
Pagi yang cerah, suara burung begitu ramai di luar sana. Mereka bersiul menemani sang matahari yang sedang naik ke peraduannya. Randika baru tersadar saat mendapatkan telepon deringan pada ponselnya.
Evanya, nama si pemanggil tertera di sana, sudah seharian dia menolak panggilan wanita itu, kini dia memutuskan untuk mengangkatnya. Sebelum menekan tombol hijau, tatapan Randika beralih pada perempuan yang tertidur pulas di sampingnya.
Dia mengecup sebentar pada puncak kepala kekasihnya lalu berjalan menuju pintu keluar untuk mengangkat telepon.
"Hallo Evanya."
"Kau baik-baik saja?"
"Yah."
"Aku mengkhawatirkanmu, bolehkah aku berkunjung ke Mansion untuk melihat keadaanmu?
"Tidak perlu Evanya? Aku baik-baik saja."
"Ayolah Sayang, apa kau tidak merindukan ku? aku menunggumu, merindukanmu dan ingin melihatmu."
"Evanya aku mohon."
"Tepati janjimu atau aku datangi Mansion dan beberkan semuanya pada Arumi."
Randika menarik napas dalam. "Baiklah, kita akan bertemu di mini bar."
"No, aku di depan Mansion sekarang."
"What?"
__ADS_1
"Keluarlah, atau aku yang masuk."
menemui Evanya Randika memilih masuk untuk melihat Arumi, langkah kakinya di percepat saat ponselnya kembali berdering.
Untuk kedua kalinya Randika kembali menatap Arumi, wanita bermanik cokelat itu tertidur dengan lelap. Randika memberi kecupan, membuat Arumi membuka mata akibat gangguan itu.
"Jam berapa ini?"
"Tidurlah, ini masih terlalu pagi."
"Apa aku tertidur di kamarmu?
Randika mengangguk, menahan Arumi yang hendak terbangun. "Tidurlah, ini masih terlalu pagi, aku akan turun dan meminta Claudia menyiapkan sarapan."
Ucapan Randika seperti sihir, gadis itu kembali tertidur dengan cepat. Faktanya Arumi memang masih sangat mengantuk dan enggan untuk bangun. Semalam dia harus begadang karena Randika yang menjerit, luka itu membuat Randika menggigil karena demam.
Kesekian kalinya, Randika menatap manik Cokelat yang sedang tertidur, membuat jantungnya berdetak kencang. Bukan karena sedang jatuh cinta, melainkan rasa takut akan kehilangan.
♡
♡
Randika menatap ponselnya dan bergegas untuk keluar untuk menemui Evanya. Wanita itu tidak berhenti menelponnya. Evanya menyilangkan tangan di dada menatap kedatangan Randika dengan kesal.
"Kenapa sepertinya kau sedang menjauhiku."
"Kau tahu alasannya Evanya."
__ADS_1
"Karena Arumi." Evanya tertawa tidak percaya. "Aku sangat membencinya," gumam Evanya pelan.
"Kau sudah melihatku ku bukan, dan aku baik-baik saja. Sekarang pergilah."
"Kenapa kau sangat buru-buru Randika." Evanya mendekat dia menyentuh dada Randika, yang mana membuat pria bermanik hitam itu menjauhkan tangan Evanya dari sana.
"Ran!"
"Ketahui batasanmu Evanya."
"Kau berubah Ran, sangat berubah," ucap Evanya kesal.
"Kau yang merubahku Evanya."
"Maka dari aku ingin menebusnya, biarkan aku tetap bersama mu, agar kau bisa ingat semua kenangan manis kita."
"Cukup Evanya! pergilah."
Setelah mengatakan itu Randika berlalu pergi. Namun, Evanya menahan langkahnya, dengan meraih tangan Randika. Dia masih belum puas berduaan dengan pria dambaannya. Apalagi Evanya masih sangat kesal karena Randika yang masih saja terus menolaknya.
"Jangan memaksaku untuk bertindak lebih jauh Ran."
Randika terlihat terkejut, Evanya seolah sedang mengancamnya. "Evanya, apa kau ingin membuatku benar-benar membencimu."
"Kau harus menepati semua janjimu Randika." Evanya mengucapkannya dengan penuh penekanan.
"Kita sudah membahasnya Evanya," ucap Randika dengan pelan, datar dan tanpa emosi. Namun itu mampu membungkam mulut Evanya hingga wankta itu terdiam tanpa ada niat membalas.
__ADS_1