Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 24


__ADS_3

"Randika!"


Pria berambut hitam lebat itu terkekeh. "Maaf mengagetkanmu."


"Dasar pria mesum, untuk apa kau diam-diam ke sini huh? mau membuatku mati karena kaget!"


"Maaf."


"Memyebalkan!"


"Kau terlalu serius Rumi, bahkan kau tidak menyadari ada orang di sekitarmu."


Arumi menatap tidak percaya pada pria di depannya. Bukan karena ucapannya tapi, bagaimana bisa pria ini tahu dia ke bukit Gros Morne, bahkan untuk sampai ke sini butub perjalanan yang cukup jauh. Dan Pria ini, tanpa memberi kabar sekarang malah duduk di sampingnya.


"Sedang apa kau di tempat menyeramkan ini, apa kau tidak talut sendirian?"


"Apa kau tidak luhat d sekitarmu? banyak orang mendirikan tenda di sini. Beberapa hari lagi musim panas akn segera berlalu, jadi tempat ini akan ramai demgan pengunjung."


"Apa meraka datang sejauh ini untuk menikmati matahari?"


"Tanyakan saja pada mereka."


Randika tersenyum, dia melangkah ke dekat pohon di mana itu adalah tempat ternyaman saat ini, dan dia tidakenyukai panas. Itu akan membakar kulitnya yang putih.


"Kapan kau sampai?" tanya Arumi.


"Cukup lama untuk bisa mendengar semua ocehanmu."


"Semuanya?"


Randika mengangguk. "Termasuk curhatanmu tentang Pria Robot itu."


Gadis itu langsung terdiam, dia merasa tidak enak karena mengatakn hal-hal aneh tentang pria itu termasuk umpatan untuknya.

__ADS_1


"Tapi aku suka dengan pujiannya."


Arumi tergelak dia mengambil beberapa batu dan meleparkannya mengenai pria itu."


"Kita harus cepat, sebntar lagi akan gelap."


"Baiklah."


Arumi memejamkan kedua matanya, dia mengucapkan beberapa kalimat di dalam hatinya, berharap semua itu akan menjadi kenyataan. Dia membaca sepenggal doq dan mengakhirinya dengan kecupan lembut pada batu nisan yang menghiasali 2 gundukan tanah di depannya.


"Aku akan kemabali bersama kebahagiaanku," gumamnya pelan.


*


*


*


"Apa kita bisa berhenti di bukit itu?"


"Bisakah kau mengantarku tanpa berdebat," ujar Arumi melotot.


Randika berdecak, dia tidak ingin membalas karena itu akan membuat suasana menjadi tidak baik, perjalanan mereka masih panjang dan dia tidak ingin melewati tiap tikungan dengan canggung.


Pria dengan kaos putih itu melajukan Mustang miliknya menuju bukit yang Arumi inginkan, pikirannya masih dipenuhi tanda tanya, tapi apalah daya gadis aneh yang duduk di sampingnya hanya mengarahkan jalan tanpa memberitahu tujuannya kesana.


30 menit perjalanan akhirnya keduanya pun sampai dibukit yang Arumi inginkan. Randika terlihat bingung harus memarkir mobilnya dimana, karena sepanjang jalan hanya terlihat gunung yang membentang, tidak terlihat rumah atau sesuatu yang menandakan ada kehidupan di sana. Hanya terlihat kendaraan yang sesekali lewat dan langit yang sudah mengeluarkan bintang.


"Apa kau yakin ini tempatnya?"


"Yakin, lagi pula ini bukan pertama kalinya aku kesini," ujar Arumi santai.


Akhirnya, mau tidak mahu Randika harus menuruti, mustang hitamnya dia tinggalkan di bawa bukit karrna tidak ada jalan yang bisa dia lewati. Arumi berjalan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi, diatas sana ada beberapa pohon yang tampak rimbun, karena tiupan angin diatas sana sedikit kencang udara di atas oun sedikit dingin. Apalagi matahari sudah tidak tampak di atas sana.

__ADS_1


Randika masih terlihat gelisah, dia terus berputar untuk melihat sekeliling yang dirasanya terlalu sepi. Namun, ketika melihat Arumi yang dengan santai berjalan menapaki bukit, pikirannya sedikit legah, itu artinya tempat ini aman.


"Apa kau tidak kedinginan?" tanya Randika.


"Tidak, apa kau dingin?"


"Sedikit."


Arumi tertawa saat melihat Randika yang begitu kelelahan dengan napas yang terengah-engah mendekatinya.


"Apa ini kali pertama kau ke bukit?"


"Tentu saja," ucap Randika dengan napas yang tidak teratur. "Untuk apa kau ke tempat sesunyi ini."


"Untuk bersemedi agar jodohku kelak bisa setampan lee minho," sahut Arumi.


Pletak ...


Randika menjitak dahi Arumi dengan keras hingga mmebuat gadis itu meringis.


"Akh ...."


"Apa wajahku kurang tampan hingga kau harus bersemedi ditempat sejauh dan sunyi seperti ini."


"Itu sakiittt," rintih Arumi mengelus dahinya yang telihat sedikit merah.


"Itu hukuman karena kau lupa dengan statusmu."


"Memangnya ada apa dengan statusku?" tanya Arumi bingung.


"Apa aku harus menciummu seperti ini agar kau ingat."


Cup ... satu kecupan mendarat tepat dibibir Arumi.

__ADS_1


Tubuh Arumi seketika menegang dengan mata membulat, detak jantungnya pun berdebar dengan tidak normal. Ingin rasanya tubuhnya melebur dan meresap masuk disela rumput-rumput bukit karena malu. Padahal ini juga bukan ciuman pertama Randika padanya. Bahkan untuk marah atas perlakuan Randika yang semena-mena ini pun dia tidak bisa.


"Oh Tuhan, apa ini yang namanya jatuh cinta."


__ADS_2