Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 130.


__ADS_3

Maaf bangat yah kawan-kawan pembaca setiaku yang tercinta. Sudah beberapa hari ini jaringan di daerahku down, aku tidak bisa masuk aplikasi apalagi Up. Hari ini mulai membaik dan aku mencoba untuk Up. Semoga lolos dan masuk notif di rak baca kalian. Selamat membaca. 💜





__ADS_1


Malam itu berakhir begitu kelam untuk Aurela dan Rilan. Gelapnya malam menemani kekecewaan Keduanya dengan angin dingin yang berhembus halus masuk ke dalam sela-sela jendela. Aurela menaikan selimutnya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rilan yang melekat di sana. Membayangkan jika sekarang dia sedang berada di pelukan pria itu, menghabiskan malam bersama hingga matahari terbit.


"I really miss you, my cold man." Dokter hewan itu menarik dalam-dalam napasnya, lalu membuangnya dengan pelan. "Aku tidak ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi. Please, mengertilah. Aku hanya takut kau melupakanku."


Sedang di sisi lain, Rilan tengah gelisah dalam tidurnya, membalikan badan ke kiri lalu ke kanan. Sesekali, dia akan mendesah kemudian duduk lalu kembali mencoba menutup mata lagi. Namun, sekuat apapun usaha nya untuk bisa tertidur, tetap tidak bisa. Pikirannya melayang memikirkan permintaan Aurela untuk menjauhi Arumi. Dan bagaimana dia harus bersikap jika kedua wanita itu berada di dekatnya secara bersamaan.


Di satu sisi, dia ingin selalu menjaga hubungannya dengan Aurela terlepas dari semua kecemburuannya. Di sini lain, dia harus tetap menjaga Arumi sesuai dengan janjinya. Gadis itu bahkan tidak pernah menuntut untuk selalu di jaga. Namun, tetap saja. Rilan tidak bisa mengabaikannya dan mengikuti kemauan Aurela.


Pria Prancis bermata cokelat itu terus bergumam di dalam hati, kadang dia membuat pertanyaan lalu kemudian menjawabnya sendiri. Hal itu terus berulang hilang pukul 2 pagi, pria itu sama sekali belum bisa memejamkan mata.

__ADS_1


"Arrrggh .... Apa-apan ini! Kenapa aku malah tidak bisa tidur? Sial!"


Tidak terkecuali dengan Randika. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 lewat. Namun, pria bermata hitam itu seperti sedang gelisah, ada banyak hal yang mengganggu pikirannya malam ini. Dia seakan takut jika sesuatu yang besar akan terjadi besok di luar kendalinya. Dia tahu bahwa Evanya telah merencanakan sesuatu, alan tetapi dia membiarkan semua rencana licik itu terjadi untuk membuat wanita itu merasa lebih baik lalu kemudian menghantamnya untuk yang terakhir kali besok.


Sejujurnya, dia sedikit ragu, karena takut jangan sampai Evanya hanya mengelabuinya dengan meneruh beberapa ranjau di hotel tempat mereka mengadakan pernikahan, tapi sudahlah, dia harus berfikir positif. Bukankah semua ranjau itu sudah dia bersihkan bersama Rilan. Lagi pula Rilan dan anak buahnya juga akan berjaga selama acara berlangsung.


Setelah lama berfikir sendiri, Randika berjalan keluar untuk melihat keadaan Arumi, gadis itu sedikit mual saat terakhir dia mengunjunginya. Dilihatnya kekasih tercinta yang sedang tertidur pulas, wajahnya begitu damai membuat hati Randika menghangat. Mengingat besok adalah hari bahagia untuk keduanya, di mana keduanya akan mengikat janji sehidup semati. Dan tentu saja, Randika selalu menanti kegiatan malam pertamanya. Pria itu tertawa tipis mengingat wajah Arumi yang akan malu-malu saat itu.


"Istriku, tersayang. Tidurlah dengan nyenyak. Karena besok hingga malam berakhir, kau akan sangat sibuk. Aku tidak mau kau kelelahan di saat

__ADS_1


malam pertama kita," Bisik Randika pada Arumi yang sedang terlelap dalam mimpinya. Dia menaikan selimutnya, lalu mencium kening Arumi sebelum meninggalkan kamar kekasihnya.


__ADS_2