Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 99


__ADS_3

Rilan bangkit dengan hanya menggunakan selimut yang kemudian dia tanggalkan untuk menutupi bagian tubuh Aurela yang terbuka. Dia mengambil ponsel dan melihat beberapa panggilan dan pesan dari Arumi, Randika bahkan Brian.


Pria prancis itu terlalu fokus dengan patah hatinya hingga mengabaikan semua orang yang dekat dengannya. Bahkan Arumi, yang sama sekali tidak tahu apa-apa pun ikut merasakan.


Belum pernah sekalipun dia mengabaikan gadis itu, dan entah karena penolakan atau rasa kecewanya hingga membuat dia seperti ini. Beruntung Aurela dapat meredamnya, perempuan itu ternyata punya sisi lain yang sama dekali tidak Rilan ketahui sebelumnya. Dia adalah wanita yang manis dan homuris.


Pria yang memiliki manik cokelat itu tersenyum sendiri mengingat bagaimana wanita itu dulu selalu mengejarnya, mengirimkan begitu banyak bunga setiap pagi dan menarunya di loker dengan kartu ucapan yang jika saja semua itu dia simpan, bisa menjadi sebuah gunung.


Rilan merenungi semua itu cukup lama hingga dia tidak menyadari sesosok gadis cantik yang baru saja dia selimuti kini berdiri tepat di sampingnya.


"Kau tidak ingin menghubungi mereka?"


Rilan menoleh dengan tatapan datar, membuat Aurela merasa takut. Tidak ingin pria itu akan kembali ke mode pengaturan awal dan mengabaikannya lagi, buru-buru gadis yang berprofesi sebagai dokter hewan itu menghindar untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku segera kembali dengan segelas kopi."


"Aurela!"


Wanita itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap pria yang baru saja menjadi kekasihnya iru dengan jantung yang berdebar. "A-ada apa?"


Rilan terkekeh melihat reaksi Aurela yang sepertinya takut. "Apa kau takut padaku?"


"Tidak," jawab Aurela sedikit gugup.


"Bersihkan tubuhmu, aku akan menghubunginya dan menjelaskan."

__ADS_1


"Kau akan katakan kalau kau tidur bersamaku?"


Rilan mencakar pelan pada puncak kepala kekasihnya. "Anak kecil tidak boleh memikirkan hal seberat itu."


"Hei, umurku sudah 24 tahun."


"Artinya kau seumuran dengan kekasihnya."


"Kekasihnya?" mata Aurela menyipit. "Apa maksudmu Arumi?" Perempuan itu kembali mengererutkan kening. "Apa kau masih sakit hati karena dia menolakmu?"


Rilan terdiam, yang mana membuat Aurela semakin penasaran. "Ayolah Rilan jangan kekanak-kanakan seperti itu."


"What? Kekanak-kanakan?"


"Aurela mengangguk. "Kau tidak menyebutkan namanya tetapi menyebutkan dia adalah kekasih Randika, itu jelas menunjukan bahwa kau sakit hati."


"Tapi wajahmu menunjukan sebaliknya."


"Aku akan meracik kopi, bersihkan tubuhmu."


"Kau menghindar lagi. Itu tidak baik untuk kesehatan jantungmu Tuan Harperr."


Pria itu berjalan melewati Aurela menuju pantri. "Kau belajar mendiagnosa manusia juga?"


"Aku seorang dokter."

__ADS_1


"Dokter hewan, bukan dokter ahli jantung manusia."


"Hewan dan Manusia itu tidak jauh berbeda, manusia memiliki detak jantung sama seperti hewan. Hanya ukuran dan organ juga tingkah laku mereka yang berbeda."


"Sebaiknya kau mandi dokter, tubuhmu penuh dengan bekas ciumanku."


"Dasar pria mesum. Kau selalu pintar mengalihkan pembicaraan," ucap Aurela cemberut.


Rilan terkekeh. "Itu adalah keahlianku."


"Yah ... Untuk itu, kau bisa menyembunyikan perasaanmu selama bertahun-tahun."


Tanpa berkata lagi Rilan memberikan ciuman dalam untuk Aurela.


"Ahmmp, Ri ...." Wanita tidak bisa berkata-kata karena Ciuman Rilan yang terlalu dalam. Dan dalam hitungan detik Rilan menjatuhkan tubuh keduanya di atas tempat tidur, berfikir Rilan akan melakukannya lagi membuat Aurela dengan keras mendorong tubuh pria itu menjauh hingga ciuman mereka terlepas.


"Hentikan Rilan, kita sudah beberapa kali melakukannya bukan."


Rilan terkekeh, dia mentap Aurela dengan senyuman yang hampir membuat gadis itu melayang. "Memangnya apa yang kau pikirkan."


"A-aku? aku tidak memikirkan apa-apa."


"Benarkah?" Mata Rilan terpaku pada kedua bola mata yang di miliki Aurela. Mata hitamnya mirip seperti yang di miliki Randika, sangat pekat dan cocok bersanding dengn bola mata putihnya.


Aurela melihat arah tatapan Rilan, sedetik kemudian bibir mereka kembali mendekat. Namun, sebelum menyentuh bibir sang pemilik manik hitam itu, tubuh Rilan spontan menjauh saat mendapatkan telepon.

__ADS_1


"Hallo?"


__ADS_2