Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 109


__ADS_3

"Kenapa kau menggigitku!" ucapnya meringis kesakitan.


"Itu karena kau sudah membodohi ku selama ini."


"Siapa yang sudah membodohi calon menantu kesayanganku?"


"Mom! Daddy!" teriak keduanya bersamaan.


"Siapa yang membodohimu."


Tatapan Arumi beralih pada Randika. "Aku dan Randika sedang membahas tentang persiapan pernikahan Mom, kami hanya saling menggoda tadi."


"Benarkah?"


"Tentu saja," ucap Arumi tersenyum manis.


"Kalau begitu sudah sampai mana persiapan kalian."


Arumi terdiam, dia termenung memikirkan apa yang harus dikatakannya. Tentu saja Arumi tidak ingin calon mertuanya tahu tentang yang terjadi. Tetapi tidak ada kata lain, dia seperti sedang terperangkap di dalam rencananya sendiri.


Melihat Kekasihnya yang sedang kebingungan, Randika bergegas mengendalikan keadaan. "Hampir selesai, kami hanya tinggal menyiapkan gaun dan cincinnya saja. Tapi Mom dan Daddy hangan khawatir. Rilan akan menyelesaikannya dengan cepat." Dia membuang napas panjang saat selesai mengatakan semua itu.


Arumi yang sedari tadi berdiam sedikit risih dengan apa yang di sampaikan Randika.


"Apa yang dia katakan. Cincin? gaun? Kita bahkan belum merencanakan semua itu. Dasar robot. Dia selalu mengatakan seenak pikirannya."


"Ada apa Sayang?" Jenny menelusuri ke ke dalam mata Arumi untuk mencari tahu penyebab dari kegelisahan calon menantunya itu.


"Tidak ada Mom," ucap Arumi cepat.


Sebelum Jenny atau Amirta menanyakan sesuatu yang aneh lagi gadis itu segera meminta ijin untuk menemui Cluadia. "Mom, Daddy. Istirhatlah, aku akan meminta Caludia menyiapkan makan siang untuk kita.


Lagi-lagi Arumi di buat terkejut dengan tarikan Randika, pria itu menariknya seperti gerobak, kaki dan tangan hampir tidak sejajar berayun karena dia menarik dengan cepat. "Aku akan menemani Arumi ke belakang."

__ADS_1


"Aku bisa se---"


"Berisik."


Randika berkata dengan datar yang mana membuat Arumi merinding. "Apa yang kau lakukan?"


"Kita harus membahas tentang tadi dengan lebih serius," bisik Randika buru-buru menarik kekasihnya menuju ruang dapur.


Berulang kali Arumi memukul tangan Randika untuk melepas genggamannya karena merasa sakit. Jenny dan Amirta bahkan tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Amirta tertawa kecil.


"Entahlah sayang, biarkan saja. Bukankah malah bagus seperti itu. Tingkah mereka berdua terlihat menggemaskan, seperti kita dulu," ujar Jenny cekikikan.


"Ada apa bicaralah, kau tidak perlu menarik ku seperti ini."


"Kita harus segera menghubungi Rilan, jangan sampai Momy dan Daddy tahu kalau kita belum menyiapkan apa pun."


"Aku baru saja mau--"


"Sayang, hei tenanglah."


"Aku tidak bisa tenang Arumi, jangan sampai Mommy dan Daddy mengubah keputusan mereka untuk setuju."


"Berhenti mengatakan sesuatu yang belum tentu terjadi."


Kini tatapan Arumi beralih pada wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Claudia."


"Ya Nona."


"Siapkan sarapan untuk Mommy dan Daddy. Segera, cepat."


Kepala pelayan itu sedikit kaget. "Tuan dan Nyonya sudah sampai? Kapan?"

__ADS_1


"Baru saja."


"Kenapa mereka tidak memberi kabar."


"Soal itu aku tidak tahu Claudia."


"Arumi."


"Sebentar."


Randika kesal karena di abaikan oleh Arumi, padahal mereka hampir tidak berjarak. Randika melihat jelas wajah cantik Arumi, dia membelainya pelan membuat perempuan itu sedikit merasa risih.


"Diamlah."


Waktu yang berjalan membuat Randika menggila, dan Arumi yang frustasi mengingat dia sedang berbicara dengan Claudia dan Randika yang entah ada apa dari tadi seperti aneh.


Aroma Arumi yang wangi dan kulit leher yang lembut dengan bibir yang ranum seakan menjadi candu untuk Randika. Apalagi leher wanita itu seakan meliuk-liuk di depannya berputar ke arah Claudia lalu kembali padanya, membuat dia merasakan sensasi yang seharusnya tidak ada.


"Bagaimana keadaan tuan besar? apa dia baik-baik saja."


"Kau bisa menanyakan nanti setelah menyajikan sarapan Caludia. Aku tidak bisa menjelaskan karena aku-- Aaaaa." Arumi menjerit spontan saat Randika menggigit hidungnya. Begitu pun dengan Claudia, matanya membulat sempurna, kaget dengan apa yang baru saja dia lihat.


"Randika ...."


"Lanjutkan tugasmu, Claudia."


"B--bien tuan muda." Pelayan itu menghilang dengan cepat seperti angin.


"Ada apa?" tanya Arumi dengan kebingungan.


"Sepertinya kau tidak mematuhi perintahku, kau harus mendapatkan hukuman."


"Hukuman Ap---" Kalimatnya terpotong oleh ciuman. Berulang kali Arumi mendorong tubuh kekasihnya untuk menjauh agar ciuman mereka terlepas, karena dirinya kehabisan napas.

__ADS_1


Randika terkekeh, dia melepas ciumannya kemudian berbisik. "Itu akibatnya jika kau mengabaikan ku dan lebih memilih menanggapi orang lain."


__ADS_2