
Tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Begitulah yang dapat mengambarkan keadaan Randika sekarang. Sepanjang hidupnya ini adalah keadaan tersulit yang pernah dia hadapi. Dimana dia harus memilih untuk melepaskan atau mempertahankan.
Empat tahun adalah perjuangan yang sangat berat dan menyakitkan baginya, hingga dia bisa membuka hatinya untuk Arumi. Gadis itu bahkan menerima kebenciannya sebelum mendapatkan cinta. Dan sekarang, jika dia memilih untuk bersama Evanya, balasan kebencian itu akan dia terima. Namun jika dia tetap mempertahankan Arumi, cintanya, harapannya bahkan kebahagiaannya akan hilang bersama kepergiaan Evanya untuk kedua kalinya.
Faktanya Randika memang belum melupakan Evanya sepenuhnya. Di bibirnya mungkin dia bisa mengatakan sudah melupakan. Namun jauh di dalam hatinya Wanita itu masih sangat dia cintai. Maka dari itu, dia memilih untuk mempertahankan keduanya.
•
•
•
Lampu bar mini milik Brian masih menyala dengan mahluk yang masih terjaga di dalamnya. Padahal sebentar lagi matahari akan segera bertengger memberikan kehangatan pagi. Bahkan suara musik yang hampir merusak pendengar itu masih meraung.
Brian tersandar pada meja bartender menyesali segala kebodohannya. Merasa kepalanya pusing pria bermanik minimalis itu tertatih berjalan menyusuri lorong bagian belakang kafe menaiki anak tangga satu demi satu naik ke lantai paling atas menuju kamar miliknya. Itu adalah kamar yang menumbuhkan benih cinta antara Arumi dan Randika.
Begitu pintu terbuka, matanya di suguhi oleh pemandangan botol alkohol yang tergeletak di mana-mana. Brian memekik saat melihat sosok Seorang pria yang tengah bersandar pada sofa yang tergeletak di dekat jendela. Segera pria itu melangkah lebar mengambil paksa botol minuman yang hendak di teguk dan menyingkirkannya jauh di tempat sampah.
__ADS_1
"Randika! apa yang sudah terjadi. Sedang apa kau disini, bukankah tadi kau menyusul Arumi pulang?"
Randika tidak menjawab. Pria bermanik hitam itu malah berdiri dan mengatakan kalimat-kalimat yang tidak di mengerti oleh Brian. Hingga tubuhnya limbung dan jatuh menimpa Brian.
"Ada apa denganmu?"
"Aku pikir akan baik jika tetap berada di antara keduanya. Tapi ternyata aku salah."
"Apa yang terjadi."
"Membencimu?"
"Aku menyakitinya."
"Siapa?"
"Arumi."
__ADS_1
"Kau mencintainya."
"Aku sangat mencintainya. Aku menyukainya sejak pertama kali dia datang. Tapi rasa benciku mengalahkan segalanya sampai aku melihat bagaimana dia berjuang membuatku untuk menyukainya."
"Kenapa kau membenci gadis itu."
"Dia datang membawa beban untukku. Aku terbiasa hidup bebas Brian. Ketika dia hadir, aku harus membagi waktu ku untuk menemaninya. Kau tahu, saat itu aku sibuk mencari dimana Evanya berada dan dia terus saja mengganggu ku. Berulang kali aku menolaknya tapi dia masih saja terus datang mengusuk ku. Aku memberinya kepada Rilan agar pria itu bisa menjaganya. Yah dia menjaganya tapi seperti sedang menjauhkan Arumi dariku."
Brian terdiam. Cerita Randika membuat tenggorokannya membutuhkan alkohol lagi. Dia beranjak mengambil botol minuman yang baru saja dia singkirkan tadi meneguknya dengan kasar. Matanya hampir berair saat tegukan yang terakhir. Dan itu bukan di karena kerasnya minumannya melainkan karena rasa bersalah yang dia pendam. Malam ini kedua pria itu seperti kucing kecil yang di tinggal induknya. Alkohol dan rasa bersalah membuat keduanya meraung-raung tidak jelas hingga derap langka heels terdengar memasuki ruangan itu.
"Kau siapa?"
"Aku?"
"Yah Kau, siapa lagi," ucap Randika yang limbung jatuh ke lantai. Matanya hampir tertutup saat wanita itu mengusap pipinya.
"Aku wanita yang kau cintai."
__ADS_1