Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 43


__ADS_3

"Selamat datang Tuan." Para pelayan membuka pintu mempersilahkan untuk masuk. Begitu pintu terbuka suara musik keras menghantam pendengar mereka. Para pria dan wanita terlihat meliuk-liuk mengikuti irama dan sebagian lainnya sedang asyik berkerumun sambil menikmati alkohol.


"Randika Garret, apa kabarmu," ucap seorang Pria kekar dengan setelan jas abu-abu mendekat meninju tepat pada dada pria yang memiliki nama itu.


"Nigel, itu benar kau?" ujarnya membalas tepukan keras pada bahu teman lamanya itu.


"Wow, siapa ini. Rilan Harper. Kau masih setiap di samping pria mesum ini?"


"Tentu saja. Dia Majikan terbaik ku."


"Dan siapa gadis manis ini." Nigel mengulurkan tangan hendak menyalami namun Randika dengan cepat menepisnya.


"Jangan pernah menyentuhnya."


"Sial, kau ingin menyimpan barang yang indah ini sendiri?"


"Jangan menyentuhnya atau kau akan terbunuh?" bisik menarik mundur nigel untuk sedikit menjaga jarak.


"Memangnya siapa dia? Who is she?" teriak Nigel.


"Dia adalah tunangannya Randika. Tepatnya calon istri Randika Garret."


Nigel sedikit terkejut, dia memandang kedua mahluk di depannya dengan kerutan dahi. "Bukankah dia bersama Evanya?"


"Apa kau sudah melihatnya tadi?"

__ADS_1


"Dia sangat seksi."


Pria dingin itu tersenyum "Kau bisa memilikinya sekarang."


Nigel tersenyum licik mengetahui Evanya telah sendiri "Apa kau punya saran."


"Bukankah kau mahir dalam hal itu."


Pria itu menyeringai dengan tatapan licik lalu menepuk sekali pada bahu Rilan. "Sampai bertemu lagi kawan."


Rilan tersenyum dalam diam di tempatnya. Dia akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan hubungan Tuannya dengan sang kekasih. Wanita keras kepala yang berdiri tidak jauh darinya itu harus bahagia, meski melakukannya dengan taruhan nyawa.


Rilan kembali teringat saat memasuki lobi tadi, dia berpapasan dengan Evanya. Awalnya dia pikir mungkin salah mengenali orang, tapi ternyata tidak. Gadis gila itu sudah kembali. Dan dengan percaya dirinya dia mengatakan akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Entah rencana apa yang sedang Evanya jalankan. Tapi apapun itu, Rilan tidak akan membiarkannya terjadi.


"Tidak akan aku biarkan kau melakukannya Evanya Mastaw," ucapnya mengatur napas yang semakin memburu karena emosi.


Dari jauh, Brian melihat pesta yang di adakan sudah mulai ramai. Mata nya kini melihat ke arah Dua orang yang sedang bercumbu mesra di sana. Dia lalu mendekat dengan senyuman menggoda berniat mengganggu kemesraan mereka. "Tahan dirimu sobat, ini tempat umum."


Sejenak Randika yang hendak mencium gadis di depannya itupun menyeringai. "Kau mengganggu saja."


Arumi yang juga kaget lalu menutup wajahnya malu. "Sudah ku katakan jangan di sini," bisiknya.


Brian melengkungkan senyum saat Arumi menatapnya tapi di balik itu tersembunyi rasa takut akan tangisan gadis itu saat Evanya melakukan tugasnya nanti.


"Brian apa kau melihat kak Rilan?"

__ADS_1


"Di sana," tunjuknya pada dua pria orang yang baru saja berpisah. "Entah apa yang sedang dia bahas bersama Pria cabul itu." Brian kemudian memberi isyarat kepada Rilan agar bergabung dengan mereka


"Kau ingin minum, Rumi?" tanya Pria berjas biru muda itu saat seorang pelayan menawarkan minuman padanya.


"Ya."


"Ambilkan untukku juga," pinta Randika.


"Maaf, aku di sini bukan sebagai pelayanmu," jawab Rilan santai.


"Sialan," umpat Randika kesal.


Umpatan Randika membuat ketiga Pria itu terbahak tak luput senyum Arumi pun mengiringi.


"Sayang, aku akan ke kamar mandi sebentar. Tidak apa kan kau bersama Rilan dan Brian di sini?" tanya Pria itu dengan lembut.


"Pergilah, aku tidak apa-apa," jawabnya.


Randika mengusap pipi kekasihnya dan segera ke kamar mandi.


Sementara itu di sisi ruangan lain, beberapa pasang mata tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Evanya muncul. Gaun merah dengan belahan dada yang sangat terbuka membuat beberapa Pria tak sepat berkedip termasuk Brian yang tak sengaja menoleh.


Pria bermata sipit itu menarik napas berat saat melihat Evanya mulai mendekat. Tentu saja gadis berambut pirang itu tidak terlihat oleh Rilan yang tiba-tiba menghilang karena deringan ponselnya.


Brian semakin panik saat melihat seorang pria yang baru saja meminta ijin ke kamar mandi itu kembali.

__ADS_1


__ADS_2