
Air mata Arumi mengenang, bibirnya gemetar menahan emosi. Gadis itu mengerang menahan sesak di dadanya. Rilan yang baru sampai di balkon pun terlihat bingung saat melihat gadis yang dianggap adiknya itu tersungkur di lantai dengan air mata.
"Apa yang terjadi."
"Kak Rilan!"
Gadis itu menghambur ke pelukkan Rilan setelah mangatakan kebencian. "Randika, aku membencinya."
"Randika? apa pria itu melakukan sesuatu padamu?"
"Aku kesal," jawab Arumi dengan isakan kecil.
"Apa dua pria itu melakukan sesuatu padamu?' tanya Rilan kembali dengan hati-hati.
"Seperti memasukkan sedikit obat perangsang pada minumanku?" ujar Arumi.
Rilan kaget. Dia mendorong pelan tubuh Arumi untuk memberi sedikit jarak darinya, sorot matanya sangat terkejut.
"Dari mana Kau tahu?"
"Pria Robot itu mengatakannya padaku tadi," jawab Arumi terisak.
"Pria Robot? maksudmu Randika." Rilan hampir tergelak, yang kemudian tawannya pecah saat Arumi membalas dengan anggukan kepala.
"Apa kau gila! hahaha ... kau tidak takut padanya?"
"Kau tidak marah," tanya Arumi bingung.
Reaksi Rilan tidak seperti biasanya. Saat orang lain kerap mengganggunya Rilan selalu marah. namun kali ini berbeda, Rilan masih memakluminya karena dia dan Brian adalah sahabat dan Randika adalah Tuan-nya.
"Sedikit, Brian sudah menyesalinya. Dia sudah meminta maaf," ujar Rilan dengan tenang.
"Kak Rilan juga tahu kalau ini semua ulah pria aneh itu?"
"Hmmm, Tapi Randika sudah memberi pelajaran padanya, dia memukuli Brian tanpa ampun."
"Benarkah? Kenapa dia semakin aneh. Seharusnya dia tidak perduli bukan. Batin Arumi pelan.
"Kak Rilan, boleh aku bertanya?"
"Silahkan," jawab Rilan.
"Bagaimana rasanya ciuman pertama mu," tanya Arumi gugup.
__ADS_1
"Apa Randika mencium mu?"
"Ahhmm ... itu ... uhmmm i-iya," jawab Arumi dengan malu-malu.
Rilan menyipitkan kedua matanya. "Kapan? apa semalam, katakan padaku apa dia memaksamu?" tanya Rilan dengan kedua tangannya mengguncang pundak Arumi.
Karena gugup bercampur malu, Arumi bukannya menjawab malah terdiam dengan ekspresi tidak jelas. Rilan yang sudah terbawah emosi pun, semakin terbakar dengan diamnya Arumi.
"Berengsek! dia berjanji padaku tidak akan menyentuhmu," ujar Rilan setengah berteriak, dia pun berlalu meninggalkan Arumi dan turun mencari kedua Pria itu.
Bruak ...
Suara Tangan Rilan memukul meja.
"Apa-apaan ini Rilan," ujar Brian kaget.
"Apa kau tidak wa--"
Bugh ... bug ... bugh ....
"Rilan hentikan! kau menyakitinya! hentikan Rilan!" teriak Brian panik saat tubuh Randika tersungkur dengan pukulan yang bertubi-tubi dari Rilan.
"Diam berengsek! kalian berdua sama saja!" .
"Hei ...! Ada apa! kenapa kau seperti ini, apa salahku?" teriak Randika kesal.
"Aku tidak menidurinya! Aku bersumpah untuk itu!" .
"Tapi kau menciumnya,"
Brian tersentak kaget. "Wha? kau mencium-nya!"
"Dia yang memulai."
"Jadi suara pekikanmu itu karena kalian melakukannya? wah ... wah ... wah" ujar Brian meledek.
"Hentikan otak mesum-mu, aku tidak melakukan apa-apa. Arumi kenapa kau diam saja, katakan pada mereka kalau tidak terjadi apa-apa selain ciuman itu," pintanya pada Arumi yang hanya terdiam saja dari tadi seperti patung.
Gadis itu memang terlihat seperti patung saat ini dia begitu takut dan gugup hingga tidak sanggup berkata apa-apa, kakinya bahkan gemetar dan tak berani melangkah.
"A-aku ...." ujar Arumi terbata-bata.
"Aku apa, ha ... apa ...! lihat, cakaran di tubuhku ini saja belum membaik, dan sekarang kau malah menambahkan luka di wajahku Rilan Harperr! apa kalian berdua sengaja melakukannya padaku? ha ...! apa yang kau katakan padanya sampai dia memukulku, jawab gadis bodoh?" ucap Randika Geram.
__ADS_1
"A-aku ...."
"kak Rilan apa yang kau lakukan, dia tidak akan melepaskanku setelah ini," desah Arumi di dalam hati.
"Dan kau ... Rilan Harperr. Kau, Aku pecat!" ujar Randika dengan lantang.
"A-apa ? tidak Tuan, aku-aku minta maaf, jangan memecatku, aku mohon."
"Tidak ...! mulai hari ini, Kau aku pecat!" ucap Randika mengulangi. "Dan kau Arumi, masuk ke mobil sekarang juga!" ujarnya dengan tatapan nyalang.
"Tapi Ran ...."
"Sekarang !!!"
"Aku yang salah, jadi jangan membentaknya," sela Rilan tak rela jika Arumi di bentak.
"Siapa kau!" ujar Randika datar.
"Tuan, ini hanya salah paham, Aku mohon maafkan Aku," ujar Rilan memelas.
"Sesali perbuatanmu, dan enyahlah dari hadapanku," pinta Randika seraya berlalu meninggalkan kedua sahabatnya.
"Tuan aku mohon, aku tidak ingin dipecat," ujar Rilan sedikit berteriak saat melihat Randika yang sudah melangkah jauh.
Brian terkekeh, dia menahan Rilan untuk tidak mengejar Randika.
"Biarkanlah, Kau seperti tidak mengenalnya,"
"Ini semua gara-gara ulah bejatmu setan."
"Aku lagi ... sudahlah. Dia akan membaik, dan segera menghubungimu sebentar lagi, percayalah padaku," ucap Brian menenangkan sahabatnya.
"Jika sampai aku dipecat, akan aku hancurkan kau dan tempat ini," erang Rilan.
"What, apa kau Gila," rintih Brian kaget.
Drrzzz ... drrzzz ....
Suara ponsel Rilan bergetar. Ada satu pesan masuk yang terlihat pada layar enam inci itu.
📥"Cepatlah, Kita kembali sekarang." Rilan mematikan layar handphone-nya dengan tersenyum.
"Sudah Ku bilang kan, dia sangat mencintaimu, tidak mungkin dia membuangmu begitu saja," ujar Brian berbangga.
"Tutup mulutmu setan," ucap Rilan bergegas meninggalkan Brian.
__ADS_1
"Setan?" Brian terkekeh. "Dosa apa aku bisa memiliki dua sahabat sinting seperti kalian."