
"Maaf menunggu lama."
Rilan tersenyum tipis. Dia menyambut Tuannya yang sedang kasmaran. "Adegannya sangat menggoda," ujarnya dengan menyenggol Randika.
"Tidak sopan mengintip orang seperti itu."
Rilan terkekeh dia melaju bersama Tuannya dengan Honda civic putih milik perusahaan yang selalu dia gunakan untuk menemani tugasnya sebagai seorang sekretaris. Mobil itu membela jalan Kota Quebec tanpa hambatan hingga sampai dengan manis pada salah satu perusahan terkuat di Kanada itu Amirta Grouper. Dulu perusahaan itu bernama Garret Company. Namun setelah ayahnya mengambil alih semua aset perusahaan di ubah menjadi Amirta Grouper.
"Apa kau akan ikut Acara reuni nanti?" tanya Randika saat keduanya sedang berjalan menuju ruang kebesarannya.
"Tentu saja kawan." jawab Rilan berbisik.
Randika menatap Rilan dengan senyum di ujung bibirnya. Sudah sangat lama dia tidak berbicara secara formal dengan sahabatnya. Dia menetapkan aturan yang mengharuskan semua orang mematuhinya termasuk sahabat karibnya sendiri. Meskipun saat waktu luang dia tidak pernah mengijinkan Pria dengan mata sipit itu untuk berbincang santai dengannya.
"Selamat datang Tuan," sekrertaris wanitanya membuka pintu untuk Randika dan Rilan.
__ADS_1
Suara Wanita dengan warna rambut pirang itu mengaung memenuhi pendengarannya dengan sederet jadwal kegiatannya hari ini. Pemilik mata hitam itu duduk dan mendengarkan Clarisa dengan selesai.
"Terima kasih Clarisa. Keluarlah, jelaskan sisanya nanti untuk Rilan."
"Baik," ujarnya berjalan keluar dari ruangan itu.
Rilan yang berdiri tidak jauh dari Tuannya pun segera keluar menyusul Clarisa sesuai perintah Randika. Setelah selesai dia kembali masuk untuk melaporkan sesuai dengan porsinya.
"Kau punya saran," ujarnya bersandar dengan tatapan menerawang.
"Tentang apa?" tanya Rilan bingung.
Wajah Rilan menegang hingga menatap Randika dengan mata yang hampir saja keluar. Beberapa hari ini dia berusaha untuk menutup segala akses Randika pada Evanya dan tiba-tiba Arumi malah menanyakannya. Jantungnya hampir saja keluar, dia takut Tuannya akan tahu apa yang dia sembunyikan.
"Apa anda bertingkah aneh di depannya akhir-akhir ini?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Aku sibuk memikirkan bagaimana cara memberikan banyak cinta untuknya." Randika menatap kosong pada Rilan, dia terlihat bingung dan meminta pertolongan apa yang harus dilakukan.
Bertahun-tahun dia menunggu kedatangan Evanya, tapi gadis itu sama sekali tidak kembali. Dan sekarang, di saat dia sudah bisa melupakannya dan ingin memulai hubungan baru, tiba-tiba saja gadis yang dia pilih sebagai jantung hatinya kini malah menanyakan bagaimana hubungannya dengan gadis yang sudah menghancurkan segala harapannya.
"Lihatlah kau bahkan melamun Tuan," ujar Rilan menghentikan lamunan sahabatnya.
"Aku akan keluar, bertanya padamu seperti bertanya pada patung," ujarnya kesal
Rilan tersenyum kecil. "Apa kau benar-benar takut Arumi tahu hubunganmu dengan Evanya?"
"Entahlah. Di satu sisi aku ingin mengatakan yang sejujurnya pada Arumi. Tapi di satu sisi, aku takut jika dia tahu bagaimana aku mencintai Evanya dia akan meninggalkanku." Randika memejamkan mata begitu sinar matahari menembus kaca ruangannya. Merasakan kehangatan yang dulu selalu dia rasakan bersama Evanya di tempat ini.
"Aku harus mengatakannya Rilan." Randika berkata dengan sangat sendu.
Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Rasa sakit hatinya seperti menggerogoti tubuhnya. Dan keputusannya untuk memberitahukan semuanya kepada Arumi mungkin akan sedikit membuat beban hatinya menghilang. Selama ini dia meredahkannya dengan menghabiskan seluruh harinya di berbagai kelab bersama para wanita penghibur.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa mengatakannya padamu tadi. Aku takut kau akan meninggalkanku."
Bersamaan dengan kata-kata yang dia ucapkan Air mata Randika jatuh membasahi pipinya. Lelaki yang terlihat tegar dengan suara lantangnya itu kini sedang menangis di depan sahabatnya tanpa merasa malu.