Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 92


__ADS_3

Seorang penjaga menghampiri ruang jeruji yang berada di paling ujung sel wanita. Dentuman bunyi kunci yang saling beradu dengan jeruji membuat sang penghuni terbangun dengan kebingungan.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?"


"Aku tidak tahu, mungkin saja kekasihmu."


"Seorang pria?"


"Yah, dan dia sangat tampan," goda sang penjaga.


"Apa Randika?" batin-nya. Evanya menyeringai mengingat pria itu. "Aku tahu cepat atau lambat kau akan merindukanku."


Sang penjaga lalu membuka pintu dan mempersilahkan Evanya untuk mengikutinya, menyusuri ruang yang di dominasi beton dan besi itu. Wanita itu melangkah beriringan menuju ruang besuk tahanan dengan rasa penasaran untuk siapa pria yang datang membesuknya.


"Bagaimana kabarmu?"


Kalimat itu mampu membuat Evanya mengalihkan perhatiannya. "Apa kau datang untuk melihat penderitaanku?"


"Non, aku datang karena merindukanmu."


Evanya berdecak. "Kalau begitu bebaskan aku."


"Kau tahu, aku tidak bisa melakukannya Evanya."


"Pourquoi? (Kenapa?)"


"Tu connais la raison. (Kau tahu alasannya.)"


"Wanita itu lagi?" Pria itu tidak menjawab membuat Evanya tertawa dengan kerasa. "Dasar pria lemah, pergi dari sini, aku tidak membutuhkan belas kasihmu."


"Evanya!"

__ADS_1


"Pergi! Pergi! Pergi!"


"Hei Nona tenanglah, anda bisa mengganggu pengunjung lain," ujar sang petugas saat suara Evanya terdengar tinggi.


"Diam kau Penjaga bodoh, kau seharusnya menerima orang yang akan membebaskanku, bukan orang yang datang untuk mengasihaniku."


"Evanya tenangkan dirimu."


"Pergilah ke neraka, kalian semua ... aku membenci kalian." dia berlalu pergi dengan wajah penuh marah. Namun, sebelum menghilang di balik dinding pembatas langkah kakinya terhenti saat suara pria itu berkata.


"Randika akan segera menikah."


Wanita itu hampir limbung saat Brian berkata, dunianya seakan runtuh mengingat pria yang di sebutkan pernah menjadi belahan jiwanya. Dengan sisa-sisa tenaganya dia berbalik untuk menoleh tanpa berkata.


"Aku harap, kau juga bisa hidup dengan bahagia."


"Apa dia benar-benar mencintainya?"


Brian tidak menjawab, dari gerak tubuhnya Brian mengatakan dia enggan mengakuinya, dan Evanya menyimpulkan bahwa Randika benar-benar menginginkan wanita itu. Hati Evanya seperti tercubit dengan keras, dia akhirnya kalah.


"Bebaskan aku Brian, ku mohon! bebaskan aku."


"Aku tidak bisa Evanya."


"Aku mohon, lakukan hal baik untuk ku kali ini saja," ucapnya masih dengan tangisan.


"Bukankah kau memiliki Damian?"


"Pria berengsek itu meninggalkanku setelah tahu aku di penjara."


"Shiiit." Brian mengumpat dengan keras.


"Ku mohon bebaskan aku Brian." Manik Evanya berair kembali, dia menempelkan tangan pada kaca dan menepuk pelan di sana dengan air mata yang terus jatuh. "Aku mohon."

__ADS_1


"Jangan seperti ini Evanya, kau menyiksa dirimu sendiri."


"Aku tidak ingin di sini, aku tidak mau mati di sini Brian, ku mohon bebaskan aku dari sini."


Brian menggeleng pada setiap kata yang di ucapkan Evanya. "Maafkan aku."


Air mata Evanya terus mengalir, apalagi saat Brian berdiri hendak meninggalkan wanita itu."


"Jangan tinggalkan aku Brian!"


"Evanya please ... jangan seperti ini."


Pria itu kembali mendekat, dengan wajah khawatirnya dia menatap Evanya yang menangis, wajah cantiknya kini menjadi sangat pucat.


"Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya."


"Kau penghianat! kau bilang menyayangiku seperti saudaramu."


"Kita akan tetap menjadi sahabat dan juga saudara Evanya."


"Kau bohong! kau penipu! aku membencimu!"


"Evanya."


"Aku akan membalas kalian setelah keluar dari tempat ini, dasar brengsek."


Brian tahu Evanya sangat tersiksa, saat ini dia membiarkan Evanya mengumpatinya karena dia tahu, sahabatnya hanya berusaha menyembunyikannya agar tidak terlihat menyedihkan.


"Tenangkan dirimu dan jalani semua ini hingga masa hukumanmu berakhir."


"Semua ini karena wanita jalang itu."


"Semua terjadi karena kesalahanmu, ingat apa yang sudah kau lakukan."

__ADS_1


Evanya menggeleng keras. "Wanita itu ... aku akan membunuhnya."


"Kau akan membuat penjaga itu menandaimu jika terus berteriak seperti itu Nona Mastaw," ucap Rilan yang tiba-tiba saja muncul di balik punggung Brian.


__ADS_2