
Arumi berdecak kesal, memijat pelipisnya yang terasa pening. pasalnya baru beberapa menit dia dia meninggakkan ruangan, Dua pria berkawan itu sudah menghilang saat seseoorang menghubungi. Tidak ada jawaban apapun dari Randika maupun Rilan. Mereka tidak mengangkat telponnya, tidak membalas semua pesannya.
"Kemana mereka sebenarnya?" Kembali dia menatap ketiga pelayannya yaitu Claudia, Grassy dan Minora.
"Apa kalian yakin tidak tahu kemana dua orang itu pergi? ini sudah hampir 1 jam dan tidak ada kabar apa pun dari mereka."
"Pas manquer."
"Lalu untuk apa kalian di rumah jika tidak tahu kemana perginya mereka!"
"Maafkan kami Nona, kami tidak tahu kemana Tuan muda dan Tuan Rilan pergi."
"Sayang, tenanglah. Mungkin ada urusan mendadak yang harus mereka kerjakan."
"Non, Mom. Aku yakin ada hal lain yang mereka sembunyikan dariku."
"Kau berfikir terlalu jauh Sayang."
Perempuan itu menggeleng dengan air mata yang berurai. "Aku mendengar jelas mereka menyebutkan nama wanita itu setelah menutup pintu."
"Kemarilah." Jenny memeluk erat tubuh Arumi memberikan kehangatan agar wanita itu bisa lebih tenang. Berbeda dengan istrinya. Amirta tampak gelisah karena tahu alasan di balik kepergian putranya.
"Aku sangat takut."
__ADS_1
Arumi menarik napas dalam, ingin sekali dia menumpahkan rasa kesalnya. Namun dalam hatinya selalu berbisik jangan lakukan Arumi, bersabarlah. Selalu, setiap kali dia akan emosi dengan hal seperti ini akam ada suara kecil dari dalam hatinya untuk menahan.
"Aku membencimu, aku membencimu Randika," gumamnya pelan dengan isakan.
"Sayang, jangan seperti ini. Kita akan bertanya kepada Ran jika dia sudah kembali."
"Aku tidak akan memafkan mereka jika benar mereka pergi untuk menemui wanita itu."
"Sebaiknya bawa dia ke kamar."
Jenny sontak kanget saat Amirta mengatakannya dengan suara yang bergetar. Wanita itu berbisik untuk bertanya tentang keadaan yang sebenarnya, dan dari gerak bibir Amirta jelas, apa yang di takutkan perempuan itu benar.
Rasa murka menyelimuti dirinya saat ini, Jenny tidak habis pikir dengan anak semata wayangnya itu. Bukankah dia akan menikah sebentar lagi? lalu untuk apa menemui wanita gila itu.
"Anak itu benar-benar keterlaluan," batin Jenny dengan wajah menahan emosi.
Jenny memgangguk tanda mengerti. "Minora!"
"Je suis là Madame. (Aku di sini Nyonya.)"
"Bantu aku untuk membawa Arumi ke kamarnya."
"Oui, Madame."
__ADS_1
"Sayang, istirahlah. Jangan pikirkan yang tidak tidak. Mom dan Daddy, akan menunggu Randika dan bertanya padanya. Jadi tenanglah."
Arumi tidak menjawab, dia diam seribu bahasa sampai Jenny berlalu pergi dan menghilang di balik pintu kamarnya. Dia menatap Minora yang duduk menemaninya di tepi ranjang sambil berurai air mata.
"Nona, jangan menangis lagi."
"Dia lebih memilih bersama wanita itu di banding mengurusi pernikahan kita Minora."
"Tidak Nona, itu tidak benar."
"Aku membencinya, aku sangat membenci pria itu."
"Nona ...."
Arumi mengusap dadanya, beberapa kali dia mengumpat untuk membuat perasan-nya sedikit legah. Dan tiba-tiba, seperti mendapat bisikan, Arumi berjalan keluar dari kamarnya. Bertepatan dengan kedatangan Randika dan juga Rilan.
Segera permpuan itu dengan cepatnya berputar kembali masuk ke kamarnya. Dia duduk di atas ranjang dengan tangan bersilang di dada.
Angin musim gugur membelai rambutnya yang panjnag, raut wajah yang suram dengan pipi yang basah membuat Randika merasa bersalah. Apalagi saat melihat mata Arumi yang masih berair.
"Sayang ...."
Randika berjalan dan berhenti di depan Arumi. sedetik setelahnya dia berjongkok hingga bisa menggenggam tangan Arumi yang duduk di depannya.
__ADS_1
"Sayang ...."
"Kenapa? apa kau ingin mengatakan bahwa pernikahan kita di batalkan."