Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 128.


__ADS_3

"Berapa tamu yang akan hadir Tuan?"


"Entahlah, aku lupa. Bukankah semua undangan kau yang sebarkan?"


"Semua undangan di atur oleh Nyonya Jenny, Tuan."


"Begitukah."


"Oui monsieur."


Randika mengangguk-ngangguk, dia duduk di salah satu kursi tamu yang di sediakan. "Aku sangat gelisah."


"Evanya?"


"Aku takut Arumi akan tahu jika wanita itu masih berkeliaran, entah apa yang harus aku katakan padanya jika Evanya tiba-tiba muncul besok."


"Apa aku perlu melakukan sesuatu padanya?"


"Jangan! Biarkan saja. Bukankah dia hanya ingin mengatakan selamat tinggal. Jika kita mengusiknya sekarang, dia akan kabur dan bersembunyi lagi."


"Tapi Tuan, dia bersama Damian. Apa kau tidak takut jika mereka melukai Arumi atau menghancurkan acara pernikahanmu?"


"Itu bagianmu."


"What?"

__ADS_1


"Kau yang bertanggung jawab melindungi Arumi dan keluargaku."


"Kalau begitu kau tidak keberatan jika aku membawa Arumi pergi bukan?"


Maniknya beradu dengan Rilan. "Maka yang aku bunuh adalah kau!"


senyuman miring muncul di ujuang bibir Rilan.


"Dasar robot. dia selalu mengatakan apa yang dia suka. tapi tidak ingin orang lain menyentuh apa yang dia sukai."


Rilan bergumam di dalam hati, seperti mengutuk majikannya yang selalu saja menindasnya.


"Apa kau akan kembali ke Prancis setelah acara?"


"Yah, adik ku membutuhkanku. Aku akan pergi setelah kau dan Arumi pergi untuk berbulan madu."


"Tidak apa-apa, aku akan tetap berada di sini."


"Semua akan baik-baik saja Rilan, pulanglah. Bukankah kekasihmu sedang menunggu?"


Rilan terkekeh, dia melupakan hal itu. Sebenarnya sudah dari tadi Aurela menunggunya, Rilan berjanji akan makan malam berdama wanita itu. Namun, karena tugasnya dia harus membatalkan janji itu dan menukarnya dengan melewati malam yang panas bersama Aurela. Namun, sepertinya dokter cantik itu sidah tertidur.


"Baiklah, aku pergi. Kau juga Tuan kembali dan istirahatlah. Besok adalah hari yang sangat menegangkan, kau harus cukup istirahat untuk itu."


"Pergilah, aku akan pulang setelah melihat-melihat keadaan sekitar."

__ADS_1


Rilan mundur selangkah lalu sedikit menunduk, sebelum berlalu pergi, pria Prancis itu menghampiri beberapa orang yang berkerumun dan memberi tahu agar tetap waspada. "Ingat, jika ada yang mencurigakan, segera hubungi aku."


"Baik Tuan!"


Mobil sport hitam itu pun melesat membela gelapnya jalanan menuju tempat di mana kekasihnya berada. Rilan menuju sebuah kawasan Apartemen mewah di pinggiran kota quebec, di sana wanita dengan wajah marah sedang menantinya. Dan benar saja, ketika langkah kakinya meleeati pintu, dia di sambut dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Kenapa kau baru kembali? Kau juga tidak membalas pesanku panggilanku juga kau abaikan. Apa yang kau lakukan di sana, dengan siapa? Apa seorang Wanita? Apa dia cantik?"


"Sayang, pelan-pelan."


Perempuan itu tidak menjawab. Namun, memperlihatkan wajah kesalnya.


"Maaf, Sayang. Randika, butuh orang untuk mengawasi gedung. Dan banyak hal yang harus aku awasi, aku khawatir jika aku tidak di sana, semua persiapan berjalan tidak sesuai."


"Lalu, bagaimana dengan ku, kau tidak mengkhawatirkanku?"


Rilan tersenyum. "Kemarilah." Pria itu merentangkan tangan agar wanitanya datang mendekat. "Aku merindukanmu."


"Dasar gombal."


"Randika kaku dalam melakukan hal seperti itu, semua urusan di serahkan langsung oleh Ibunya kepadaku. Karena jika Randika yang melakukannya, maka pernikahan itu akan terasa seperti klub malam. Kau tahu maksud ku bukan."


"Maka lakukanlah, bersama. Kenapa kau melakukannya sendiri."


"Itu adalah tugasku, aku pegawainya Sayang."

__ADS_1


"Lalu bagaimana demganmu, apa kau sudah merencanakan pernikahan kita?"


Ucapan Aurela seakan di gantung boleh kekasihnya, sadar dengan sikap Rilan yang tidak menanggapi ucapannya, Aurela mendengus membenamkan kepalanya di pelukan kekasihnya. Begitupun dengan Rilan, sekan tidak bertemu berhari- hari dia melayangkan ciuman bertubi-tubi pada puncak kepla kekasihnya, dengan pelukan yang sama sekali tidak terlepas.


__ADS_2