
Arumi tersenyum, dia melangkah ke bawah pohon di mana itu adalah depat mereka akan menikmati bintang. Dia duduk di atas rumput tebal bersama Randika. Namun, suasana sedikit hening karena ciuman tiba-tiba Randika tadi.
Entah harus bersikap seperti apa sekarang. Saat ini Arumi benar-benar sangat gugup. Harusnya dia marah karena Randika karena lagi-lagi pria itu menciumnya dengan sesuka hati tapi, yang terjadi dia malah sebaliknya. Pipi Wanita dengan manik cokelat itu bersemu menjadi pink dengan jantung yang berdebar tidak teratur.
"Jangan sampai kau menyukainya Arumi, kau harusnya sadar dia tidak akan bisa membalas cintamu. Marah ... marahlah, jangan tunjukan kepolosanmu saja Arumi," batinnya memperingati diri sendiri.
"Apa kau suka gunung?"
Pertanyaan Randika membuat dia mevngerjab kaget. "Tidak! Aku membencinya sama seperti aku membencimu."
Randika terkekeh. Apalagi nada suara Arumi saat mengatakan benci seakan sedang menegaskan bahwa dia sedang marah. "Lalu kenapa kau ingin ke tempat ini?"
"Gunung telah mengambil kedua orang tuaku, aku ke sini untuk mengatakan kalau aku tidak sakit hati saat merak merenggutnya dari ku."
Arumi mengucapkannya dengan penuh penekanan, dia bahkan berusaha menahan tangisannya agar tidak pecah. Dia terlihat tegar tapi, jauh didalam hatinya sangat hancur.
Randika sedikit beringsut, dia mendekat menatap lamat wajah gadis yang baru saja di lamarnya itu tanpa beralih. "Kau cukup tegar."
Perempuan bermanik cokelat itu tersenyum saat Randika mendekatinya.
"Jika Kau mau, Aku akan menemanimu setiap Kau ingin ke tempat ini," ujar Randika dengan mengedipkan sebelah mata.
__ADS_1
"Kau selalu saja seperti ini," cemooh Arumi.
"Apa!"
"Kau selalu mengganggu momen haru ku," ujar Arumi kesal.
Randika terkekeh, Arumi ternyata sudah hafal kelakuannya. "Aku hanya berusaha untuk menghiburmu."
"Aku tidak suka caramu!"
"Baiklah," ujar Randika masih tergelak.
"Kak Rilan! untuk apa aku mengajaknya sejauh ini. Kau adalah orang pertama yang aku ajak. Tadinya tidak mau, karena yg ingin aku ajak ke sini adalah seseorang yang akan menemaniku menua. Namun, karena kau sudah berbaik hati menemaniku tadi jadi sebagai imbalannya aku mengajakmu untuk melihat bintang-bintang ini," ujar Arumi menjelaskan.
"Jadi aku orang pertama?"
"Tentu saja."
"Tapi, bukannya aku yang akan menemani hari tuamu nanti?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Heii, jangan salah paham, bukankah kita akan menikah."
Arumi terkekeh. "Apa kau akan benar-benar menikahiku?"
"Mungkin iya, mungkin tidak," ujar Randika dengan tatapan mata melengkung.
"Aku tidak akan menikah dengan Robot sepertimu."
"What? hei, aku adalah pria tertampan dan baik hati seantero Quebec tidak sopan mengatakan seperti itu."
Arumi tertawa keras saat mendengar Randika berucap. Dia tidak percaya Pria sedingin salju ini akan mengatakan dirinya adalah pria baik. Padahal, jelas-jelas sikapnya pada Arumi sangat tidak baik.
"Jika aku serius ingin menikah, apa kau akan menerimaku?"
"Ha ...."
Gadis itu kaget bukan main saat Randika mengatakan hal yang sangat mustahil menurutnya. Randika bukan hanya mengatakannya dengan lantang, tapi Pria itu bahkan mengatakan dengan tatapan penuh cinta kepadanya.
Keduanya pun hanyut dalam tatapan yang semakin lama semakin menggelora. Arumi bahkan bisa merasakan sentuhan lembut tangan Randika membelai pipi gembulnya. Afsun sang bagaskara yang mulai terbenam meninggalkan nabastala pun menjadi saksi bisu keromantisan kedua insan ini hingga sarayu membawanya kembali keparaduan.
...••••••••••...
__ADS_1