
Lamunan itu buyar ketika pintu terbuka dan Randika muncul di sana. Arumi berpura-pura merapikan rambutnya, untung saja dia sudah memakai batrobes untuk menutupi tubuhnya kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.
Randika mendekatinya dengan senyum yang penuh godaan pria itu menyematkan lehernya pada bahu Arumi. "Apa yang kau lalukan berjam-jam di kamar mandi? Apa kau sedang menghindariku?"
"Ti-tidak."
"Lalu kenapa kau cukup lama."
"Aku .... Aku, aku hanya sedang merapikan rambutku," ucap perempuan itu terbata-bata.
Randika terkekeh. "Apa kau malu denganku?"
"Aku akan keluar," ucapnya menerobos tubuh Randika yang berdiri tepat di hadapannya.
Bukan main, betapa malunya Arumi saat ini. Bagaimana tidak, Pria itu melakukan penyatuan tubuh tanpa seijin darinya, dia bahkan membuka tanktop yang dia pakai tanpa ragu-ragu.
"Aaaaah dasar pria menyebalkan," Arumi meringis dalam batinnya, mengumpat tiada henti untuk apa yang barusan terjadi padanya. "Kenapa kau harus demam, dan kenapa kau harus aaaah ... sudahlah, aku bisa gila jika terus mengingatnya."
Dan tiba-tiba, Arumi tersentak kaget ketika Randika menarik pinggangnya membuat dada mereka bertabrakan. "Ada apa denganmu? Kau terlihat aneh setelah demam mu turun."
"Lepaskan!" pinta Arumi mencoba melepas diri.
__ADS_1
Randika tertawa geli melihat wajah kekasihnya yang sedang bersemu merah karena malu. "Kau hanya perlu mengakui bahwa kau malu Sayang."
"Itu tidak benar, untuk apa aku malu."
Randika memegang pipin wanita itu. "Kau selalu saja begitu. Tidak pernah mau mengakui apa yang ada di dalam pikiranmu."
Arumi melepas paksa tangan kekar itu. "Itu karena kau melakukanya dengan tiba-tiba."
Randika seketika tertawa keras. "Jadi kau mengakuinya?"
"Aaaaa, sudahlah, jangan membuatku semakin malu." Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ganti bajumu, kau akan kembali demam jika memakai ini terus."
"Kalau begitu keluarlah," bisik Arumi malu.
Wajah Randika berubah cemberut. "Apa aku tidak booeh di sini, aku ingin melihatmu mengganti baju."
"Randika!"
"Memangnya kenapa? bukankah aku sudah melihatnya."
__ADS_1
"Dasar pria mesum, keluarlah." Arumi mendorong kekasih agar cepat keluar, kalau tidak pria itu akan terus menggodanya.
"Tapi Rumi aku hanya--"
"No, ayo keluar, Mom dan Daddy ada di sini, jika ketahuan kita akan di marahi." Perempuan itu lalu menutup pintu dengan cepat. "Huuf."
Jam sudah menunjukan pukul 6 dini hari, Randika berusaha menghubungi Rilan beruoang kali Namun, no pria Prancis itu tidak bisa di hubungi. "Ke mana dia, kenapa ponselnya tidak aktif."
Randika bergegas untuk keluar Mansion, karena penasaran dengan keberadaan Evanya, beruntung Brian menghubunginya tepat saat Arumi memergoki pria itu saat di depan pintu.
"Apa kau mau pergi?"
"A-aku hanya ingin menghirup udara pagi sebentar sambil menerima panggilan Brian," ucapnya gugup. Randika melakukan ini bukan karena ingin merahasiakan tentang Evanya dari Arumi, dia hanya ingin beberapa hari menjelang pernikahannya tidak ada lagi keheboan atau salah paham di antara mereka.
"Baiklah, silahkan. Aku akan menemui Claudia untuk menangakan menu sarapan hari ini."
Randika mengangguk tersenyum manis kepada kekasihnya. Arumi pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis, mencoba mengabaikan tapi matanya terus saja melirik.
Rasa penasaran membuatnya sulit berkonsentrasi. Selama beberapa menit, tatapan itu terhenti pada objek hang memakai kaos putih dan celana panjang yang menutupi tubuh atletisnya. Rahang yang kokoh dan sedikit bulu yang tumbuh di sana membuat penampilannya terlihat gagah. Namun, entah kenapa, tatapan mata Randika seakan ada sesuatu yang dia tahan.
"Apa yang sedang kau sembunyikan dari ku?"
__ADS_1