
Jenny menggelengkan kepalanya menatap wanita yang berdiri di depannya, baju yang menempel pada tubuhnya sangat jelas memperlihatkan dia berasal dari mana. Emy, dia adalah ibu dari Evanya. Sesuai namanya dia tampak sangat cantik, tubuhnya yang ramping membuat wanita itu terlihat seksi.
Jenny tidak bisa melihat wajah Emy dengan jelas karena wanita itu terus saja meliuk liuk di depannya seperti seekor ular. Sesekali dia akan berdiri dengan punggung yang menempel pada pintu lalu berbalik dan berjalan seperti model di depan Jenny hingga wanita itu merasa pusing.
"Bisakah kau berhenti, kau membuatku pusing."
"Aku?"
"Yah, kau!"
Emy tertawa keras, membuat Jenny yang duduk di depannya bisa mencium bau alkohol dari dalam mulutnya. "Kau tidak tahu siapa aku?"
"Tidak!"
"Baiklah." Dia mengulurkan tangan jenjangnya. "Emy, aku pemilik tempat ini. Kau bisa memanggilku Madam Emy."
"Kau mabuk?"
"No, aku hanya sedikit meneguk alkohol saat melayani tamu istimewahku tadi, dia calon menantuku."
Jenny berdecak. "Sangat tidak heran jika seorang pemilik klab malam seperti mu berbau alkohol. Dan putrimu, bukankah dia sudah memiliki kekasih? lalu kenapa dia harus bersama pria lain."
Emy merasa tersinggung, wanita yang ada di depannya ternyata bukan dari kalangan biasa. Emy mulai merapikan bajunya, dia mengibas sedikit rambutnya dan duduk dengan sangat sopan.
"Ada urusan apa kau mendatangi tempatku?"
__ADS_1
"Anakmu, Evanya. Dia membunuh sahabatku, apa kau tahu itu?"
"Apa maksudmu! gadis ku tidak akan melakukan hal sekeji itu."
"Kau percaya padanya? dia bahkan menimpakan semua kesalahan itu pada putra ku."
"Putramu? siapa dia."
"Randika Garret. Dia adalah anakku. Evanya meninggalkannya dan membuat dia sebagai tersangka kecelakaan itu."
"Non madame, kau telah salah orang. Anakku adalah gadis yang baik, dan tentang putramu itu, dia tidak bisa memberikan apa yang kami butuhkan jadi ku putuskan untuk memisahkan mereka."
"Mom, kau bicara dengan siapa?"
"Hay Nona pembuat ulah, senang melihatmu?"
"Je-Jenny?"
Tubuh Evanya menegang, ketakutan dan kecemasan muncul sekaligus. "A-apa yang kau lakukan di sini Jenny?"
"Jangan berlaga bodoh di depanku Evanya, kau tahu tujuan kedatanganku."
Emy menatap tidak suka. "Maaf Nyonya bisakah kau langsung ke intinya saja, aku tidak punya banyak waktu."
Jenny tertawa keras, dia menatap ibu dan anak itu dengan wajah datar. " Baiklah, kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."
__ADS_1
"What are you saying, I did nothing. ( Apa yang kau katakan, aku tidak melakukan apapun)."
"Kau!!" Jenny menahan sedikit emosinya. "Kau menabrak orang dan meninggalkan mereka di jalanan begitu saja, apa kau lupa!!"
Teriakan Jenny membuat Evanya menelan ludah kasar sebelum menjawab "A-apa yang kau katakan Jenny, aku tidak mengerti."
"Nona Evanya Mastaw! Apa kau ingin mengalihkan semua kesalahanmu untuk putra ku?"
"Bu-bukan aku pelakunya, Randika. Yah dia yang melakukannya."
"Evanya!!"
"Hei Nyonya, bisakah anda tidak berteriak, putriku ketakutan." Emy memeluk Evanya dengan erat, tubuhnya sedikit gemetar karena rasa takut.
"Mom, aku tidak melakukannya. Aku berkata jujur bukan aku," ucapnya dengan menangis.
"Kau dengar, dia mengatakan tidak melakukannya," ujar Emy.
"Aku punya bukti rekaman cctv yang memperlihatkan mobilmu menabrak keras Evanya. Mereka memiliki seorang putri dan dia tidak memiliki siapa pun, jika keadilan ini tidak dia terima, maka kau sangat berdosa."
"No Mom, bukan aku ... bukan aku!" Evanya terus saja berteriak, menyangkal semuanya hingga membuat Emy marah dan mengusir Jenny dari klab.
"Pergi dari sini! Cepat atau aku akan menyuruh security untuk menyeretmu," usir Emy.
Jenny berdecak. "Rupanya kau wanita nakal, aku pikir akan menyelamatkanmu untuk putra ku. Tetapi, aku salah. Dugaan ku dari awal memang benar, kau mengincar putraku karena kekayaannya."
__ADS_1