Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 28


__ADS_3

"Apa aku harus menjadi seperti Rilan untuk membuatmu memanggilku dengan lembut. Atau Aku harus berpura-pura menjadi kakak yang baik agar bisa mendengarmu memanggil ku kakak." Randika mempertahankan kontak matanya dengan Arumi, hari ini dia benar-benar meluapkan isi hatinya tanpa di tutup-tutupi.


"A-aku tidak mengerti, apa yang kau bicarakan," jawab Arumi gugup. Dia memainkan cicin yang baru di pasangkan Pria di depannya dengan bola mata yang bergerak cepat untuk menghindari tatapan Randika.


"Luar biasa Randika, luar biasa. Kau membuat Arumi bingung dengan perasaanmu yang tidak seberapa ini," ujar Randika mengalihkan pandangan kemudian melangkah pergi meninggalkan segala keluh kesah yang baru saja dia ungkapkan kepada gadis polos keras kepala itu.


"Ran, Kau mau kemana." Arumi menarik lengan Randika agar berhenti.


"Apa lagi," desah Randika dengan napas menggebu-gebu.


"Kenapa kau jadi seperti ini! bukankah beberapa hari ini kita baik-baik saja. Lalu sekarang ... ada apa dengan mu?" seru Arumi bingung.


Arumi sangat bingung. Perubahan Randika yang mendadak seperti ini membuat dia bimbang harus berada di pihak mana. Rilan, Pria itu sudah di anggap seperti kakak bagi Arumi. Dan Randika, pria yang baru saja resmi menjadi tunangannya sekaligus lelaki pertama yang membuat pipi Arumi bersemu dengan jantung yang berdebar-debar.


"Sebaiknya Aku pulang. Maaf telah mengganggu acara Tuan dan Nona," sela Rilan dengan membungkuk. Dia pun segera melangkah pergi. Randika pun sama sekali tidak peduli dia malah membuang muka tidak ingin melihat kepergian Rilan.

__ADS_1


"Aku antar kakak kedepan," ujar Arumi.


"Tidak Rumi, ah maaf Nona?"


"Jangan memanggilku seperti itu," ujar Arumi tersenyum kecut.


"Tapi--" Jawab Rilan terpotong. Dia menoleh pada Randika yang sedang memandangnya dengan tatapan tidak suka.


"Lanjutkan saja, Aku tidak apa-apa," sela Randika berlalu pergi.


"Biarkan saja, nanti juga baik lagi,"


"Tidak akan!" teriak Randika tanpa berbalik.


Spontan karena teriakan Randika yang begitu keras, Claudia Minora dan Grassy pun terkejut dengan mata yang hampir keluar. Ketiga pelayan itu bahkan tidak berani bergerak hanya diam di tempat. Nada suara Tuannya saat marah sangat menyeramkan. Meski ada sedikit moment lucu di mana Tuan muda mereka ternyata bisa mengungkapkan perasaannya tanpa malu-malu.

__ADS_1


"Kau berakting dengan sangat baik Randika. Tapi ada apa dengan benda kecil di dalam tubuhmu ini, Kenapa sepertinya hatimu tidak rela jika Rilan adalah orang yang di pilih Arumi," batin Randika mengelus dadanya yang entah kenapa sedikit merasa sakit.


"Apa aku benar-benar sudah menyukainya?" ujar Randika dengan tatapan menerawang. "Tidak, lakukan sesuai rencana awal. Jangan goyah Randika. Tugasmu hanya membuat dia menyukaimu bukan malah kau yang jatuh cinta."


Randika memejamkan kedua matanya bersandar pada sofa besar berwarna Navi yang dipilih sesuai dengan warna dari karpet serta dinding pada kamarnya. Mungkin dengan melakukan ini sebagian hatinya yang sedang bimbang ini bisa kembali normal lagi. Namun belum sampai sepuluh menit dia memejamkan mata, suara yang sangat tidak asing sudah mengusiknya dari luar sana.


"Bagaimana perasaanku bisa normal jika terus saja menggangguku Arumi." Dia pun bergegas untuk membuka pintu. Jika tidak gadis keras kepala itu akan terus meneriakinya.


"Randika buka pintunya."


Tok ... tok ... tok ...


"Randika! buka!" teriak Arumi semakin keras.


"Ada apa lagi," decak Randika membuang muka.

__ADS_1


__ADS_2