
"Jam berapa kau kembali."
"Baru saja."
Arumi terdiam jawaban singkat Randika membuatnya bertanya-tanya di dalam hati apa yang harus dia katakan lagi agar memancing pembicaraan.
Melihat Arumi yang sedang berfikir, Randika mengira wanita itu salah paham karena dia terbangun dengan dirinya yang tertidur di sampingnya.
"Aku hanya tertidur, tidak ada yang terjadi."
"Maaf, tapi pikiranku tidak sampai ke situ."
Jleb ....
Kini balik Randika yang salah mengira. Pria itu menelan luda kasar karena gugup. "Aku hanya menjelaskan agar kau tidak salah paham," ujarnya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Apa hari ini kau akan makan malam di rumah?"
"Entahlah."
"Jika kau kembali, aku bisa memasak makanan untuk---"
"Jangan menunggu ku."
"Baiklah, aku mengerti." Suara Arumi mengecil sampai akhir kalimat.
"Aku hanya ingin sedikit menenangkan pikiranku, jadi mengertilah."
__ADS_1
Arumi langsung terdiam. Baru sehari mereka bertengkar sudah membuat kepalanya pening. Dia ingin semua kembali normal. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Dan keadaan semakin hening saat Claudia selesai menyajikan sarapan. Randika fokus menyantap nasi goreng pedasnya dan Arumi hanyut dalam pikirannya sampai dering ponsel mengagetkan-nya. Arumi beranjak dari duduknya saat selesai membaca isi pesan.
"Kau tidak sarapan?" ujar Randika dengan mata yang tidak lepas dari ponsel yang di genggam kekasihnya.
"Tidak, aku permisi."
Randika menunduk pelan saat Arumi beranjak pergi. Dia mengusap wajahnya kasar dengan rasa penasaran tentang deringan posel Arumi tadi. Claudia yang menyaksikan itu terlihat menggaruk keningnya yang tidak gatal. Kepala pelayan itu bingung dengan peran yang sedang di mainkan kedua majikan-nya.
"Apa kau bingung," bisik Minora yang tiba-tiba muncul di balik punggung Claudia.
"Mereka bertengkar?"
Saat Minora ingin menjawab pertanyaan Claudia, tangan kepala pelayan yang terkenal dingin itu sudah dengan cepat menutup mulut kecilnya karena mendengar langkah kaki yang mendekat. "Apa yang kau lakukan Nona Clau!"
Claudia mengabaikan teriakan kecil Minora, dan memberi kode bahwa seseorang muncul dari sana. Mengerti dengan itu, Minora mengikuti Claudia menundukkan wajah saat suara langkah kaki itu semakin dekat.
Seorang muncul di sana dengan mini dres Navi selutut, sedikit belahan di dada membuatnya terlihat seksi, apalagi itu di paduka dengan jaket kulit berwarna coklat yang terlihat sangat pas tubuhnya. Tak lupa tas kecil yang selalu dia kenakan melingkar manis di pundaknya. Wanita itu melangkah menuju pintu keluar tanpa menatap pria yang sedang menikmati sarapannya.
Wanita dengan manik cokelat itu berbalik saat mendengar namanya di sebut. "Kau memanggilku?"
Manik hitam itu membuka lebar matanya melihat penampilan Arumi yang menurutnya sangat .... ehem. 😋
"Mau ke mana kau dengan pakian seperti itu?"
"Aku akan ke perpustakaan, mungkin ada buku yang menarik di sana"
"Sebentar, perpustakaan?"
__ADS_1
"Yes, true."
"Tidak! Aku tidak mengijinkamu."
"Whay?"
"Masuk," pinta Randika dengan wajah yang tidak dapat di artikan.
"Aku bosan menatap daun-daun mapel itu berguguran, jadi biarlan aku keluar sebentar?"
"Masuklah."
"No!"
"Ganti bajumu Arumi, itu terlalu pendek kau akan masuk angin nanti."
Arumi mengulum senyum, dia tahu apa yang di pikirkan Randika. "Tapi aku nyaman dengan ini."
"Jangan membantah dan masuklah!"
Arumi berdecak. Kali ini dia tidak akan peduli dengan apa yang di katakan kekasihnya. Wanita berponi itu berlalu dengan cepat dan menghilang di balik pintu dengan seseorang yang menunggunya di luar pagar.
"Shiiit."
Randika mengumpat dengan keras hingga Claudia dan Minora yang sempat menguping dari balik dapur ikut terkejut.
"Apa dia berpakaian seperti itu untuk menarik perhatian pria-pria di luar sana?"
__ADS_1
Randika kembali mengusap kasar wajahnya berkacak pinggang dan mengumpat tiada henti. Tidak cukup dengan itu, Pria bermanik hitam itu bergegas meraih ponselnya dan menelpon Rilan. Namun hingga beberapa panggipan dia lakukan pria itu tidak menjawabnya, membuat dia semakin marah dan kembali mengumpat.
"Arghh .... Shiiit."