
Arumi terbangun dari tidurnya karena merasakan kemarau panjang pada tenggorokannya. Arumi merangkak dari tempat tidur dan menuju ruang di mana Claudia berkuasa.
"Selamat pagi Clau."
"Selamat pagi Nona, apa anda butuh sesuatu?"
"Air, aku butuh segelas air."
"Bien, Nona."
"Terima kasih Clau."
Gadis berusia 23 tahun itu meneguk segelas air sambil mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari sosok yang sejak tadi malam tidur bersamanya. Saat melihat Claudia keluar dari gudang penyimpanan Arumi kembali memanggilnya.
"Apa Nona membutuhkan sesuatu.?"
"Apa Randika tidak di rumah, aku tidak melihatnya sejak tadi."
"Tuan muda sedang keluar Nona. Dia hanya berpesan agar Nona tidak menunggunya."
"Hanya itu?"
"Bien Nona."
Arumi menarik napasnya dalam, wajah berserinya kini kembali suram. "Baiklah, terima kasih Clau."
"Nona?"
"Yah Claudia"
__ADS_1
"Apa nona mau jalan-jalan di taman bersamaku sebentar?"
Arumi tampak berfikir sejenak. "Taman?"
"Bukan di taman umum Nona, tapi di taman halaman belakang Mansion. Di sana akan ada banyak burung yang mengelilingi pohon mapel. Anda juga bisa menikmati secangkir teh di sana jika mau."
"Baiklah, aku akan mengajak Minora bersama kita."
"Dia sudah di sana sejak pagi Nona, tugas nya membersihkan daun mapel yang berguguran."
"Benarkah, sungguh kasihan teman ku itu."
Arumi lalu tersenyum tipis membayangkan gadis kecil itu, dia akan mengoceh tanpa henti jika daun-daun itu akhirnya beterbangan atau berguguran lagi setelah dia bersihkan.
Claudia akhirnya bisa membawa Nona mudanya ke halaman belakang. Bukan tanpa alasan Claudia melakukan itu, pelayan yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri pada keluarga Garret itu melakukannya agar Arumi tidak menyaksikan tunangannya yang sedang berbincang dengan Evanya di luar Mansion.
Itu adalah ide Minora. Gadis itu memberitahukan Claudia untuk mencegah Arumi agar tidak sampai keluar Mansion. Jika tidak, Mansion Garret akan menjadi rumah Elsa.
"Sekarang pergilah, aku mohon."
Evanya mendekat, jemarinya mengusap tepat pada bibir Randika. "Apa kau akan berkunjung ke tempatku nanti malam?"
Tanpa berkata Randika berbalik pergi, Kelakuan Evanya benar-benar membuat dia geram. Semakin jauh dia berjalan dari wanita itu detak jantungnya mulai kembali normal, kepalan tangannya mulai melemah dan emosinya mulai meredah.
Kepergian Randika membuat wanita berambut pirang itu hanya diam, memandang pria yang hanya terlihat punggungnya saja dengan datar.
Keterdiaman Evanya seakan mengisyaratkan kalau dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan wanita yang di cintai mantan kekasihnya itu. "Aku akan membuat gadis punggutmu itu keluar dari Mansion ini, apapun itu caranya akan aku lakukan."
.
__ADS_1
***
.
Randika masuk kembali ke Mansion, dia bergegas menuju kamarnya untuk Kembali menemui Arumi. Perlahan Randika membuka pintu kamar. Namun, ternyata wanita berambut ikal itu sudah tidak ada.
Randia hanya diam memandangi kasur empuknya yang sudah kosong, sampai akhirnya deringan ponsel mengejutkannya.
"Hallo, Clarisa."
'Selamat pagi Tuan."
"Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku butuhkan?"
"Bien, Tuan. Aku hanya menunggu perintahmu."
"Bagus."
"Apa ada hal lain yang harus aku lakukan lagi Tuan?"
"Tidak, hanya itu. Dan dengar, lakukan sesuai yang ku perintahkan. Ingat, tidak ada yang boleh tahu tentang ini. Jangan beritahu Rilan ataupun Ayahku, hanya kau dan aku, mengerti!"
"Bien,Tuan."
"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu dan hubungi Rilan katakan kau akan libur 2 hari ke depan.
"Bien Tuan."
Randika memejamkan matanya saat sambungan terputus. Dia tahu hal yang dia lakukan akan membuat orang yang dia cintai terluka. Namun demi membayar rasa bersalahnya dia harus tetap melakukannya.
__ADS_1