Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 68


__ADS_3

Menikmati angin pantai yang sangat menyejukan dari atas bukit De La Reine adalah keputusan yang tepat. Di tempat ini Arumi sering menghabiskan waktu untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya.


Bedanya hari ini dia datang masih terlalu siang, matahari masih sedang terik-teriknya  hingga membuat mata Arumi sesekali harus memejamkan mata karena panasnya terik matahari yang menembus kulitnya. Wanita berambut cokelat itu bahkan tidak menyadari seseorang telah mendekatinya.


"Kenapa dia melakukannya?" Wanita bermanik cokelat itu kembali memejamkan mata hanyut dengan perasaan yang sedang kacau. Dia kembali membuka mata dan terkejut saat tangan seorang menyentuhnya.


 


"Hei! Siapa ka--- Aaaaaa."


 


Bugh.


 


Wanita itu dengan kuat mendorongnya dari atas bukit hingga terpental dan menabrak sebuah mobil soprt hitam yang melintas dengan kecepatan tinggi.


 


"Oh Mon Dieu! Ai-je frappé quelqu'un? (Oh Tuhan ku! apa aku menabrak seseorang?)"


 


Pria bermanik Biru itu segera melepas seatbelt dan bergegas turun untuk memeriksa siapa yang dia tabrak. Namun, setelah mendekat dia memekik keras hingga jantungnya hampir saja berhenti berdetak.


 


"Oh Mon Dieu, Arumi?"

__ADS_1


 


Brian menutup mulutnya rapat, tidak di duga seseorang yang dia tabarak itu adalah Arumi. Dia mendekati Arumi yang terlihat sangat kesakitan.


 


"A ...apa kau baik-baik saja Rumi." Brian masih ketakutan tatapannya kini beralih pada kaki Arumi yang di penuhi darah, dan itu cukup banyak sampai membuat jantung Brian kembali berdetak tidak beraturan dengan rasa cemas menyelimuti.


"Arumi! Arumi sadarlah!" teriaknya dengan sedikit mengguncang tubuh mungilnya.


 


"Ka ... ki, sakit"


 


Brian merintih, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan keadaan Arumi yang sudah sangat lemas, apalagi deringan ponsel di saku celananya terus saja berbunyi membuat dia semakin panik.


Brian tidak fokus apalagi saat melihat darah yang semakin banyak, pria bermanik biru itu bahkan berulang kalai mengumpat dirinya yang tidak hati-hati.


Wanita itu mencoba menggerakan tubuhnya saat teriakan seseorang yang mencoba untuk membuatnya sadar itu terdengar semakin jau, tapi karena sedari pagi wanita bermanik cokelat itu tidak sarapan dan bahkan melewatkan makan siangnya, membuat dia semakin lemas dan tidak bisa bergerak sama sekali.


Lebih parahnya dia membayangkan wajah kedua orang tuanya saat mengalami kecelakaan itu, membayangkan saat ini keadaan dia dan mereka sama, terbaring lemah tanpa bisa berbuat apa-apa.


 


"Apa yang sudah aku lakukan."


 

__ADS_1


"Tuan, berhenti menatapnya dan segera bawah wanita ini ke rumah sakit. Dan tenanglah, bukan anda pelakunya. Anda hanya korban, wanita ini di dorong oleh seseorang dari atas sana." Pria betubuh besar itu menunjuk ke atas bukit. 


 


"What? apa maksudmu di dorong."


 


"Wanita itu, dia berlari ke sana setelah mendorongnya jatuh."


Brian menoleh pada titik yang di tunjuk pria gemuk yang memberi penjelasan. Benar, terlihat seorang wanita berlari dengan cepat dan menghilang di balik gedung bertingkat di sekitar bukit De La Reine.


"Shit, kenapa aku tidak menyadarinya." Brian mengumpat dengan keras. "Ayo Rumi, kita harus segera ke rumah sakit."


Kesadaran Arumi semakin menurun, gadis itu tidak bisa merasakan apa-apa, tapi dia sadar seseorang tengah mengangkat tubuhnya membantunya menaiki mobil. Beberapa kali kelopak matanya mencoba terbuka menatap dirinya yang di angkat dua orang masuk ke dalam ruangan serba putih.


Arumi masih sadar saat dirinya di baringkan di tempat tidur, sampai dia kehilangan kesadaran tatkala cairan yang mengantung di sampingnya mulai masuk menembus kulitnya.


 


"Apa dia akan baik-baik saja?"


 


"Dia sangat lemas karena kehilangan banyak darah, tapi kita sudah mengatasinya. Cairan itu akan membuat dia tertidur. Dan ... apa kau kekasihnya?"


"Mana mungkin, dia tunangannya Randika."


"Kalau begitu hubungi keluarganya agar mereka bisa tahu bagaimana kondisi wanita ini."

__ADS_1


"Aku akan mengirimkan pesan untuknya."


__ADS_2