Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 101


__ADS_3

"Apa kalian bertengkar?" ujar Brian yang sibuk meracik minuman.


"Tidak."


"Lalu kenapa pria berwajah es itu tiba-tiba ingin bersama adik ku?"


"Aku tidak tahu." Randika menyapu wajahnya dengan kasar.


"Jelaskan semuanya padaku tanpa ada yang di tutupi. Wajah mu tidak cukup baik untuk menyimpan rahasia brother." Brian memberikan segelas minuman yang biasa mereka minum bertiga saat sedang bersama.


Pria itu mendesah saat mengecap rasa yang sudah tidak asing di tenggorokan-nya. "Aku bisa gila jika terus memikirkannya."


"Apa ada masalah?"


"Ternyata benar yang di katakan Evanya, Rilan memiliki rasa terhadap Arumi."


"Kau menemui Evanya?"


"Tentu saja tidak!"


"Hei brother, santai ... santai." Brian sedikit tersenyum karena Randika yang tiba-tiba emosi. "Apa kau yang memaksa dia untuk mengakuinya."


Pria yang memiliki manik hitam itu menatap dengan kesal.


"Astaga kenapa kau menjadi kesal? aku sedang bertanya bukan menuduh mu."


Randika dengan wajah datar dan nada datarnya berkata. "Aku tahu itu kesalahanku, tapi bisakah dia hanya marah padaku."


"Tentang mengakui perasaan tadi?"

__ADS_1


Pria itu mengangguk masih dengan tatapan datar.


"Bisakah kalian bersikap sedikit dewasa! Itu akan membuat kalian menjadi canggung dan akhirnya tidak saling menyapa karena rasa malu."


Setelah sedari tadi memasang wajah datar akhirnya pria yang memiliki rambut hitam tebal itu


terkekeh. Dia mengecap minumannya sebelum menjawab Brian. "Kau seperti Ayahmu."


"Berhenti membicarakannya!" ucap Brian tidak suka.


"ckk ... ckk ...." Randika berdecak.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Arumi saat tahu kakak yang selalu dia banggakan ternyata menyukainya sebagai lawan jenis."


"Dia sangat syok."


"Apa kau sedang menyindirku?" ujar Randika ketus.


"Keadaanmu berbeda Randika, kau dan Arumi tidak pernah akur, bahkan kau sama sekali tidak menyukai wanita itu sebelumnya. Rilan dan Arumi berjanji untuk saling melengkapi layaknya saudara kandung, selaku bersama dan saling memberi perhatian. Dan itu, bukankah kemauanmu sendiri."


Randika menarik napas dalam-dalam memasok kembali udara di dalam paru-paru, tiap kalimat Brian membuatnya sesak hingga seperti kehabisan napas.


"Aku akan pulang sekarang," ucap Randika berdiri. Sebelum pergi, dia menatap Brian. "Kau adalah teman curhat yang buruk. Aku pergi."


"Hei Randika pembahasan kita belum selesai."


"Arumi menungguku!"


"Minumanku belum kau bayar!."

__ADS_1


"Masukan kedalam tagihanku."


"Dasar berengsek, aku akan membuat kau bangkrut dengan tagihan ku!"


.


.


.


Arumi tersentak kaget, saat merasakan sentuhan lembut menyapu permukaan kulitnya. Dia membuka mata dan menatap pria yang sangat dia cintai dengan wajah sendu. "Sayang?"


"Ada apa? Kenapa matamu sembab, dan seharusnya kau tidur di kamarmu Sayang."


"Kak Rilan?"


"Yah, ada apa dengan pria berwajah es itu."


Manik Arumi tidak bisa menahan air matanya, dia mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap punggung sofa tempat tia tertidur tadi, entah mengapa perasaan di dalam hatinya membuat air matanya naik ke permukaan.


"Ini semua karena ulahmu, jika kau tidak memaksanya untuk berbicara, ini semua tidak akan terkaji."


"Aku lagi!" Pemilik mata berwarna hitam itu terkekeh melihat raut wajah kekasihnya yang kesal. Namun kelopak matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. "Kau tidak perlu menyiksa dirimu seperti ini, Sayang."


"Lalu aku harus bagaimana, diam di sini dan membiarkan Rilan, melupakan ku? tidak peduli lagi dengan diriku? Aku tidak mau dia menganggap ku orang lain. Aku adalah adik perempuannya hanya itu yang ku mau."


"Arumi aku mohon, kau bersikap berlebihan kali ini." Suara Randika begitu keras hingga membuat perempuan dengan piaya biru itu terhentak kaget. Mata Arumi membulat kaget, dia menatap tidak percaya jika sekarang Randika sedang membentaknya.


Apalagi tatapan manik hitam yang kelam milik pria di depannya ini benar-benar dalam hingga mampu membuat jantungnya ikut berdetak dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2