
Randika tidak berhenti menatap wajah Arumi, sesekali dia mencubit pipi nya karena tidak tahan ingin mencium gadis itu. Jika saja tidak ada Claudia dan Minora, mungkin dia sudah menciumnya berkali-kali.
"Apa yang kau lakukan?"
Senyum Randika mengembang mengarah ke wajah Arumi yang terlihat bingung, sarapannya benar-benar terganggu karena tangan pria yang memiliki manik hitam itu terus saja berada di pipinya.
"Apa kau baik-baik saja Sayang?"
Pria itu tetap diam dengan senyumnya, matanya berkedip seolah meminta sesuatu yang mana malah membuat Arumi memutar kedua matanya.
Perempuan itu berdecak, dia melangkah dan mencubit kedua telinga tunangan-nya hingga membuat pria berkaos putih itu memekik kesakitan. "Kau selalu saja mesum Randika."
"Aaaaah ah ... ah ... Sayang, itu sakit lepaskan!"
"Jangan menatapku dengan tatapan penuh nafsu seperti tadi, kau terlihat seperti pria hidung belang." Arumi kembali duduk dan menyantap kembali sarapannya.
"What? dari mana kau mendapatkan kalimat itu."
"Kenapa, apa kau tidak terima?"
"Aku selalu menerima apapun yang kau katakan sayang," ucapnya dengan mengedipkan mata menggoda.
"Ehem."
Arumi mencibir ke arah Randika saat terdengar deheman Claudia. Kepala pelayan itu seperti satpam hari ini, dia terus saja mengawasi kedua pasangan ini dan tidak memberi ruang untuk mereka agar bisa bermesraan.
"Clau, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu sekarang. Kami ingin sarapan berdua saja."
Pelayan itu menggeleng cepat. "Aku akan tetap di sini Tuan muda."
"Kau tidak merasa risih melihat kita bermesraan seperti ini?" Randika mencium cepat pada pipi kekasihnya.
__ADS_1
"Hei, kau!"
"Aku di sini untuk mencegah Tuan melakukannya lagi," ucap Claudia memincingkan mata tanda tidak suka.
"Aku Tuanmu Claudia, kau berani mengatakan seperti itu di depanku."
"Aku hanya mematuhi perintah dari Nyonya dan Tuan besar," ucapnya datar.
"Apa!!"
Randika dan Arumi saling menatap dengan wajah kaget membuat Minora tidak tahan untuk ikut berkata.
"Tuan dan Nyonya meminta agar kalian tidak melakukan hal-hal seperti ... seperti." kedua telunjuk Minora bersatu, dia bahkan melakukan-nya berulang kali dengan pandangan ke arah Claudia karena tidak berani menatap kedua Tuannya.
"Seperti apa Minora?"
"Seperti ini Nona." Dia memberi lirikan pada jarinya yang terus saja bergerak. Randika yang paham dengan maksud Minora hampir saja terbahak-bahak, untung saja dia bisa menahan tawanya. Arumi yang masih kebingungan menatap Randika dengan tajam.
"Kenapa kau menahan tawamu, apa ada yang lucu?"
Claudia sekejap melebarkan matanya dengan wajah yang sangat tidak ramah. "Patung?"
"Sudah-sudah, lanjutkan pekerjaan kalian. Kita tidak mungkin melakukan hal seperti itu di depan kalian dan tentu saja tidak di sini."
"Melakukan apa yang kau maksud."
Randika menyeringai, tiba-tiba saja ide untuk menjaili kedua pelayan-nya muncul di benaknya.
"Apa kau ingin mencobanya Sayang?"
"Apa boleh?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum dan sepersekian detik dia berdiri dari duduknya meraih tangan Arumi hingga membuat wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan seketika langsung berada dalam pelukan tunangannya.
"A-apa yang kau lakukan"
"Bukankah kau ingin mencobanya."
"Tapi ... ahmmmp."
Belum sempat Arumi berucap, Randika sudah lebih dulu menutup mulutnya.
"Aaaaaa!"
"Tuan Muda!"
Tidak ada yang bisa menghentikan Randika, lumatannya di bibir wanita pemilik manik cokelat itu membuat kedua pelayannya itu memekik kaget dan dengan spontan berlari pergi, bahkan Arumi sendiri pun ikut terkejut. Dia melebarkan kedua bola matanya hingga hampir saja mereka jatuh meninggalkan tempatnya. xixixixixi.
"Hentikan!"
Arumi mendesis dengan mulut yang masih di dekap erat bibir Randika. Wanita itu berusaha untuk melepaskan diri dari ciuman yang sangat memalukan itu. Namun, lagi-lagi Randika kekeh mendekap tubuhnya hingga dia susah untuk mengambil jarak.
Arumi mendesah tidak nyaman, apalagi ciuman Randika yang semakin dalam menuntut Arumi untuk segera membalasnya, mau tidak mau wanita itu akhiranya membalas ciuman kekasihnya. Dengan pelan dan lembut penuh dengan gairah, Randika mencium bibir Arumi, mengecapnya lama hingga membuat wanita itu kewalahan dan sesak napas.
"Ran--hmpm."
Tangan Randika menahan Arumi dengan menangkup kedua pipi kekasihnya agar tetap berciuman. Keduanya melakukan adegan ciuman itu hingga berakhir karena hentakan tangan di dada Randika yang Arumi lakukan karena kehabisan napas.
"Huh ...."
Randika di buat terkekeh saat Arumi membuang napas panjang, dia menunduk hingga kepalanya dan memberikan kecupan berkali-kali pada ceruk leher kekasihnya.
"Apa kau ingin pindah ke kamar?"
__ADS_1
Sesaat matanya beradu dengan Arumi yang kini memasang wajah marah, bibirnya bergerak tidak jelas hingga kembali menarik perhatian Randika. Tahu apa yang terjadi setelah itu?
Kita lanjutkan di baba berikut 😆 wkwwkw.