Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 114.


__ADS_3

"Sekarang jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Jenny benar-benar tidak sabar untuk mengetahui alsan di balik kelakuan anaknya yang labil. Mendengar nama wanita itu saja sudah membuat darahnya mendidi.


"Sayang, pelan-pelan."


"Non, jangan membela anak bodoh ini. Dia selalu membuat darah tinggi ku kumat."


"Senua wanita itu ternyata sama, tidak pernah mau mendengarkan penjelasan pria terlebih dahulu," ujar Amirta pasrah


"Katakan sekarang, atau pernikahan anak mu akan aku batalkan."


"Mom!"


"Sayang, sikap macam apa itu."


"Jika dia terus berulah seperti ini, aku akan menikahkan Arumi dengan laki-laki lain. Aku bisa mencari pria yang lebih baik dari pada putramu yang bodoh ini."


"Oke ... oke. Akan aku jelaskan. Tenanglah."


Jenny membuat napas kasar, memasang wajah datar lalu memberi isyarat kepada kedua pria yang di anggap bodoh di depannya untuk bicara.


"Evanya, dia melakukan percobaan bunuh diri di dalam penjara. Dia melukai tangannya hingga perdarahan yang cukup serius."


"What?" Ekspresi Jenny begitu kaget membuat Amirta mengeleng-gelengkan kepala.


"Jika aku tidak datang, dia tidak mau menjalani perawatan. Untuk itulah aku ke sana. Karena jika tidak dia akan mati karena pendarahan."


"Seharusnya kau biarkan saja dia mati, itu lebih baik."


Mata hitam Randika menatap Jenny. "Mom!"


"Berhenti meneriaki ku. Seharusnya kau pikirkan perasaan kekasihmu, kalian akan segera menikah Randika. Lupakan wanita gila itu, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah ingin berhubungan dengan dia terlebih mengijinkan dia menginjakkan kaki di rumahku."


"Aku sudah meminta tolong Brian dan Rilan untuk menjaganya sementara dia di rawat."

__ADS_1


"Kau memang pria yang bodoh!"


"Sudahlah Sayang, kau menggerutu dari tadi."


"Itu karena anakmu yang bodoh ini. Bulan berada tepat di depan matanya tapi dia ingin meraih kerikil di dasar laut."


Kedua pria itu terkekeh bersamaan. "Itu perumpaan yang jelek sayang."


"Apa tidak ada perumpamaan yang lain, itu terdengar lucu."


"Tertawalah, tertawalah dengan puas. Sampai Arumi meninggalkanmu maka dengan menangis darah pun dia tidak akan kembali."


Randika terlihat berfikir sesaat sebelum mengangguk. "Aku mengerti, hal seperti ini tidak akan terulang lagi."


"Bagaimana dengan Arumi?" tanya Amirta mengambil alih pembicaraan agar istrinya tidak lagi membahas masalah yang sudah selesai.


"Dia sudah tertidur," jawab Randika.


"Apa dia memaafkan tingkah bodoh mu itu."


"Dasar bodoh, kau menyindir ku?"


"Kau menyebutkan putra kita bodoh sedari tadi sayang. Apa kau tidak lihat dia adalah pria yang sangat tampan dan pintar."


"Aku tidak akan pernah lelah untuk mengatakan dia bodoh jika dia terus saja menyakiti Arumi. Bagaimana bisa, seorang pria yang memiliki kekasih melakukan hal seperti itu. Mengunjungi wanita lain tanpa ijin kekasihnya. Jika aku sebagai Arumi, aku tidak akan memafkanmu."


"Ya ampun, apa ini belum selesai juga."


Jenny berdecak kesal melihat tingkah putranya. Apalagi saat tatapannya beralih pada Amirta, suaminya malah terkekeh karena tidak tahan melihat sang istri yang terus saja mengoceh dan mengatai anak kandungnya sendiri.


"Baiklah ... baiklah. Aku akan diam."


Randika menatap kedua manusia yang sedang bercanda di hadapannya. Wajah kesal Jenny dan raut wajah jahil Amirta membuatnya tersenyum. Saat tangan jahil Ayahnya menggelitik pda perut ibunya dan saat pukulan kecil Jenny yang melayang ke arah bahu Ayahnya karena merasa terganggu. Semua itu membuat Randika berfikir bahwa dia harus benar-benar menjaga Arumi dan bahagia sepanjang hidup seperti kedua orang tuanya. Menguban bersama dan menuai bersama Itu adalah cita-cita terbesar Randika saat ini.

__ADS_1


"Hentikan! kalian membuatku merasa geli dengan terus saling menggoda seperti orang yang sedang kasmaran."


"Huh?"


Sepasang kekasih yang sudah beruban itu saling menatap bingung. "Ada apa dengan putramu itu."


"Randika, mau ke mana lagi kau."


"Aku lapar, jika terus berada di situ maka air liur ku akan habis."


"Hahahha, dasar anak nakal, kau sangat mirip dengan Ayahmu."


"Hei, aku tidak senakal itu dulu."


"Kalian sama, selalu mau memiliki banyak wanita."


"Aku tidak seperti dia."


"Pokonya, kalian semua pria sama saja."


"Itu tidak benar."


"Lepaskan aku, jangan melakukan itu di sini."


"Tidak ada orang sayang."


"Amir, aku malu."


"Hanya kecupan saja."


"Tidak ...."


*Hei ... apa yang sedang kalian lihat. Tidak baik mengintip Orang tua yang sedang bermesraan."

__ADS_1


"Bersambung"


🤣🤣🤣😂🤪🤪🤪


__ADS_2