Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 80


__ADS_3

"Aku tidak ingin di obati."


"Hei, kau akan menderita, luka tembakan itu cukup dalam dan darah yang terus mengalir ini akan


membuat wajah cantikmu itu pucat."


"Diam kau wanita gila."


"Aku?" Aurela terkekeh. "Dengar Nona, kau sedang terluka sekarang, sebaiknya hentikan ocehan mu atau akan ku jahit mulutmu itu."


"Benar kata Aurela, berhenti menolak dan duduklah dengan diam," ujar Brian.


"Kau penghianat."


"Aku melakukan hal terbaik untuk sahabatku."


"Dasar penghianat!"


Brian memutar kedua bola matanya, berbicara dengan Evanya membuat kepalanya pusing. Dia memberi kode untuk Aurela agar melakukannya meski dia merontak. Namun sudah beberapa kali mencoba Evanya malah semakin berontak, wanita itu bahkan meneriakinya gila. Brian dan Rilan bahkan tidak mampu menenangkan-nya karena Evanya terus saja berontak dengan kata umpatan yang tiada henti.


"Kita harus bersihkan lukamu Evanya, darahnya terus keluar," ucap Brian menahan Evanya agar duduk.


"Non, aku menginginkan Randika ada di sini."

__ADS_1


"Jangan konyol, dia sedang bersama tunangannya."


"Non, Randika!"


"Evanya tenanglah."


"Randika! Randika aku mencintaimu!"


"Wanita gila," ucap Aurela.


"Diam atau kau akan berakhir seperti kedua pria bayaran mu tadi."


Hentakan Rilan membuat wanita berambut pirang itu bungkam, memilih diam dan menerima pengobatan dari pada harus berakhir tragis. Dia tidak seharusnya mengalami ini, seharusnya dia sedang bahagia di pelukan Randika.


"Tenanglah, Evanya, Tuhan bersama orang-orang yang ikhlas, kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dari pada Randika."


"Aku akan membersihkan lukamu," ucap Aurela menatap luka bekas tembakan yang sudah semakin hancur.


"Lakukan dengan pelan, ini sangat menyakitkan."


Pernyataan itu membuat Aurela mengerutkan kening karena sedari tadi wanita ini menawarkan diri untuk mengobati. Namun, Evanya terus menolaknya. Aurela melakukannya dengan pelan sesuai permintaan Evanya, ketika obat menyentuh lukanya wanita itu berdesis menahan perih membuat wajahnya berpaling dari luka.


"Kau membuat pria itu hampir membunuh mu, jika seperti ini mana bisa kau menjadi Pianis terkenal."

__ADS_1


"Tutup mulutmu dan cepat selesaikan tugas mu."


"Kau sungguh menyedihkan Nona Mastaw."


Evanya menjerit dalam diam, harga dirinya sudah tidak lagi berharga. Semua yang dia terima dari Randika benar-benar membuat hidupnya hancur. Dua layaknya sampah dan kotoran, andai saja dulu dia tidak meninggalkan Randika mungkin hari ini dia akan bahagia di sampingnya.


Belas kasihan kini berubah menjadi injakan buat Evanya perempuan itu menggelang sambil tersenyum licik. "Kau tidak akan pernah memilikinya."


"Aku mengingatkan mu agar tidak lagi terluka Evanya," ujar Rilan dengan tatapan tajam.


Evanya tersenyum miring. "Harga diriku memang rendah, tapi aku tidak akan kehilangan-nya."


"Wanita keras kepala!"


"Dan kenapa kau memilih untuk menyimpan perasaanmu, bukankah kau menyukai kekasih sahabatmu?"


Rilan tersenyum miring. "Apa kau pikir aku sama rendah sepertimu?"


"Ayola Rilan jangan membodohi hatimu, kau tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi, kalian akan berakhir saling menyakiti. Wanita itu akan membuat persahabatan kalian hancur."


Tangan Rilan menahan wajah Evanya dengan kasar, dia mencengkeram erat dagu wanita itu menatapnya tajam layaknya elang yang menemukan mangsa. "Sebaiknya simpan kata-kata murahanmu itu sebelum aku menghancurkan wajah cantikmu."


"Pria yang malang," desis Evanya berdiri, dia berbalik menuju ranjang untuk menyandarkan tubuhnya yang lemas.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Rilan, hal itu membuat Evanya melanjutkan ucapannya. "Aku harap kau memiliki hidup yang lebih baik dariku, Rilan. Cinta lebih menakutkan dari pada senjatamu. Cinta bisa menyakitimu, menghancurkan harga dirimu hingga benar-benar tiada.


Rilan menyeringai. "Kau yang memilih untuk di injak, bukan di puja. Maka nikmatilah, jangan membawa hawa buruk itu untuk mempengaruhiku. Karena aku berbeda denganmu."


__ADS_2