
Cantiknya Arumi membisukan dunia Randika, wanita itu muncul dengan begitu anggun. Gaun putih yang melekat pada tubuh rampingnya, membuat dia semakin terlihat cantik. Gaun yang di gunakan Arumi memang terlihat polos. Namun, sangat memukau. Bagian dadanya terlihat sedikit terbuka, tetapi itu yang membuat Arumi terlihat mempesona karena terdapat beberapa swaroski yang menempel di bagian itu.
Arumi datang di temani Daddy Amirtha sebagai pendampingnya. Mereka mendekat dan Daddy Amirta menyetahkan Arumi kepada Randika. Hal pertama yang di lakukan wanita itu adalahpp menatap manik Randika yang seperti kebingungan, lalu menggenggam jemarinya erat, agar pria yang memiliki manik mata hitam itu bisa meredahkan ketegangannya.
Randika mulai tersadar ketika terdengar seseorang memberikan pertanyaan. "Apa kalian siap?"
Keduanya pun menjawab secara bersamaan. "Ya, kami siap."
"Baiklah! ... Randika Garrett, êtes-vous prêt à faire d'Arumi Chaska votre partenaire de vie dans la joie et la peine, à vous aimer et à prendre soin les uns des autres en bien ou en mal, riche ou pauvre, malade ou en bonne santé jusqu'à ce que la mort nous sépare ?" (Randika Garret, Apakah kau bersedia menjadikan Arumi Chaska sebagai istrimu dalam suka maupun duka untuk saling mencintai dan saling peduli dalam keadaan yang baik ataupun buruk, dalam kaya ataupun miskin, dalam sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan?")
Randika yang masih di selimuti ketegangan bercampur dengan ketakutan tidak menjawab, dia membiarkan peryanyaan itu di makan angin. Membuat Arumi yang berdiri di sampingnya merasa sedikit tertekan. Para undangan termasuk Rilan dan kedua orang tuanya pun ikut berbisik-bisik mencari tahu apa yang terjadi. Namun, tidak untuk seseorang yang tersembunyi di balik layar. Dia tersenyum lebar menikmati suasana.
Untuk kedua kalinya pertanyaan itu di lontarkan.
"Randika Garrett, êtes-vous prêt à faire d'Arumi Chaska votre partenaire de vie dans la joie et la peine, à vous aimer et à prendre soin les uns des autres en bien ou en mal, riche ou pauvre, malade ou en bonne santé jusqu'à ce que la mort nous sépare ?" (Randika Garret, Apakah kau bersedia menjadikan Arumi Chaska sebagai istrimu dalam suka maupun duka untuk saling mencintai dan saling peduli dalam keadaan yang baik ataupun buruk, dalam kaya ataupun miskin, dalam sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan?")
Randika menoleh pada Arumi, yang sedang menahan napas dengan tatapan hampa. Dia tahu hati wanita itu pasti sedang kacau, terlihat dari tatapannya. Dia kemudian tersenyum menggenggam kembali jemari wanita di hadapannya dengan erat, lalu menjawab dengan keras lantang.
"Oui je suis prêt. (Ya, aku bersedia.")
Arumi membalas tatapan Randika dengan mata yang sudah berkaca. Sungguh, itu adalah jawaban yang sangat di nantinya.
"Arumi Chaska, êtes-vous prêt à faire d'Arumi Chaska votre mari dans la joie et la tristesse pour s'aimer et prendre soin les uns des autres en bien ou en mal, riche ou pauvre, malade ou en bonne santé jusqu'à ce que la mort nous sépare? (Arumi Chaska, Apakah kau bersedia menjadikan Arumi Chaska sebagai suami mu dalam suka maupun duka untuk saling mencintai dan saling peduli dalam keadaan yang baik ataupun buruk, dalam kaya ataupun miskin, dalam sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan?")
__ADS_1
Dengan bibir yang bergetar Arumi menjawab "Oui je suis prêt. (Ya, aku bersedia.")
••••
Kelegaan menyelimuti seluruh isi gedung. Begitu pun dengan Rilan dan keluarga besar Garret. Tidak terkecuali juga dengan Arumi, wanita dengan manik cokelat itu tampak sangat bahagia, dia bahkan tidak hentinya meneteskan air mata saat Randika kembali mengatakan janji pernikahannya.
"Saya, Randika Garret. Mengambil engkau Arumi Chaska, menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah."
Arumi tersenyum saat Randika mengelus kedua tangannya, memberikan ciuman yang begitu hangat di sana. Penuh dengan cinta dan kelembutan.
"Aku mencintaimu, istriku."
"Kau sangat tampan."
"Benarkah?"
Randika terkekeh, pria bermata kelam itu memberikan ciuman yang cukup lama pada bibir ranum Arumi, ramai orang bersorak meneriaki keduanya yang sedang berciuman. Sampai akhirnya keheningan menyelimuti. Hanya mengambungkan tatapan satu sama lain.
Kening Arumi berkerut melihat kegelisahan pria yang baru saja menjadi suaminya. "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Randika menggeleng, dia kembali meraih jemari istrinya menciumnya berulang kali, hingga membuat Arumi yang awalnya terus tersenyum menjadi muram.
"Randika, ada apa?"
__ADS_1
"Tidak ada Sayang, aku hanya ingin mengatakan bahwa sangat bahagia. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan ini padaku. Aku mencintaimu Arumi." Randika mencium pelan kening Arumi, entah kenapa jantungnya berdebar seolah dia akan kehilangan sesuatu.
Arumi memeluk pria di hadapannya dengan erat. Bergerak pelan seirama mengikuti musik. "Tetaplah berdamaku, aku membutuhkanmu untuk berada di sampingku dalam waktu yang cukup lama. Jangan pernah meninggalkanku Randika."
"Ini adalah hari bahagia, kenapa kau malah memikirkan hal semacam itu?"
Arumi menengadah, mentap suaminya dengan intens. "Aku melihat kegelisahan di matamu. Itu cukup jelas. Katakan, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
•
•
•
•
•
(Note 💜)
Gays mau tanya nih. Karena rencananya cerita Randika akan aku buat part 2 after menikah, apa ada yang suka jika aku buat satu lagi cerita terkhusus untuk Rilan dan Aurela?
__ADS_1
Jika iya, katakan di kolom komentar ya.
salam cinta dari author yang cantik Aurumi Sabbi. 💜💜❤❤