Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 135. Tentang Rindu (Alaisa dan Levin.)


__ADS_3

Kepala Alaisa mendongak saat merasakan tangan hangat seseorang mengelusnya. Bahkan saat ini matahari belum mengeluarkan sinarnya. Tapi, mata seorang wanita separuh baya sudah terbuka dengan tangan setengah keriputnya yang kini menyibak selimut Alaisa.


"Mom? ada apa?"


"Bangunlah, ini sudah pagi."


"Huh, jam berapa ini?" tanya Alaisa masih dengan mata yang tertutup.


"Jam 5 pagi."


"What?"


"Kau harus ke kampus pagi ini Alaisa, ayo cepat bangun."


"Ya ampun, Mom, di luar masih terlalu gelap, tidak ada kampus yang buka sepagi ini."


"Bukankah kau harus menemui seseorang sebelum ke kampus? ku harap kau tidak lupa."


Gadis itu tampak berfikir, mengingat-ingat apa yang dia lupakan tentang seseorang itu. Saat ingatan itu terlintas, raut wajahnya berubah datar.


"Mom ayolah."


"Alaisa!"


"Aku tidak ingin menemuinya," teriaknya keras.


"Tapi kau sudah berjanji."


"Satu jam lagi, biarkan aku tidur satu jam lagi."


"No, cepat bangun dan bersihkan tubuhmu," teriak Carissa.

__ADS_1


"Mom!"


"Jangan meneriaki ku seperti itu Alaisa. Aku melakukan ini semua untuk masa depanmu."


"Masa depanku? aku bahkan belum menyelesaikan kuliahku."


"Apa kau ingin kita berdebat seperti kemarin?"


"No!" Alaisa merengek, membanting tubuhnya kasar dan sembunyi di balik selimut tebalnya.


"Bangun Alaisa! Ayo bangun."


"Sebentar lagi, Mom."


"Cepat!"


Alaisa merengek kesal, dia terpaksa harus bangkit dari tempat ternyaman-nya dan berjalan ke kamar mandi sambil mengerucutkan bibir. Sejenak hati dan pikirannya semakin membenci Tuhan dan juga waktu, terlebih untuk wanita yang sedang sibuk merapikan buku-buku miliknya yang berserakah di lantai.


Kadang mereka adalah anak sahabat lamanya, anak teman Sekolahnya atau Anak teman bisnisnya dan masih banyak lagi. Anak teman-teman-nya itu sekan terukir permanen di benak Carissa.


"Alaisa!"


Teriakan Carissa kali ini hampir menghancurkan gendang telinga putri semata wayangnya itu.


"Aku sudah di kamar mandi, Mom."


"Cepat selesaikan mandimu, jangan membuatku mati dengan menahan emosiku anak nakal."


"Yah, aku tahu."


"Aku menunggumu untuk sarapan," ucapnya sedikit keras, Seakan meminta gadis yang me miliki manik hitam itu mendengarnya.

__ADS_1


"Aku mendengarnya, Mom."


"Good Girls."


*


*


*


Alaisa sudah menyelesaikan mandinya. Gadis berambut pendek itu berjalan keluar dengan menggunakan kimono favoritnya menuju jendela tempat biasa dia akan mengeringkan rambutnya dengan menggunakan angin alami dari luar.


Di luar jendela kamarnya, terdapat halaman luas yang di tumbuhi beberapa pohon besar dan beraneka ragam bunga-bunga. Di sebrangnya, terdapat jalan raya dan bangunan pencakar langit. Namun, karena masih terlalu pagi, matahari belum sepenuhnya bersinar hingga gedung-gedung itu tidak terlalu tampak di pelupuknya.


Alaisa memperhatikan sekeliling, tidak ada siapa pun di luar sana. Namun, wanita tua renta itu sudah berkhotba seakan hanya tersisa dirinya saja yang belum beraktifitas.


"Apa yang harus aku lakukan di luar sana dengan kegelapan ini. Dasar wanita tua!"


"Alaisa!"


"Sí, Mom."


"Turunlah, sarapanmu sudah siap."


"Sólo un momento. (Sebentar.)"


Gadis bermanik hitam itu terkekeh. "Ibu ku seperti seorang pelayan kerajaan, dia cukup tepat waktu dalam segala hal."


Alaisa, menyelesaikan Ritual makeupnya lalu berlari keluar sebelum Pelayan kerajaan itu memanggilnya lagi.


__ADS_1


__ADS_2