Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 34


__ADS_3

"Apa kau akan tetap di sini dan melihat kami sarapan Minora?" Randika menatap kesal pada Minora sekan ingin menelannya.


Minora menggelang dengan wajah yang menunduk "Maaf Tuan."


Minora terlihat sangat gugup. Dia selalu bergidik setiap kali Tuan Mudanya menatap dengan tajam tanpa senyuman sedikitpun. Itu Seperti sebuah jiwa pembunuh yang bersembunyi di balik wajah tampan. Dan seperti yang selalu di ajarkan Claudia, bahwa dia harus tetap diam. Tidak ingin di marahi ole Tuannya Minora pun bergegas pergi. Namun setelah beberapa langkah dia kembali.


"Ma-maafkan Aku Tuan. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Semalam Nona Clau menyuruhku untuk menanyakan apakah Tuan Mudah dan Nona akan kembali makan atau tidak, Tapi Aku malah melihat adegan itu," ujarnya menunduk.


"Tunggu ... Maksudmu seseorang yang terdengar menutup pintu semalam itu Kau mino?" tanya Arumi.


"Iya Nona."


Arumi tersedak, wajahnya memerah seketika saat mendengar pengakuan pelayan pribadinya itu. Ingin rasanya dia meringkuk dan bersembunyi di balik meja marmer di depannya karena malu.


"Aku Tidak sengaja melakukannya Nona aku bersumpah," ujar Minora.


"Lalu kenapa kau baru memberitahu ku. Kau bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa sejak tadi."


"Aku takut jika Nona tahu, Nona pasti akan malu padaku. Jadi tidak ku katakan," ujarnya menundukkan kepala.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku sangat malu. Sumpah ini memalukan," ujar Arumi di dalam hati.


"Lanjutkan pekerjaanmu," pinta Randika. Dia tahu Arumi pasti sedikit tidak nyaman jika pelayannya masih di sini.


"Baik Tuan." Minora membungkuk dengan sopan kemudian pelan-pelan melangkah pergi dari sana. Berharap Tuan dan Nona Muda tidak akan menghukumnya apalagi sampai memecatnya. Beda halnya dengan Arumi. Gadis itu terlihat kaku tak berani mengangkat wajah. Sendok garpunya pun hanya di pegang tanpa bergerak di atas piring yang berisikan roti panggang beroleskan selai stroberry.


"Kau kenapa! apa sekarang kau sedang melakukan protes dengan menjadi patung?" tanya Randika.


"Aku malu," ujar Arumi dengan pipi bersemu merah.


"Kenapa kau harus malu."


"Dan itu juga bukan ciuman pertamamu bukan."


"Memang bukan. Karena kau selalu mencuri ciumanku. Tapi itu adalah ciuman yang aku dapatkan dengan penuh cinta. Bukan penuh nafsu seperti yang kau lakukan sebelumnya," keluhnya kembali dengan wajah cemberut.


"Sebelumnya? tapi Aku tidak pernah menciummu dengan nafsu Arumi. Yah memang beberapa kali tapi itu hanya karena aku sedang menggodamu saja."


"Oh yaa ...."

__ADS_1


"Tentu saja sayang."


"Ku harap kau tidak lupa ciuman di dalam mobil waktu itu."


Mata Randika membulat dengan ekspresi kaget yang luar biasa. Makanan yang baru saja masuk lolos dengan sangat menyakitkan karena dia menelan tanpa mengunya terlebih dulu. Ternyata Arumi tahu kalau pria yang ada di dalam mimpi indahnya itu adalah dia.


"Sial, dia tau itu aku. Lalu kenapa waktu aku tanyakan dia tidak mengatakan apa-apa," gumam Randika di dalam hati.


"Kenapa diam. Apa kau mengingat sesuatu Tuan Robot Bucin."


"Berhenti memanggilku seperti itu. menggelikan."


"Dasar Pria Robot." Cibir Arumi dengan melempari sisa roti yang dia makan mengenai Randika.


"Hei kau berani mencibirku." Randika menggeser kursinya dan berdiri mendekati Arumi dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang.


"Mau apa kau?" tanya Arumi bingung saat Melihat Randika yang mendekat dan duduk di sampingnya.


"Aku sedang menyiapkan hukumanmu."

__ADS_1


"Apa salahku," ujarnya dengan tertawa kecil.


__ADS_2