
Hay semua. Apa kabar? maaf beberapa hari ini tidak up, bukan karena nggak ingat atau sengaja tapi aku lagi sakit 🥺.
Sakit di saat pandemi itu eveknya luar biasa bikin drop. Dan alhamdulillah udah membaik dua hari ini. semoga aku tetap sehat dan bisa up terus, minta doanya yah teman-teman.
.
.
.
Mata Rilan yang berat sedikit terbuka, alkohol membuatnya tidak bisa mengendalikan diri dari rasa kecewanya. Apalagi Aurela malah mengusirnya, gadis itu memang benar-benar menyukainya tapi dia tidak mungkin memanfaatkan keadaan Rilan yang sekarang.
"Aku tidak ingin pulang," ucapnya melewati Aurela yang masih berdiri di ambang pintu.
Aurela menengok, menatap Rilan tidak mengindahkan penolakannya. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa sambil menatap Aurela. "Jangan mengusirku, aku mohon biarkan aku tetap di sini."
Aurela mentap Rilan. "Kau sungguh terlihat menyedihkan."
Rilan tersenyum sambil mengangguk. "Maka dari itu biarkan aku tetap disini."
Aurela menyimpan senyum kebahagiaannya, dia tahu ini tidak benar. Namun, ini adalah keadaan yang tidak bisa dia hindari, memaksa Rilan untuk pergi sedikit membuat hatinya teriris.
"Apa kau butuh sesuatu? maksudku seperti makanan atau minuman agar menetralkan alkoholmu, kau akan merasa mual jika tidak di hilangkan."
"Jadi kau setuju untuk membiarkan ku tetap di sini?"
__ADS_1
"Jika tidak, apa kau akan pergi?"
"Tentu saja tidak, aku akan tetap di sini dan memaksa sampai kau mau menerimaku."
Aurela menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan ingin terseyum. Namun, dia menahannya agar tidak terlihat sedang berbunga-bunga karena di goda oleh pria pujaannya. Sedetik setelahnya dia kaget karena wajah pria itu berada tepat di hadapannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Apa?"
"Kita terlalu dekat Rilan."
"Seberapa banyak kau menyukaiku Aurela?"
"Mungkin sebesar lautan kanada."
Kalimat itu membuat Rilan tertawa, dan Aurela yang terpana akan ekspresi yang baru pertama kali dia lihat. Bagaimana dengan lepasnya pria prancis itu tertawa, dia berkali-kali lipat tampan di banding biasanya. Entah kenapa dia harus memasang wajah datar dan dingin jika tertawa seperti ini lebih baik.
"Apa yang kau pikirkan tentang diriku?"
"Kau pria jahat."
"Kau menganggapku begitu karena kau mencintaiku."
"Yah, itu benar."
__ADS_1
Tubuh Aurela mundur saat Rilan merangkak mendekstinya. "Apa kau benar-benar menyukaiku?"
"Kau tahu segalanya."
Rilan memperlihatkan tatapan nakal, dia semakin mendekat hingga tidak ada jarak di antara keduanya. "Apa aku boleh menciummu?"
Aurela tertawa tepat di bibir Rilan. Rasa bahagianya saat ini tidak bisa tergambarkan, meski menfaatkan keadaan. Namun, dia tidak menyesal. Kesempatan tidak akan datang dua kali bukan, maka jangan sia siakan itu.
"Apa aku boleh mengatakan iya?"
Sepersekian detik setelah pertanyan konyol itu, keduanya larut dalam ciuman yang panas. Entahlah mungkin karena efek Rilan yang sedang mabuk atau karena Aurela yang sudah sangat menantikannya.
Aurela berada di atas tubuh pria prancis itu, mengendalikan dirinya. Tubuh tak berdayanya yang dalam pengaruh alkohol membuat wanita itu mendominasi semuany. Dalam waktu singkat dia berhasil membuat pria yang memiliki manik cokelat itu mengerang membuat mata Rilan yang hampir saja tertutup itu terjaga dan kembali ke permukaan ke sadaran.
Aurela yang sudah terkendali gairah memekik halus saat Rilan mencium lehernya, dadanya naik turun merasakan sensasi yang luar biasa. Rilan kembali membungkam bibir Aurela dengan ciuman, membuat perempuan itu kehilangan ruang geraknya. "Rilan," ucap Aurela dengan suara bergetar.
"Maafkan aku."
"Untuk apa lagi?"
"Untuk semuanya, yang dulu malam ini dan nanti."
Rilan benar-benar pria tampan dan satu-satunya pria yang Aurela inginkan dari dulu. Maka dari itu dia membiarkan pria itu melakukan apapun malam ini. Jika ada yang bertanya padanya kenapa dia mau menerima Rilan di saat pria itu di campakan. Maka dia akan menjawab, karena ini adalah cinta, bahkan meskipun hanya sesaat dia tetap akan menerimanya.
"Ternyata butuh orang ketiga untuk bisa membawamu padaku."
__ADS_1