
Arumi menerima paper bag-nya dan mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam sana, gadis itu tersentak karena baju yang dia lihat sekarang bukan miliknya, melainkan baju baru lengkap dengan merek yang masih melekat di sana, tentu saja harganya tidak biasa untuk orang seperti Author.
Gadis berambut gelombang itu melirik pada pria yang sedang santai mengotak-atik benda tipis miliknya di sofa empuk di sudut kamar. "Ini bukan milik ku."
"Pakai saja."
"Semua pakaian ini baru dan aku tidak tahu mana yang pas untuk ku."
"Gadis bodoh.! Kau bisa mencobanya."
"Tapi--"
Belum sempat Arumi menyelesaikan ucapannya, Randika dengan cepat sudah memotong pembicaraan.
"Bisakah kau melakukan sesuatu tanpa harus bertanya."
"Dan bisakah kau menjawabku dengan baik."
"Gadis pembangkang! Apa kau ingin merasakannya lagi," ujarnya dengan sorot mata menggoda.
"Pria Gila! Hentikan otak liarmu itu, aku bukan wanita yang biasa kau tiduri."
Randika yang sudah terbiasa dengan umpatan Arumi, hanya tersenyum santai. "Lakukan dengan cepat. Mom dan Dady menunggu kita di rumah."
Arumi tidak bergerak dia malah balik bertanya di saat pria itu sedang emosi. "Kenapa harus aku, bukankah kau bilang tidak akan pernah tertarik padaku."
Randika bangkit. "Jangan memulai lagi."
__ADS_1
"Katakan apa yang sudah terjadi semalam."
"Tidak terjadi apapun Arumi. Aku sama sekali tidak menyentuhmu."
"Kau bohong!"
"Ganti pakaianmu atau aku akan benar-benar melakukannya."
Arumi berbalik seketika, menatap tajam ke arah pria berambut hitam lebat itu. "Katakan atau aku akan pulang seperti ini."
Randika terkekeh. Dia menarik Arumi mendekapnya hingga wajah gadis itu jatuh tepat di dadanya. "Baiklah. Lakukan jika kau ingin semua orang tahu."
"Randika!"
Pria itu tidak memperdulikan teriakan Arumi. Dia melangkah begitu melepaskan tubuh gadis bermanik cokelat itu. "Ganti pakian mu."
***
Bosan dengan ocehan gadis itu Randika pasrah dan mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak ada yang terjadi, kau hanya tidak sengaja meminum sedikit obat perangsang yang diberikan oleh Brian, dia sudah meminta maaf untuk itu. Kau puas!"
"Hanya itu."
"Jadi kau ingin aku menjelaskan bagian mana, apa kau berharap sesuatu terjadi!" ujarnya datar.
"Pria mesum!"
__ADS_1
Randika tertawa kecil. "Kau pusing dan tidak sadarkan diri. Rilan, aku dan Brian berusaha membuatmu sadar, tapi karena dirimu yang terlalu primitif akan **** makanya reaksinya sedikit berbeda."
"What!"
Arumi cukup kaget. Dia benar-benar tidak percaya Pria aneh pemilik kafe itu telah membuat dirinya setengah gila. "Ternyata Pria itu sangat berbahaya."
"Siapa?"
"Sahabatmu itu siapa lagi."
Randika mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah Arumi. dia lalu mendekatinya menangkup seketika wajah gadis itu dan mengecup dengan cepat pada bibirnya.
"Kau sangat Manis."
"Randika!"
"Cepatlah, Rilan sudah menunggu."
•
•
•
08.00.
Kediaman keluarga Garrett
Amirta dan Jenny sedang berada di meja makan dan menikmati sarapan pagi mereka, sesekali Jenny akan menengok ke pintu utama untuk melihat apakah Randika dan Arumi sudah tiba atau belum. Jenny begitu khawatir, dari kemarin kedua anaknya belum juga pulang, dan pagi ini Randika sudah mengabari kalau akan pulang tapi sampai sekarang mengapa keduanya belum juga sampai.
"Apa anak itu tidak pulang tadi malam?" tanya Amirta disela-sela suapan.
"Katanya dia meninap di rumah Brian."
"Lalu ... apa sudah ada kabar dari Rumi? kapan dia akan pulang.
"Mereka akan pulang bersama."
__ADS_1
"Apa kita batalkan saja perjodohan mereka?"
"Jangan! Biarkan saja. Aku merasa mereka akan cocok," ujar Jenny tersenyum tipis.