
"Bonne nuit Chérie. (Selamat malam Sayang.)"
"Bonne nuit aussi Bébé, (Selamat malam juga Sayang,)" ucap Arumi mengakhiri percakapan. Tidak lupa dia memberikan ciuman singkat di pipi pria dambaannya lalu mengucapkan kalimat pemanis. "Je vous aime. (Aku mencintaimu.)"
Randika tersenyum manis. Namun, sedetik setelahnya kembali muram.
"Hei, ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau malah bersedih?"
"Aku akan merindukanmu."
Dahi Arumi berkerut. "Bukankah kita hanya berpisah untuk tidur?"
"Tapi aku tidak sabar menanti pagi Sayang."
"Oh Tuhan Randika!" Arumi berucap di ikuti lemparan bantal yang mengenai kepala kekasihnya. "Keluarlah, jangan menggombal di jam seperti ini."
"Apa aku tidak boleh tidur di sini?" tanya Randika dengan wajah memelas.
"No! Keluarlah! Kita akan bertemu besok."
Randika memasang wajah sedih lagi. "Itu terlalu lama Sayang, aku ingin tidur dengan memelukmu malam ini."
"No, Randika! No!"
"Ta--"
"No!"
Pria itu terkekeh, kembali melangkah keluar. "Kita akan berteku besok."
__ADS_1
Randika berjalan dengan berat hati menuju pintu, setelah sampai di ambang pintu, pria itu tidak langsung pergi, dia masih kembali berbalik melihat kekasihnya. "Sayang?"
"Apa?"
"Bagaimana de--"
"No!" Arumi dengan cepat memotong kalimat yang akan di ucapkan Randika, menatap dengan memincingkan kedua matanya.
Randika membalas tatapan itu. "Aku hanya ingin bertanya tentang cincinnya, kenapa kau membentak ku?"
Wajah perempuan itu berubah menjadi malu. "Aku pikir kau ingin mengatakan ingin tetap si sini."
"Dasar mesum! Aku hanya ingin menananyakan, apakah kau menyukai cincinnya atau tidak. Itu saja."
"Baiklah Randika, aku tidak ingin berdebat denganmu karena ini sudah terlalu larut, kembali ke kamarmu dan istirahatlah. Besok, kita akan melewati proses yang panjang."
"Baiklah, aku akan pergi."
"Dasar Robot. Dia bertingkah seperti remaja yang sedang dalam masa puber."
Saat matanya mulai terlelap, Arumi memikirkan tentang pernikahannya. Hati perempuan itu menghangat, mengingat keduanya akan melakukan janji untuk sehidup semati di atas altar besok. Mewujudkan impian keduanya untuk tetap bersama dan membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis. Namun, tidak dengan Randika.
Pria itu tampak gelisah, berulang kali dia menghubungi Rilan hanya untuk memastikan semua persiapan lancar. Pria Perancis itu sampai berdelik bosan dengan semua pertanyaan Majikannya. Dia bahkan tidak bisa menikmati malam yang hangat bersama Aurela, kekasihnya.
Rilan berbalik, dia tampak sangat biasa menatap Randika yang datang. Bisa di bilang itu adalah ekspersi rasa kesalnya terhadap pria bermata hitam itu.
"Kau serius ingin berjaga di sini sampai pagi?"
"Aku merasakan sesuatu Tuan, seperti ada yang mengganjal. Namun, entah itu apa."
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja Rilan, bukankah kau sendiri yang sudah mengamankan semuanya."
"Kau selalu saja santai, dan aku yang harus bekerja keras," ucap Rilan ketus.
Wajah Randika yang santai berubah menjadi serius. "Apa ada yang tahu?"
Rilan menggeleng.
"Bagaimana dengan Brian?"
"Dia hanya berbicara seperlunya saja dengan Evanya. Aku harap besok dia bisa lebih tenang dan tidak panik agar semua berjalan sesuai rencana."
"Seharusnya kau mencarikan wanita untuk dia, apa kau tidak kasihan? besok dia adalah satu-satunya pria yang tidak memiliki pasangan."
"Dia cocok menjadi pria kesepian."
"Kenapa tidak kau pasangkan saja dengan Adikmu?"
"Non! Jangan adik ku!" teriak Rilan tegas.
"Whay?"
"Dia terlalu polos untuk Brian."
"Hahahhaa, apa kau takut dia akan meniduri Damiana?"
Rilan Melirik dengan ujung mata.
"Ada apa?" Randika pura-pura tidak mengerti dengan tantapan tajam sahabatnya. Dia bahkan sedikit mengeluarkan tawa mengejek untuk Rilan. "Kau, bahkan sudah meniduri adiknya lebih dulu."
__ADS_1
Rilan mendengus, tatapan matanya melihat ke sekeliling tempat dia dan Randika berdiri. "Apa kau gila! Pelankan suaramu, orang-orang akan mendengarnya."