Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 98


__ADS_3

Matahari mulai terbit, perlahan manik mata yang mengingatkan akan seseorang itu terbuka menatap seseorang yang menyambutnya tersenyum kecil, dia menempelkan tubuhnya ke arah Rilan dan memeluk tubuh kekar yang tertidur dengan di tutupi selimut tebal itu.


"Arumi dan Randika menghubungimu berulang kali sepanjang malam."


Rilan tidak fokus dengan apa yang di katakan Aurela, dia masih belum terbiasa dengan kehadiran wanita di sampingnya itu, dia menatap Aurela dengan terheran-heran karena tidak mengira dokter wanita yang selalu dia abaikan ini ternyata sangat manis.


"Ada apa? kau lupa kita sudah melakukannya?"


"Maafkan aku."


"Pourquoi? (untuk apa?)"


Tidak ada jawaban dari Rilan membuat wajah Aurela kesal, dia berfikir jika pria itu hanya memanfaatkan kegilaannya untuk menikmati tubuhnya saja.


"Kenapa kau diam, katakan sesuatu. Jangan mempermainkan perasaanku Rilan Harperr."


"Aurela " ucap Rilan yang kemudian tertawa hingga membuat bibir tipis Aurela kembali mengerucut.


Seperti tahu apa yang di pikirkan oleh Aurela, pria yang memiliki manik cokelat itu Mencubit pipi mulus Aurela. Wajah panik wanita ini membuatnya tidak bisa menahan tawa. Lalu, dengan lembutnya Rilan memberikan ciuman hangat pada puncak kepala wanita yang baru saja dia tiduri itu.


"Wajah panikmu itu sangat lucu."


Aurela terdiam, dia malah semakin curiga dengan pria yang ada di depannya ini. "Apa kau benar-benar ingin serius denganku?"


Rilan menatap dengan wajah datar namun masih ada sedikit senyuman tipis yang hampir saja tidak terlihat. Maniknya menatap seakan memberi isyarat bahwa dia benar-benar tidak sedang mempermainkannya. Bahkan tidak ada raut wajah marah dari Rilan saat wanita itu sedikit meragukannya.


"Aku sudah mengatakan semuanya bukan."


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu untuk Arumi, apakah masih sama?"


Rilan menarik nafas dalam. "Hentikan perdebatan ini dan mari kita buat aturan yang tepat untuk hubungan kita."


Aurela mengerutkan kening. "Aturan?"


Rilan mengangguk pelan. "Aturan pertama, kau harus mengatakan mencintaiku setiap pagi."


Seketika memebuat wanita itu tertawa dengan keras. "Ahahahaha ... Untuk apa membuat aturan seperti itu?"

__ADS_1


"Kenapa, kau tidak suka?" ucapnya dengan tawa kecil.


"Itu menggelikan."


"Kau bisa mencobanya dulu."


"Tidak!"


"Ayolah coba katakan sekali saja."


"Non!"


"Lakukanlah, aku ingin pendengeranku terbiasa dengan semua kata manis dari mu."


Sesaat Aurela merasa seperti akan terbang, kata-kata Rilan benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga. Namun, sesuatu dalam hatinya menyangkal, semua ini mungkin saja tidaklah pasti. Dia memikirkan kemungkinan jika ini hanya perasaan pelarian saja.


"Jangan membohongiku."


"Kau masih meragukanku?"


Wajah sedih Aurela kembali membuat Rilan tersenyum dia menarik wanitanya menempel pada dadanya, membiarkan dia merasakan rasa khawatir yang membara. Rilan melihat dengan jelas, bagaimana Aurela sangat mencintainya, bagaimana Aurela begitu tulus padanya.


"Bisakah kita lanjutkan dengan aturan kedua." Rilan mendorong sedikit tubuh Aurela, memberi jarak dari tubuhnya agar bisa melihat wajah Aurela dengan jelas.


"Bisakah kau membuatkan aku segelas kopi yang enak sayang?"


"Huh?" Aurela berhasil di buat tergagap, dirinya mentap kekasihnya yang sedang memberikan tatapan permohonan dengan tatapan mata yang sangat menggoda.


"Ada apa?" tanya Rilan dengan tawa yang hampir pecah.


"Apa itu aturan keduanya?"


"Yeah, kau harus membuatkan aku kopi yang enak."


"Bukan kopi, tapi yang satunya lagi."


"Satunya yang mana lagi Sayang?"

__ADS_1


"Yeah, baru saja kau ucapakan itu."


"Maksudmu ... Sayang?"


Aurela mengangguk dengan menggigit bibir bawahnya, membuat Rilan terpancing dan menarik wanita itu kembali masuk ke dalam selimut.


"Rilan! Apa yang kau la -- uhmp."


Pria Prancis itu melaham habis bibir mungil Aurela sebelum gadis itu selesai dengan kalimatnya. "Ayok, lakukan lagi."


"Non, ini sudah pagi."


"Sebentar saja Sayang."


"Hentikan!"


"Aku benar-benar sudah tergila-gila padamu."


"Kau berbeda dari Rilan yang aku kenal."


"Memangnya seperti apa aku di matamu?"


"Si pria datar yang dingin."


" Benarkah, Sayang ...."


"Jangan memanggilku dengan nada seperti itu."


"Sayang ...."


"Aaahh."


"Hahahah."


Malam ini gerah dikit gpp yeah lanjut besok .. 🤙👉


.

__ADS_1


__ADS_2