
Tidak ada yang bisa menghancurkan keterdiaman Randika dan tatapan tajamnya. Bahkan keberanian Arumi tidak cukup untuk sekadar menyapanya.
Randia menghubungi kedua orang tuanya, menanyakan tentang kondisi ayahnya. Jenny sang ibu menjelaskan dengan baik hingga membuat pria itu sedikit tenang. Merasa cukup santai, Arumi lalu mendekat saat Randika menutup teleponnya. " Bagaimana keadaan Dady."
"Bukankah kau lebih tahu."
Raut wajah Arumi berubah sedih seketika. "Jadi kau masih marah padaku."
"Kau pikirkan sendiri."
Wanita itu terdiam cukup lama. Tidak terfikir olehnya Randika akan semarah ini. Dia bahkan belum memberi maaf untuk pria bermata hitam itu. Namun, kini dia yang harus meminta maaf atas kesalahannya.
"Maaf merahasiakan-nya, tapi aku hanya menuruti ucapan Mom. Dia hanya tidak ingin kau khawatir."
"Tinggalkan aku sendiri!'
"Ran?"
"Berhenti memanggil nama ku!"
Teriakan keras Randika membuat Arumi tersentak hingga tubuhnya menegang. Matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Wanita berambut ikal itu menunduk untuk menghindari tatapan kekasihnya.
"Angkat kepala mu."
Keduanya bertatap saat Arumi mengangkat kepalanya. Mata cokelat Arumi melihat kesedihan dalam manik hitam kekasihnya membawanya ikut tenggelam dan merasakan kekecewaan itu. "Maafkan Aku."
"Kenapa kau melakukan-nya?"
"Aku dan Mom hanya tidak akan kau khawatir, Dady akan baik-baik saja."
"Tapi Aku Anaknya."
Seakan ada batu besar yang menghantam dadanya saat Randika menyebut anak. Napas Arumi sesak karena menahan tangis. Wanita 23 tahun itu mengingat masa-masa di mana kedua orang tuanya mengalami kecelakaan di saat dirinya tidak ada. Saat itu dia menyalahkan takdir dan Tuhan karena tidak memberinya waktu untuk bisa melihat senyum terakhir kedua orang tuanya.
Sekarang bagaimana bisa dia mengatakan kepada orang yang dia cinta bahwa ayahnya sedang sekarat.
"Apa kau marah padaku?"
"Tidak!"
"Lalu apa?"
"Aku hanya kecewa karena kau menyimpan hal penting ini dariku."
"Sudah ku katakan ini--"
__ADS_1
"Dan seharusnya kau tidak mengikuti perintahnya."
"Dia adalah ibu mu?"
"Dia bahkan menyakiti ku." Randika berteriak dengan nada yang lebih tinggi tapi terdengar seperti merintih.
"Tidak ada seorang Ibu yang mau menyakiti anaknya."
"Kau tidak tahu apa-apa."
Pria dengan manik hitam itu melangkah pergi setelah mengeluarkan isi hatinya.
"Kau pergi?"
"Aku ingin menenangkan pikiranku."
"Ke mana, menemui Evanya?"
Randika tidak menjawab, dia berlalu pergi dengan tatapan datar.
Arumi mendesah memegangi dadanya yang berdetak kencang karena menahan emosi. wajahnya suram seolah harapan telah di renggut oleh takdir.
"Bukankah seharusnya maaf itu milik ku."
****
"Apa kau baik-baik saja," tanya Brian saat melihat mata Arumi yang sembab.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini."
"Apa yang terjadi?" tanya Rilan.
"Kakak." Arumi mendekat pada pria yang berdiri di depannya memeluk dengan erat dan menumpahkan segala emosinya di sana.
"Tenanglah Rumi, semua akan baik-baik saja," ucap Brian menenangkan.
"Aku tidak tahu di mana letak salah ku."
Rilan menggelang. "No, kau tidak salah."
"Aku rasa tempat ini tidak cocok untuk ku."
"No, Arumi no, di sini adalah tempatmu. Bertahanlah sebentar lagi, aku mohon."
"Dia akan menemui Evanya, dia akan meninggalkanku."
__ADS_1
"Rumi, tidak akan terjadi apa-apa. Randika tidak akan meninggalkanmu aku janji."
"Arumi menghentikan tangisannya menatap Rilan dalam-dalam. "Kenapa kau selalu meyakinkan ku tentang itu."
.
.
.
.
Wanita berambut pirang itu melengkungkan senyum saat melihat bayang kekasih pujaannya muncul di sana. Dia bergerak ke depan Randika mengelus dada pria itu dan memberikan tatapan menggoda. "Kau datang karena merindukan ku?"
"Menjauh dariku, Evanya."
"Kau semakin tampan," ujarnya melingkar tangan memeluk Pria yang memiliki manik hitam itu dari belakang.
"Pergilah, aku ingin sendiri."
"Jangan membuatku mati karena merindukanmu, aku kesepian," ujarnya mengelus pipi Randika hingga manik hitamnya balas menatap.
"Jangan memancingku."
Randika melepas paksa tangan Evanya dari tubuhnya dan berjalan menuju pintu bar. Niatnya ingin melepaskan amarah hilang saat melihat wanita itu di sana.
Evanya yang berfikir Randika akan menemaninya malam ini tersenyum lebar. Gadis itu bergerak ke arah Randika yang hendak menggapai pegangan pintu. Mencegahnya untuk keluar, dan sekali lagi memberi tatapan menggoda.
"Kau sangat tidak sabar sayang."
"Apa maksudmu?"
"Ku kira kau akan melewati malam di ranjangku."
"Tidak ada wanita lain selain dia yang bisa menyentuh tubuhku Evanya."
"Kau bilang apa?"
"Jangan berfikir aku sudah memaafkanmu Nona Evanya Mastaw."
"Tapi mau bersamaku tadi malam Randika."
"Dan kita tidak melakukan apapun."
"What?"
__ADS_1
Ucapan Randika berhasil membuat tubuh Evanya mendidih. Evanya benar-benar kehilangan kesabaran untuk ini, dia tidak bisa tinggal diam. Dia pikir dengan kemunculan-nya di depan Randika, Pria berambut hitam lebat itu akan luluh dan memaafkan semua kesalahannya. Ternyata dia butuh dari sekedar kata-kata mesra.
"Akan ku lakukan segala cara untuk menaklukanmu Randika. Kau harus menjadi milikku, hanya milikku."