
Ballroom hotel di penuhi dengan orang-orang berdansa. Dan Evanya, dia hanya bisa menahan kesalnya melihat dari jauh bagaimana Randika begitu lembut memperlakukan Arumi. Adegan ciuman keduanya bahkan membuat perempuan berdarah Jepang itu merasa jijik hingga meninggalkan titik di mana dia dan Damian bersembunyi untuk memantau keadaan.
Kalimat janji suci yang di ucapkan Randika bahkan masih terngiang-ngiang di telinganya. Bagaimana pria itu kini menjadi milik orang lain, mengucapkan janji dengan sempurnah tanpa ada keraguan. Sedangkan dia, kini harus hancur dengan pata hati yang luar biasa. Kehancurannya itu semakin menjadi saat Damian mengatakan semua rencana mereka untuk menghancurkan pernikahan Randika dan Arumi telah gagal.
Semua ranjau yang mereka siapkan ternyata sudah di bersihkan tetapi Evanya dan Damian tidak sadar akan hal itu, Detik setelah Arumi memasuki gedung, seharusnya perempuan itu jatuh pingsan karena terkena gas beracun di dalam lift. Evanya geram, karena wanita itu keluar dengan senyum yang tidak hentinya mengembang. Para staf yang Damian bayar untuk mendampingi Arumi pun telah di ganti.
Dia tahu, ini adalah kerjaan Rilan. Pria itu tidak akan melewatkan hal seburuk apapun menghampiri adiknya. Namun, dia tidak tahu jika semua rencananya itu lebih dulu di ketahui oleh Randika. Dan sekarang dia malah tidak menyadari kalau sedang terjebak dalam permainannya sendiri.
"Apa kau ingin berdansa?"
Evanya terkejut. "Apa kau gila! Mana mungkin kita berdansa di sana. Apa kau ingin semua rencana kita gagal saat Randika dan Rilan menyadari keberadaan kita?"
"Bukankah, semuanya sudah gagal. Mereka sudah mengucapkan janji pernikahan, kau tidak lagi punya kesempatan untuk menggagalkan pernikahan ini."
Wanita itu terkekeh. "Apa kau lupa, aku pernah mengatakan. Jika Randika tidak bisa ku miliki, maka siapapun tidak bisa memilikinya."
Ucapan Evanya membuat Damian terkejut setengah mati. "Maksudmu, kau akan membunuhnya di depan Randika dan Rilan?"
"Kau pikir apa lagi."
"Tidak! Jangan bodoh! Aku tidak ingin kita tertangkap."
"Dasar payah! Jika kau tidak ingin melanjutkannya, pergilah. Biar aku yang menyelesaikannya."
"Jangan gila!" Damian menahan lengan Evanya agar perempuan itu tidak pergi. "Kita sudahi semua ini, ayo hidup bersamaku. Kita bisa memulainya bersama. Kau ingin kembali ke Jepang bukan, kita ke sana."
"Aku tidak menyukaimu Damian, perjodohan kita terjadi karena paksaan Ibu ku."
__ADS_1
"Kita bisa memulai untuk saling menyukai."
"No, Damian. Itu tidak mudah. Aku baru saja patah hati karena Randika. Tidak mungkin bagiku untuk memulai lagi."
Damian membuang napas kasar, cintanya kembali di tolak, dan sialnya penghalang itu masih tetap Randika. Damian sudah sangat berusaha mengalahkankan pria itu, dia bahkan menggunakan kebencian Evanya untuk bisa menghancurkannya. Namun, tetap kegagalan yang di dapatkan.
"Apa kau tidak bisa melupakan dia!" teriak Damian. Suara pria itu begitu keras hingga memancing beberapa penjaga yang kebetulan sedang berjaga.
"Hei, siapa itu?"
"Sial, kita akan ketahuan. Cepat! Bersembunyi. Aku akan mengalihkan mereka."
Dengan cepat, Evanya membuka jaket kulit yang di kenakan, membiarkan gaun merah dengan belahan dada yang cukup besar itu terlihat. Dia jiga menggerai rambutnya agar wajahnya tidak terlalu terlihat.
"Nona! Apa yang kau lakukan di situ, daerah ini hanya boleh di lewati oleh para staf yang bertugas. Apa kau seorang staf hotel ini?" tanya salah satu dari para penjaga itu.
"Yah benar."
"Apa kalian mencari sesuatu?"
"Kami mendengar suara pria dari dari arah sini, apa kau melihat ada orang?"
Perempuan yang sedang bersandiwara itu menggeleng. "Tidak, itu hanya suara ponselku. Pacarku baru saja menelepon."
"Baiklah kalu begitu Nona. Cepat tinggalkan tempat ini, jika tuan Rilan melihatmu kau akan terkena masalah," ujar seorang pria dengan senjata di tangannya.
"Hei bukankah dia cantik, kita gunakan saja kesempatan ini untuk menggodanya. Lihatlah dia sangat seksi."
__ADS_1
"Jangan konyol, kita tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Ayo, pergi."
Ketiga pria berbadan kekar itu pun berlalu meninggalkan Evanya. Namun, salah satu dari mereka seperti merasa berat, dia terus saja berbalik untuk melirik gaun dan belahan dada Evanya.
"****, dasar pria-pria menyebalkan. Apa yang mereka katakan tadi, kesempatan?" Evanya mengeram kesal dengan tangan mengepal. "Apa mereka pikir aku wanita penjual diri. B a n g s a t!"
Evanya kembali mengenakan jaketnya, merapikan rambutnya dan mengikatnya kembali. Bersamaan dengan itu, Damian keluar dari persembunyian. Pria itu terkekeh, melihat raut wajah wanita yang dia sukai itu cemberut.
"Kenapa kau marah. Lihatlah." Damian memberi kode dengan telunjuk yang mengarah ke bagian dada dan belahan pada paha mulus Evanya. "Pakianmu terlalu seksi, jelas saja mereka akan mengira kau wanita seperti itu."
"Tutup mulutmu bodoh! Ini semua karena kecerobohanmu. Aku harus berpura-pura agar mereka tidak curiga."
"Baiklah, aktingmu luar biasa."
Evanya hanya diam, sambil membereskan gaun dan rambutnya kembali. "Kenapa kau tidak ingin menghancurkan Randika, bukankah ini kesempatanmu untuk membuat dia jatuh dengan membuat dia kehilangan wanitanya."
"Aku hanya bisa membuatnya kehilangan wanita. Namun, tidak bisa memiliki semua yang dia punya. Meskipun Arumi mati, aku tetap tidak bisa." Pria itu mengucapkan semua kalimat dengan tatapan yang tidak lepas dari wanita di hadapannya.
"Kau bodoh! Kita bisa menculiknya dan meminta semua harta milik Randika, tidak perlu sampai membunuhnya."
"Bukan itu yang aku maksud Evanya."
"Lalu?"
"Aku bisa memiliki semua kekayaan Randika dengan menculik Arumi, tetapi aku tidak bisa memiliki hatimu meski semua kekayaan itu sudah ku miliki."
"Maka lakukanlah, buat Randika melupakan Arumi, dan aku akan menerimamu."
__ADS_1
Damian menyeringai. "Kau memanfaatkan aku lagi."