Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 51


__ADS_3

"Dia menjadi berbeda," ujar Evanya menepuk sisi sofa yang masih kosong.


Brian menggeleng, dia memilih duduk di kursi lain depan bartender. "Kau membawanya semalam."


"Yah, dia tidur denganku."


"Kau seperti pemangsa!"


Bukannya marah Evanya malah tertawa terbahak-bahak merasa senang dengan sebutan itu. Tawa itu mengundang banyak perhatian, beberapa mata pengunjung klub tampak melihat ke arah mereka.


Berbeda dengan Brian yang menggeleng pelan. Dia merasa kasihan kepada gadis yang tertawa keras tapi terdengar hambar. Sungguh pemandangan yang menyeramkan.


"Berhenti tertawa Evanya kau menyeramkan!"


Wanita itu tidak berhenti, dia tetap tertawa sampai gelas wiski menyentuh bibir merahnya.


"Perempuan aneh."


"Apa kau tahu dimana gadis itu tinggal?" tanya Evanya saat wiski yang di teguknya tertelan habis.


"Siapa?"


"Arumi."


"Kau tidak tahu di mana dia tinggal?"


"Jika aku tahu, untuk apa bertanya padamu."


"Kau semakin mirip dengan ibu mu."


"Tutup mulutmu! dan katakan di mana gadis bodoh itu tinggal."


"Tentu saja di Mansion keluarga Garret."

__ADS_1


Tubuh Evanya menegang, bukan hanya rasa tidak suka tapi ketakutan pun kini menghantuinya setelah mengetahui keberadaan Arumi.


"Randika sangat mencintai Arumi."


"Hentikan ocehan murahan mu itu. Randika akan menikahi ku."


"Dalam mimpimu."


"Jika itu benar-benar terjadi kau orang pertama yang aku singkirkan dari kehidupan Randika.


Brian tertawa keras saat Evanya mengatakannya. "Lakukan jika kau mampu."


"Akan ku pastikan kau dan gadis pungut itu mendapatkan kesakitan batin."


"Brian mendekat perlahan. "Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya."


"Brian!"


"Aku sangat menantikan kehancuran mu Evanya."


"Jika hanya itu yang kau butuhkan. kau bisa mencari pria kaya lain Evanya. Jangan merusak kebahagian orang lain."


"Kau tahu apa tentang kebahagiaan. Bahkan ayah mu saja meninggalkan mu."


"Evanya! Jaga ucapanmu."


"Tidak ada yang salah dengan itu bukan."


"Pergi dari sini, tinggalkan tempat ini atau aku akan menghancurkan mu lebih awal."


Pria itu berhenti melangkah, membalikan badan sebelum lanjut berkata. "Dan sebelum Randika tahu tujuanmu mendekatinya."


Evanya menatap tidak suka." Sialan!"

__ADS_1


Setelah melayani Evanya Brian menghubungi Rilan memberitahukan semua yang dia tahu tentang kedatangan Evanya ke Kanada. Dan tepat, pria bermanik cokelat itu memang sudah menyadarinya.


Jauh sebelum Evanya kembali, Rilan sudah menyelidiki semua yang di lakukan Evanya saat berada di Jepang. Termasuk menggagalkan semua caranya untuk kembali mendekati Randika. Namun karena harus menjemput kedua orang tua Bos nya, Rilan kehilangan kesempatan untuk memukul telak gadis berambut pirang itu.


Kali ini dia bersama Brian. Kedua pria berkebangsaan Prancis itu tidak akan membiarkan gadis gila itu menghancurkan hubungan Randika dan Arumi.





Arumi berdiri di depan Mansion mentap dingin pada sosok salah satu pria yang baru saja keluar dari mobil dengan tertawa. Wajah dingin di tambah dengan ekspresi tidak suka membuat Brian yang akan menyapanya menelan ludah kasar.


"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Rumi."


"Selamat pagi kak."


"Hay Rumi, apa kabar," sapa Brian dengan senyum ramahnya.


"Sedang apa kau di sini?"


"Kami baru saja dari pusat kota, ini hari libur bukan. Rilan bilang akan mampir sebentar untuk menyapa kalian, jadi aku pikir akan baik jika ikut," jelas Brian dengan penuh semangat.


"Pusat kota? Wow tumben sekali seorang Rilan bisa ke pusat kota. Bukanka kau benci keramaian?" sindir Randika yang melenggang memberi pelukan salam persahabatan untuk kedua pria yang sudah lama.menjadi sahabatnya.


"Aku akan meminta minora untuk membuatkan sesuatu untuk kita."


"Terima kasih Rumi, tapi kita sudah sarapan tadi sebelum mampir," sela Brian.


"Tidak apa-apa, anggap saja ini adalah rasa terima kasihku karena berkat pesta yang kau buat. Tunanganku bisa bertemu kembali dengan mantan kekasihnya."


Ucapan Arumi menjadi pukulan telak untuk Randika dan Brian. Terlebih Brian, pria bermanik biru itu hampir saja tercekik dengan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di tenggorokan.

__ADS_1


Berbeda dengan Brian, Randika bahkan susah untuk menelan ludahnya saat Arumi mengatakan itu. Pria itu berdiri dengan ekspresi penuh penyesalan karena belum mendapatkan maaf dari Arumi.


__ADS_2