Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 118.


__ADS_3

"Maaf Tuan, hari ini kau ada rapat penting dengan para pemegang saham," ucap Clarisa sekretaris pribadi Randika.


"Aku tahu, Rilan sudah mengingatkanku," jawabnya tanpa menoleh ke arah sumber suara.


Randika terfokus pada objek di depannya. Dia memegang tablet sambil melihat sebuah titik yang menunjukan di mana Evanya dan Damian berada. Dia duduk sambil memijat pelipisnya yang terasa pening, itu karena sudah 2 jam dia mengamati titiik merah itu. Namun, titik itu tidak bergeser sedikitpun.


Wanita itu kembali membuat masalah dengan kabur dari penjara, dia membayar beberapa penjaga untuk membantunya melakukan siasat untuk bisa mengelabui tiga sekawan itu. Dan Damian, pria yang Randika pikir tidak ada pengaruh apapun untuk kehidupannya kini menjadi bencana.


Randika kembali fokus pada pekerjaannya, dia membereskan semua yang di perlukan untuk rapat pemegang saham. Terlalu fokus dengan tumpukan kertas-kertas itu hingga membuat dia lupa akan waktu, untung saja Clarisa kembali mengingatkan kalau tidak dia akan terlambat ke ruang rapat.


"Tuan." Clarisa memberi kode dengan menunjuk jam di tangannya.


"Oh, ****. Aku hampir melewatkannya." Dia berdiri dan merapikan pakaiannya. "Terima kasih Clarisa."


"Sama-sama Tuan," ucapnya sedikit membungkuk.


Dan saat mereka berjalan beriringan, timbullah pertanyaan-pertanyaan yang membuat salah paham antara kedua bela pihak itu tercipta.


"Berapa lama waktu rapat berlangsung nanti?"


"Mungkin dua jam Tuan."

__ADS_1


"Itu terlalu lama, peringkat rapatnya. Aku harus kembali tepat waktu."


"Apa kau punya janji dengan Nona Arumi?"


"Kita akan melihat baju pengantin hari ini."


"Woww." Mata wanita itu berbinar. "Aku turut bahagia untukmu Tuan."


Randika mengguk dengan tersenyum tipis. "Apa hari ini ada hal yang harus Rilan tangani?"


"Tidak Tuan, aku masih bisa menghandel semuanya."


Randika mengangguk. "Tetapi jika ada hal yang mendesak, katakan padaku. Rilan sedang melakukan misi penting, dia akan sulit di hubungi."


"Itu, tugas istimewah Clarisa, hanya orang yang setia kepadaku yang bisa melakukannya." Langkah kakinya terhenti. "Dan misi itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya di kantor."


Dengan buru-buru Clarisa menundukan kepalanya, dia takut jika Randika menganggap dirinya sedang merasa penasaran. "Aku tidak bermaksud seperti itu Tuan."


"Aku juga tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan."


"Tapi bukankah aku juga setia padamu? Aku bahkan pernah melakukan misi rahasia untukmu,Tuan."

__ADS_1


Randika tiba tepat pada pintu ruang rapat pemegang saham. Sebelum gagang pintu itu di sentuh, pria yang memiliki manik hitam itu menoleh ke arah Clarisa. "Itu bukan misi, waktu itu aku hanya meminta pertolonganmu."


Setelah mengatakan itu, dia melangkah masuk dengan lantang, meninggakkan Clarisa yang hampir tersedak omongannya.


"What?" Clarisa bergumam kesal. "Apa dia benar-benar robot? kenapa dia sungguh tidak berperasaan."


Sekertaris wanita itu membuang napas kasar, mengibas-ngibas pada wajahnya yang terlihat merah dan panas. "Dasar pria-pria robot, yang satu berwajah es, dan yang satu berwajah kaku. aaaaarg," gumam Clarisa kesal.


Ingin rasanya dia membuang semua kertas ini kewajah Randika, membiarkan tenggelam dengan semua tugas-tugas yang sudah dia kerjakan dengan sepenuh hati. Namun, jika dia melakukannya, maka akhir dari kariernya akan segera terwujud.


"Misi rahasia? minta tolong?"


Wanita bertubuh persis dengan biola spanyol itu mendesah berulang kali, menampilan ekspresi wajah yang jarang dia tampilkan pada orang lain terutama Randika.


"Aku bahkan bukan sekedar orang yang setia padamu Randika Garret, aku mengagumimu, menjadikanmu panutanku tapi kau mengatagorikan aku adalah orang yang tidak setia?" Dia kembali membuang napas berat.


"Apa yang Nona Arumi lihat dari dia .... Aiisssh dasar pria menyebalkan kau memang pantas menjadi robot."


"Hei ....!"


Clarisa terhentak kaget dengan suara itu.

__ADS_1


"Apa kau ingin di pecat?"


__ADS_2