Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 11


__ADS_3

Dengan susah payah ketiga pria itu membawa Arumi ke kamar. Setelah melihat Arumi sedikit tenang, Randika menyuruh Rilan untuk kembali segera ke kantor. Hari ini dia harus menggantikan Randika menghadiri rapat dan mengurus beberapa berkas penting. 


"Maaf Tuan, aku akan tetap di sini. Jika sesuatu terjadi para Rumi, siapa yang akan menolongnya."


"Jadi kau pikir aku ini apa?


"Aku tidak mau mengambil resiko. Kau bahkan membuat dia seperti itu Tuan," tunjuk Rilan pada Arumi yang sudah berada dibelakang Randika dan mulai bereaksi lagi.


"Ini bukan perbuatanku, ini perbuatan Pria mesum itu, Arumi diamlah, kau bisa membuatku bergairah jika seperti ini, kalian berdua, bantu aku."


Randika benar-benar kewalahan karena Arumi yang terus saja memaksa untuk mengelus dadanya. Dia bahkan mencium serta mencakar tubuh Randika.


"Apa yang harus aku lakukan." Brian terlihat gugup samlai tidak tahu apa yang harus dia perbuat. "Apa aku harus memeluknya agar reaksinya sedikit meredah."


"Heiiii ...!"  teriak Randika dan Rilan serempak dengan mimik muka yang tidak ramah.


"Tenanglah, aku hanya bercanda."

__ADS_1


Brian gugup dengan tatapan kedua sahabatnya. Dia benar-benar tidak menyangkah, kedua sahabatnya ini punya hubungan yang sangat intim dengan gadis kecil itu. Wajah marah dan khawatir keduanya sama seperti mengkhawatirkan adik perempuan dan kekasih hati.


"Tuan sebaiknya, Aku saja yang menemani Arumi. Kalian berdua diluar saja," ujar Rilan menarik lengan Arumi untuk dibaringkan.


"Kau mau apa?" cegat Randika menarik menahan Rilan.


"Aku hanya ingin membaringkannya agar dia bisa istirahat. Dia terlihat sangat lelah."


"Kita tinggalkan saja dia sendiri di kamar" ucap Brian.


Randika tidak menjawab, netranya kini menatap pada Arumi yang tengah terlelap di atas kasur.


Dia tampak sangat lelah karena sedari tadi bergeliat dan meronta-ronta mendekap tubuh Randika.


"Rilan benar, akulah penjahat itu. Selama ini aku tidak pernah memperdulikannya bahkan untuk memanggilnya adik saja aku tidak bisa," batin Randika.


"Apa dia akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Obat yang dia minum hanya sedikit. Biarkan dia sendiri. Reaksinya akan hilang tanpa harus berhubungan."


Randika berbalik menatap tajam ke arah Brian. "Benar hanya sedikit?"


"Aku bersumpah Ran, mana mungkin aku berani berbohong."


"Baiklah, biarkan dia sendiri."


Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meninggalkan Arumi melewatinya sendirian. Jika dia terus bersama Gadis ini, gairahnya akan terpancing dan dia bisa melakukan hal-hal aneh pada Arumi.


Dia juga tidak akan rela jika harus Rilan yang di dalam sana, apalagi Brian. Randika menarik pintu dan menutupnya dengan pelan agar Arumi tidak terbangun. "Semoga dengan membiarkan Arumi sendirian adalah pilihan yang tepat," batinnya.


Brian yang berdiri di samping Randika, sempat melihat sekilas gadis itu. Dia benar-benar terlihat buruk dan menderita. Sejak obat bereaksi, Tubuhnya terus bergerak gerak mencari objek untuk melampiaskan hasratnya. Sungguh sangat menderita.


Brian menyesal telah melakukan hal gila ini. Dia semakin merasa bersalah ketika mengingat sekilas kejadian saat dia menaruh obat dan tangannya tidak sengaja tersenggol hingga obat yang terjatuh ke dalam minuman Arumi cukup banyak dari dosis seharusnya. Dia bahkan berbohong kepada sahabatnya kalau hanya sedikit obat yang tercampur.


"Maafkan Aku, Semoga kau kuat melewatinya gadis kecil. Aku janji, setelah ini akan memperlakukanmu dengan sangat baik," batin Brian. 

__ADS_1


__ADS_2