitam itu lebih memilih untuk memejamkan mata.
Rilan yang begitu mengerti keadaan Tuan-nya pun sedikit merasa bersalah karena kejadian tadi. Kini manik cokelatnya beralih pada gadis yang duduk d samping tuannya. Seketika Rilan mengerutkan kening saat melihat tatapan Arumi pada Randika, wanita itu memakinya di dalam hati. Raut wajahnya begitu licik.
"Dasar pra Robot."
"Apa kau sedang mengumpat-ku dalam hati?" ucap Randika tiba-tiba.
"Siapa, Aku?" tunjuk-nya pada diri sendiri.
Randika terbangun dan membuka matanya, Pria menatap Arumi dengan tatapan yang sangat dingin. Dan itu menyeramkan
"Memangnya ada siapa lagi di sampingku!"
"Dasar Pria Robot, entah dimana letak pesonanya jika sikapnya saja sedingin ini. ckckckckkc."
"Ti-tidak, aku tidak berani Tuan," ujar Arumi terbata-bata.
"What?"
"Ada apa Tuan," jawabnya dengan polos tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Apa kau masih merasa pusing?"
"Tidak!"
"Lalu kenapa kau memanggilku Tuan, bodoh!"
"Ah, betul juga. Kenapa aku bodoh, aku terlihat seperti kak Rilan ahahhaha."
"Dasar gadis aneh."
__ADS_1
"Aneh tapi kau mau bertunangan denganku," gumam Arumi pelan.
Randika tersentak, Pria berwajah oriental itu mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Arumi, dan menatap lama pada manik mata gadis itu.
"Boleh aku mencoba?" tanya Randika dengan perangai menggoda.
"Mencoba?"
Arumi sejenak bingung, tapi kemudian dia tersadar dengan sesuatu dan berkata dengan keras.
"Tidak!" teriaknya seketika dengan kedua tangan menutup mulutnya.
Randika yang melihat reaksi Arumi langsung tergelak keras. "Hahahaha. Baiklah ... tapi jika kau mau, Aku selalu menunggunya" godanya pada Arumi.
"Tidak Robot!" jawabnya beringsut menjauh tanpa melepas tatapan dari Randika. Kali ini dia tidak akan membiarkan Randika menciumnya.
"Arumi, apa kau baik-baik saja," tanya Rilan saat gadis itu berteriak.
"Kak, bolehkah aku berpindah dan duduk didepan saja," ujar Arumi memelas.
Rilan melirik ke arah Tuannya sejenak, dan tanpa menimbang dia mengangguk kemudian menepikan mobil agar Arumi bisa berpindah. Namun ketika Arumi ingin beranjak keluar Randika mencegatnya dengan tatapan nyalang, kemudian menggenggam tangannya agar tidak bisa keluar. Arumi pun terpaksa harus kembali duduk tanpa berkomentar.
"Kau sedang apa?" tanya Randika dengan menyipitkan mata kepada Rilan.
"Apa sekarang kau sudah menjadi Robot? kau mengikuti semua perintahnya begitu saja," ujarnya kesal.
"Tapi, mungkin saja Rumi tidak nyaman duduk di samping anda Tuan, jadi aku pikir lebih baik dia berpindah ke depan" ujar Rilan dengan alasan yang dibuat-buatnya.
"Apa katamu, tidak nyaman, memangnya aku kenapa sampai dia tidak nyaman di dekatku!" ucapnya mulai emosi.
"Pokoknya Arumi harus turun dan duduk didepan," ujarnya tegas. Tujuannya memang untuk memancing emosi Randika.
"Kau berani membentak-ku? apa kau ingin aku pecat lagi, haa?" ucap Randika semakin terbakar emosi.
"Ada apa dengan kedua pria ini, kenapa malah saling bertengkar," batin Arumi.
Gadis itu bingung melihat pertikaian antara kedua pria dewasa di depannya. Entah apa yang harus dia lakukan agar perdebatan mereka bisa terhenti. Dia merasa di abaikan begitu saja. Gadis itu kemudian menarik-narik tangannya berusaha melepaskan genggaman Randika yang sedikit membuat jemarinya sakit.
"Diamlah," ujar Randika makin mengeratkan genggaman-nya.
"Tapi, tanganku sakit," rintihnya dengan pelan.
"Jangan lepaskan genggamanku jika aku sedang berbicara dengan orang lain," ucapnya tanpa melihat Arumi.
Gadis itu sekejap tertegun, bagaikan terbang bersama ribuan kupu-kupu saat Randika mengatakan itu, dia merasa seperti sepasang kekasih yang saling menjaga dan tidak ingin menjauh. "Ahmmmm Romantis sekali batinnya."
__ADS_1
Namun keharmonisan yang dia rasakan tiba-tiba terhenti ketika melihat kedua Pria yang masih saja terus beradu kata yang sama sekali tidak dia mengerti. Cukup lama keduanya seperti itu hingga membuat Arumi semakin bosan dan kesal. Dia pun memberanikan diri untuk sekadar bertanya, berharap itu bisa menghentikan mereka.
"Permisi, aku harus duduk dimana?" teriaknya
"Diam!" sahut keduanya serempak.
"What ...?? apa-apaan itu kenapa jadi aku yang dibentak," ujarnya kesal.
Pengap dengan udara di dalam mobil dan malas mendengar oerdebatan kedua Pria aneh ini, Arumi akhirnya memutuskan untuk keluar. Dia bergegas membuka pintu mobil, untuk keluar sekedar menghirup udara di luar. Namun bukannya keluar tubuhnya malah terhempas kembali dan duduk di samping Randika. dia lupa jika sedari tadi tangannya di genggam erat oleh Pria Robot itu.
"Ah, Auhh ... sakit."
Kedua Pria itu terhentak, dan menghentikan perdebatan, kemudian menoleh pada gadis yang baru saja menyerit kesakitan.
"Kau kenapa?" tanya Randika masih tidak sadar dengan genggaman-nya yang belum dilepaskan.
"Kau baik-baik saja Rumi," tanya Rilan menyusul.
Gadis itu bukannya menjawab malah menyerit dengan keras.
"Ah, hikss ... hiks ... hikss ...."
"Kau kenapa," seru Randika dan Rilan kompak.
"Tanganku," tunjuknya pada jemari yang sedang di genggam erat oleh Randika.
"Aaahh! maaf ... Aku tidak sadar telah melakukannya," ujarnya melepas genggaman.
"Sejak kapan aku menggenggam tangannya, argghh memalukan."
"Tapi omong-omong, kenapa dari tadi Kamu tidak menyetir? apa KaMu mau Kita tinggal dan berkemah di pinggir jalan ini?"
"Bagaimana bisa dia menyetir, bukannya sedari tadi kamu mengajaknya bertengkar," ujar Arumi sesegukan.
Rilan terkekeh "Kita sudah sampai Tuan," ujarnya santai.
"Maksudmu?" sela Arumi melihat ke sekeliling.
Mata Randika dan Arumi membulat. Ternyata dari tadi mereka sudah sampai, dan adegan menepi itu hanya kejailan Rilan saja.
"Riiilaaannn," teriak Arumi dan Randika bersama.
Rilan terkekeh, dia bergegas keluar mobil dan kabur ke dalam Mansion, diikuti umpatan dan cacian Randika juga Arumi.
"KAU AKAN BENAR-BENAR AKU PECAT," teriak Randika geram.
__ADS_1