Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 37


__ADS_3

"Kita harus pergi Tuan, ini waktunya anda bertemu dengan Klien."


Rilan Pria yang dengan setia menunggu Tuannya selesai melepaskan sesak di hatinya itu menyeru.


Tatapan mata hitam Randika masih terpaku pada foto Evanya. Baru saja Randika menyuruh Clarisa membersihkan semua barang peninggalan Evanya yang masih tersisa di ruang kantornya.


"Tuan."


Randika mengambil tas dan map di atas meja dan berjalan tanpa berkata menuju mobil.


"Di mana tempat pertemuannya?"


"Restaurant Taniere."


"Kenapa mereka memilih Restaurant gelap itu," ujarnya sedikit tidak menyukai.


Butuh 30 menit untuk sampai ke tempat yang di maksud. Pria dengan manik mata hitam itu turun begitu Rilan membukakan pintu. begitu Pria itu mendongak dengan posisi tubuh berdiri sempurnah, matanya sudah di sambut dengan gaya tampilan Restaurant ala kontemporer yang menyajikan bebatuan tanpa warna tapi sangat berkelas. Namun tetap saja dia tidak menyukai tempat ini.


Randika memang selalu tidak suka jika ada salah satu relasinya mengajak untuk bertemu di tempat itu. Baginya tempat itu seperti tidak ada prifasi karena tempat duduk yang terlalu rapat, dan ruangnya seperti di dalam gua dan terkesan sesak dan gelap.

__ADS_1


"Tuan Garret, apa kabar anda," ujar seseorang yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka. Dia mengulurkan tangan untuk berjabat dan mempersilahkan Randika untuk duduk.


"Maaf, apa anda yang memilih tempat ini," tanya Randika dengan tatapan mata tidak ramah.


"Tentu saja. Apa kau suka Tuan Garret?"


"Aku hanya menyukai dunia malam tapi tidak dengan kegelapan."


"Alkohol."


"Tidak."


"Kau sudah pensiun Tuan Garret."


Demian terkekeh. "Tentu saja tidak. Tanah itu aku beli untuk membuat sekolah khusus untuk para penyuka Piano. Kekasihku akan kembali, dan dia akan mengelolahnya dengan ku."


Jleb


Bagaikan tertusuk pisau lagi. Sakitnya kali ini berkali-kali lipat di banding saat Arumi menanyakan hubungannya dengan Mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau menghubungi ku."


"Aku pikir butuh biaya besar untuk mewujudkannya. Jadi Aku mengajak mu untuk berinvestasi di sana."


Pria itu terdiam cukup lama. Mengeram di dalam hati, mengingat siapa sebenarnya Demian di dalam benaknya membuat dia ingin sekali melayangkan tinju pada pria di depannya.


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu. Apa dia setuju kalau aku menanamkan sedikit saham ku di sana?" Dia mengambil segelas minuman dan meneguknya. Ini adalah teman yang pas di dalam cuaca yang panas ini.


"Oh, ayolah. Kau tahu dia pasti akan sangat menyukainya," ujarnya dengan tersenyum tipis.


'Sial ... apa maksud Demian mengatakan semua ini, bukankah dia dan Evanya tidak bersama. Apa dia sengaja melakukannya untuk membuat Randika marah?' Rilan membatin


"Tuan, apa kau baik-baik saja," ujarnya berbisik saat melihat perubahan wajah Randika yang menegang.


Anggukan Randika membuat senyuman terukir di wajah tampan itu. "Menurut berkas yang anda ajukan, bukankah ada donatur untuk pembangun gedung itu?" tanya Rilan di sela tatapan sengit antara Tuannya dan rekan bisnisnya.


Ucapan Rilan membuat Demian tertawa hambar. "Jadi maksudmu kalian menolaknya."


"Kau tahu alsannya Demian."

__ADS_1


"Tapi Evanya adalah kekasihmu dulu bukan. Kau tidak ingin melihat dia sukses dengan hal yang dia sukai," teriak Demian


"Begitukah, Lalu ke mana dia selama ini?"


__ADS_2