
Fajar belum menunjukkan dirinya, tetapi Randika sudah terjaga. Tatapannya terpaku pada wanita yang tidur di sampingnya. Punggung putih mulus Arumi membuat Randika tidak tahan untuk mengelusnya, yang kemudian membuat Arumi bergerak dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang ...."
Arumi terjaga, dia mengucak kedua matanya pelan agar penglihatannya tidak kabur. Perempuan yang baru saja melewatkan malam pertama bersama suaminya itu berusaha duduk. Namun, karena tubuh mungilnya tidak berbalutkan apapun, dia kembali ke posisinya dengan lebih menaikkan selimutnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Arumi saat mendapati pria yang baru saja resmi menjadi suaminya itu menatapnya dengan ternyum.
"Aku tidak bisa tidur jika keadaanmu seperti ini Sayang."
Arumi mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan Randika. "Apa maksudmu dengan keadaan sepert,i ini, Sayang. Memangnya apa yang terjadi padaku?"
__ADS_1
Randika membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya. "Lihatlah, kau sangat membuatku ingin kembali menerkammu."
"Aaw!" Arumi menjerit saat menyadari tubuhnya tidak terbalut apapun. Dia menarik selimut dan menutup tubuhnya dengan cepat. "Dasar mesum."
Randika terkekeh, dia mendekati istrinya memberikan ciuman berulang kali pada bibir tipisnya yang selalu membuat dia candu. "Aku menginginkannya sekali lagi.
"Tapi ini sudah pagi, Sayang."
Perempuan itu terkekeh, dengan gemasnya dia mencubit pipi suaminya, dan tanpa ada rasa malu sama sekali, dia melompat hingga kedua pahanya jatuh di antara sisi tubuh kekar Randika. "Ayo kita mulai lagi."
Andrea memekik, tubuhnya bergetar dengan hebat saat Randika mulai mencumbuinya. Kedua tangannya melingkar pada leher pria yang sedang menciumnya. Seumur hidupnya, dia baru pertama kali melakukan hal seperti ini, dan Randika bersyukur karena dia adalah orang pertama yang menyentuh istrinya.
__ADS_1
"Ran ...." Arumi bergumam nama suaminya dengan begitu lembut, membuat pria yang sedang membara itu mengecup puncak kepala istrinya.
Kembali, bibir Arumi merekah, menunggu Randika untuk segera mencumbuinya kembali. Dan Randika melakukannya, dia kembali mencium bibir yang sejak tadi malam dia nikmati. "Aku mencintaimu Arumi, sangat sangat mencintaimu," ucap Randika di sela-sela ciumannya.
Arumi membalas senyum Randika dengan membalas belaian bibir Randika, membuat ciuman keduanya semakin dalam dan panas. Aroma tubuh Randika yang begitu harum membuat Arumi terbuai dan lebih merapatkan diri ke Randika. Sejenak, Arumi merasa dadanya semakin mengeras dengan dan menuntut untuk mendapatkan lebih dari sekedar ciuman.
Arumi mendesah, sementara dadanya semakin rapat dengan tubuh Randika. Tangan randika yang menjalar di seluruh tubuhnya membuat dia semakin tidak terkendali. Arumi mengerang saat ciuman itu terlepas, dia memindahkan kedua tangannya di dada Randika, meremas dengab erat di sana hingga membuat pria bermata hitam itu mendesah karena merasakan perih.
"Boleh aku memulainya?" tanya Randika tepat di bibir Arumi. Yag langsung di jawab dengan anggukan kecil dari istrinya.
Randika melupakan gelelisahannya terhadap Evanya, rasanya sangat bahagia karena akhirnya dia menikahi Arumi. Kini, dia memilih untuk menikmati kebahagiaan ini bersama istri tercintanya, dia ingin melupakan sejenak beban dan menikmati asmara yang membara ini tanpa beban pikiran.
__ADS_1
Seluruh urat saraf Arumi seakan menjerit dalam suka cita saat Randika memulainya.